M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi perempuan bergaun kuning (Unsplash/Filip Kvasnak)
Tika Maya Sari

"Tidakkah engkau tahu bahwa manusia adalah iblis itu sendiri?” Sosok berwajah mengerikan itu tersenyum miring, mengejek. “Sudahlah mudah diperdaya, bodoh pula!”

Siang itu Mbak Ridha sedang istirahat setelah selesai beres-beres rumah. Nyapu, ngepel, nyuci, masak, sampai pekerjaan-pekerjaan rumah yang lain. Anak-anaknya sedang pergi sekolah, dan suaminya pergi bekerja. Mbak Ridha kemudian menemukan tutorial masker handmade dari youtube.

“Coba aja kali ya?” gumamnya seraya mulai mengikuti tutorial.

Setelah mencampurkan kopi bubuk, gula pasir, susu, dan madu, Mbak Ridha lantas mengusapkannya ke wajah, lengan, hingga kaki. Sembari mengistirahatkan badan di atas dipan bambu di teras belakang rumah setelah berperang dengan kesibukan beres-beres. Pandangannya beredar, mencoba menikmati simfoni alam di mana burung-burung berkicau dan beterbangan, serta tupai-tupai tampak mengerumuni buah jambu yang masak.

Pandangannya lalu bergeser ke pohon pepaya dan kelor yang baru saja dipangkas. Menyisakan dahan-dahan kecil dan seekor ular bertubuh panjang. 

“Ulo?!” 

Mbak Ridha menajamkan pandangan dan jelaslah keberadaan reptil tersebut. Panjangnya mungkin lebih dari satu meteran, dan tubuhnya sebesar lengan anak-anak. Ular itu berada di atas bekas pangkasan pohon pepaya dan kelor, dengan badan berwarna kelabu. Namun yang paling salah adalah, bagian kepalanya berwarna hitam pekat dengan sisik licin memantulkan cahaya matahari dan menyerupai kepala ikan lele. Lengkap dengan kumis alias jamang, dan mulut membuka menutup sebanyak tiga kali.

Kepala ular tersebut terangkat seolah bersikap siaga, sebagaimana postur tubuh ular kobra. Namun, kepalanya tidak berbentuk sendok, betul-betul kepala ikan lele yang hitam pekat.

“Ular apa jejadian?” Mbak Ridha lalu mengingat beberapa podcast tentang pengalaman petualang yang bertemu ular jejadian. “Siluman kah?”

Tanpa rasa takut, Mbak Ridha melemparkan kerikil ke arah ular tersebut. Tetapi selanjutnya, rasa kaget menyergap. Kepala ular yang menyerupai kepala ikan lele tersebut bertukar menjadi kepala ular kayu, tapi tidak menjulurkan lidah sama sekali. Sepersekian waktu kemudian, wujudnya menghilang, bertukar menjadi sosok wanita tua yang berdiri dengan wajah hancur.

Wanita itu berwajah keras, tua, dan penuh luka dengan mata melotot dan kulit gelap menakutkan seperti bekas terbakar. Hidung wanita itu tampak peyok, bengkok, dengan wujud tulang yang tidak lazim. Rambut sepanjang lututnya awut-awutan, sedikit keriting berantakan, berwarna campuran antara hitam dan uban, dengan busana kotor nan berantakan sebagaimana karung goni. Busananya amat sederhana, dengan benang jahitan yang tidak rapi seolah asal jadi. Penampilannya begitu kumal nan dekil. Namun, ada asap hitam yang membumbung dari ubun-ubunnya.

“Aku tidak mengganggu engkau, jadi jangan ganggu aku,” tutur Mbak Ridha tenang. Walau sejatinya dia ngeri dengan penampakan wanita itu. “Pergilah dari sini.”

Wanita itu tetap bergeming, dengan mata yang kian melotot lagi nyaris keluar. Ekspresi wajahnya mengeras, yang kian menambah kengerian sosoknya.

Mbak Ridha tahu bahwa sosok di depannya bukanlah manusia, tetapi entitas lain yang sedang usil. Kendati rumor yang beredar adalah ada pocong di pekarangan rumahnya. Apakah ada pendatang baru? Atau mungkin, ada yang berniat buruk kepadanya sehingga menyuruh sosok ini untuk datang kemari?

“Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku tidak mau diganggu. Kembali saja ke duniamu, atau pada orang yang menyuruhmu kesini. Aku tidak pernah mencelakai orang.”

Sosok itu tetap bergeming. Diam, mengamati dengan mata hampir coplok. Angin bertiup menggoyangkan pakaian karung goninya yang kumal.

“Kamu kok malah melotot? Mau kutempeleng apa?!”

Mbak Ridha jadi kehabisan kesabaran. Dia lalu mengambil air dalam ember dan bersiap menyiram sosok tersebut. Ah, atau dilempari garam saja. Konon jejadian takut kalau dilempari garam.

Namun sebelum Mbak Ridha mengeksekusi isi otaknya, sosok tersebut telah lenyap tak bersisa. Tiada bekas, tiada jejak. Pun keberadaan ular aneh tadi lenyap tanpa petunjuk apapun. Menciptakan kesan misteri yang tidak terpecahkan.

Mbak Ridha menghela napas panjang, kemudian membuka mata dan menyadari bahwa dia sedang berada di teras belakang. Pandangannya mengarah pada pohon pepaya dan kelor yang baru saja ditebang kemarin karena sudah terlalu besar. Namun kenyataan menyentak, bahwa tidak ada makhluk apapun disana kecuali beberapa burung beterbangan.

“Siapa yang setan sebenarnya? Jejadian, atau manusia itu sendiri?” gumam Mbak Ridha tidak habis pikir.

Setelahnya, Mbak Ridha mencuci muka dan membersihkan sisa-sisa masker kopi. Sebelum kembali mengawasi sekitar, siapa tahu ada reptil-reptil jelmaan lain lagi, kendati dia tahu yang tadi hanya sebatas bunga tidur.

Hingga sayup-sayup suara minta tolong terdengar. Mbak Ridha segera berlari keluar dan mendapati para tetangga sedang berkumpul di rumah Paklek No, rumah kedua di timur pertigaan. di mana Mbah Darmi menangis histeris seraya minta tolong, karena putranya yaitu Paklek No dan Bulek Yamin gantung diri di dapur.

Tidakkah engkau tahu bahwa manusia adalah sosok iblis itu sendiri? Sudahlah mudah diperdaya, bodoh pula!”

Mbak Ridha menoleh ke arah pertigaan di mana bayangan sosok wanita berwajah hancur dalam mimpinya tadi terakhir terlihat.