M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Hantu Penunggu Sumur (Gemini AI/Nanno Banana)
Ukhro Wiyah

Kesulitan mencari rumah sesuai dengan budget mereka yang cukup terbatas, ayah dan ibu Ainun terpaksa bersedia membeli rumah tua yang harganya lebih terjangkau.

Kurang lebih sudah satu bulan sejak keluarga mereka pindah ke rumah tersebut. Awalnya, semua tenang-tenang saja. Tapi, dua minggu terakhir ini, keanehan demi keanehan mulai terjadi. Mulai dari lampu kamar mandi yang mati-nyala sendiri, barang yang tiba-tiba jatuh dan berpindah tempat, hingga suara-suara aneh yang terdengar hampir setiap tengah malam.

Malam itu, Ainun yang terbangun karena ingin buang air kecil, terpaksa memberanikan dirinya pergi ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah—dekat sebuah sumur tua tertutup yang memang sudah ada sejak dulu.

Kriet ... krieeet ... krieeet ...

Belum selesai dengan urusannya di kamar mandi, suara itu kembali terdengar—persis seperti malam-malam sebelumnya. Memang bukan suara yang asing bagi Ainun. Ia sering mendengar suara yang sama saat masih tinggal di rumah kakeknya dulu. Dan biasanya, suara itu terdengar saat ada yang menimba air di sumur.

Tapi ..., yang membuat ia merinding adalah sumur itu sudah ditutup. Peralatan yang bisa digunakan untuk menimba air pun sudah dibongkar. Artinya, tidak mungkin bisa digunakan, kecuali jika dipasang lagi peralatannya. Lagipula ..., siapa yang menimba air tengah malam begini?

Bulu kuduk Ainun meremang. Dengan sedikit tergesa, ia menyelesaikan hajatnya dan keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, tatapan Ainun spontan tertuju pada sumur tua itu. Suaranya masih terdengar jelas. Lalu samar-samar ... Ainun melihat sesuatu menyembul dari dalam sumur.

Perlahan ... naik ke atas. Tubuh Ainun membeku, napasnya tercekat. Ingin berteriak, tapi suaranya sama sekali tak bisa keluar. Matanya terbelalak melihat sosok yang begitu mengerikan melayang di atas sumur.

Sosok itu mengenakan gaun putih yang membungkus seluruh tubuhnya. Badan dan kakinya tak terlihat—hanya kepala dengan rambut panjang yang menutup hampir seluruh wajah. Dari tempatnya berdiri, Ainun bisa melihat sosok itu menyeringai menatap dirinya. Lalu pelan-pelan, sosok itu menjulurkan tangannya yang terus memanjang ... lebih panjang lagi ... hingga nyaris mencapai tubuh Ainun yang berjarak hampir tiga meter dari sumur.

Kini, tangan panjang sosok tersebut tepat berada di depan matanya, bersamaan dengan suara tawa melengking membelah malam. Pandangan Ainun berubah gelap. Ia terjatuh pingsan di depan kamar mandi rumahnya sendiri.

***

Saat terbangun, Ainun sudah berada di dalam kamar. Di samping kanannya ada ibu dan ayah yang menatapnya khawatir. Melihat putri mereka tersadar, keduanya langsung memeluk Ainun. Lalu dengan suara yang masih sedikit bergetar, Ainun menceritakan semua yang dia lihat pada orang tuanya.

Ayah Ainun terdiam cukup lama. Sementara sang ibu beberapa kali mengusap lengan Ainun, berusaha menenangkan putrinya meski wajahnya sendiri tampak pucat.

“Mungkin itu cuma mimpi kamu aja, Nak.” ucap ibunya pelan, walau nada suaranya terdengar tidak yakin.

Ainun menggeleng cepat. “Bukan mimpi, Bu. Ainun yakin lihat hantu tadi malam. Dia keluar dari sumur itu.”

Ayah Ainun lantas bangkit untuk memeriksa sumur. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul empat subuh, langit masih gelap. Dengan membawa senter, ia keluar seorang diri. Ibu Ainun dan Ainun hanya bisa menunggu di kamar dengan jantung berdebar.

Beberapa menit kemudian ayah kembali. Wajahnya berubah tegang. “Bu, sepertinya memang bukan mimpi. Ada bekas lumpur basah di depan kamar mandi,” katanya lirih.

Ibu Ainun langsung menatap suaminya. “Lumpur?”

Ayah mengangguk. “Lumpur itu ... bentuknya kayak jejak kaki, dari arah sumur.”

Sejak hari itu mereka tak bisa lagi tidur dengan tenang. Sebelumnya gangguan memang ada, tetapi hanya berupa suara-suara aneh yang bisa diabaikan. Namun kali ini sosok itu sudah mulai menampakkan wujudnya.

Rumah tak lagi terasa nyaman. Suara orang menarik kerekan sumur terus terdengar setiap tengah malam. Suara tawanya yang melengking juga kerap kali mereka dengar. Dan Ainun ... tak lagi berani pergi ke kamar mandi sendirian malam-malam.

Ayah Ainun sebenarnya sudah beberapa kali berniat membongkar tutup sumur lalu menimbunnya dengan semen. Namun entah kenapa, setiap kali rencana itu hendak dilakukan, selalu ada saja halangan.

Pernah suatu pagi dua tukang yang diminta datang mendadak batal karena salah satunya jatuh dari motor. Pernah juga semen yang dibeli mendadak mengeras sebelum dipakai.

Puncaknya terjadi tiga hari kemudian. Sekitar pukul dua belas malam, seluruh listrik rumah mendadak padam.

Rumah gelap gulita. Ibu Ainun berusaha menenangkan putra keduanya yang terus menangis, sementara ayah segera menyalakan senter.

Belum sempat lampu senter diarahkan ke mana-mana, suara yang sangat mereka kenal kembali terdengar.

Kriet ... krieeet ... krieeet ...

Namun kali ini bukan dari belakang rumah. Suara itu terdengar ... dari lorong dalam rumah. Seperti ada seseorang yang sedang menimba air sambil berjalan mendekat.

Kriet ... Krieeet ... Kriet ...

Pelan. Semakin dekat. Semua tubuh keluarga Ainun menegang. Cahaya senter ayah bergerak gemetar menyapu ruang tamu yang kosong. Lalu berhenti tepat di lantai.

Jejak air berlumpur itu muncul lagi membentuk sebuah kaki yang ukurannya cukup panjang—tidak seperti manusia normal.

Jejak itu bermula dari pintu belakang ... dan berhenti tepat di depan kamar Ainun. Ainun yang saat itu sudah terbangun dan bersama ibunya, spontan langsung memeluk sang ibu yang juga sedang menggendong Nabil, adiknya.

Ayah mundur perlahan. Senter di tangan kanannya ia arahkan menuju ke pintu kamar Ainun. Saat itulah, mereka semua melihat ujung jari yang mencengkeram kusen pintu dengan begitu erat. Jari-jari itu tampak panjang ... bukan seperti ukuran manusia normal pada umumnya. Lalu kukunya yang runcing menancap di pintu yang terbuat dari kayu jati itu.

Sementara dari luar, mereka bisa melihat saklar lampu di kamar Ainun seolah sedang dimainkan seseorang. Mati ... nyala ... mati ... nyala lagi. Dan begitu seterusnya.

"Kita keluar sekarang juga." Ayah meraih kunci mobil di atas meja televisi.

Mereka berempat bergegas pergi dari rumah itu dan menginap di rumah paman Ainun yang jaraknya tak begitu jauh. Keesokan harinya, baru keluarga kecil ini kembali ke rumah tua tersebut untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal.

Beberapa bulan kemudian, rumah tua itu akhirnya dijual kembali dengan harga jauh lebih murah. Dan sampai sekarang, Ainun tak pernah tahu apa sebenarnya yang menunggu di dalam sumur tua tersebut. Yang ia tahu, setiap kali mengingat suara kerekan sumur di tengah malam, tubuhnya masih gemetar.

Sebab sebelum mereka meninggalkan rumah itu, Ainun sempat buang air kecil di kamar mandi belakang. Setelahnya, ia melihat papan penutup sumur terbuka sedikit. Dari celah gelapnya ..., ada sepasang mata memandang lurus ke arahnya.