Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Bus 303 (Gemini AI/Nanno Banana)
Ukhro Wiyah

Karno baru saja tiba di rumah orang tuanya saat ponselnya berdering. Nama Pak Halim, bosnya, muncul di layar. Dengan napas masih tersengal sehabis perjalanan, ia segera mengangkat.

“Karno, kamu bisa balik lagi? Pak Jono yang narik malam ini mendadak izin sakit. Kamu gantikan dia, bisa, ya?”

Karno menoleh ke arah ibunya yang sedang menyiapkan air minum. Baru saja ia hendak beristirahat setelah seharian bekerja, kini panggilan tugas datang lagi. Mau tak mau, ia menyanggupi.

Malam itu tepat malam satu suro, malam yang oleh orang-orang Jawa dianggap keramat. Banyak yang percaya, pada malam tersebut makhluk tak kasatmata bebas berkeliaran. Di kampung Karno sendiri, orang-orang tua selalu melarang anak cucunya keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak.

“Mau ke mana, Le? Ini malam satu suro. Jangan keluar dulu,” seru Laksmi, ibunya, saat melihat Karno kembali mengenakan jaket.

“Ada panggilan, Mak. Karno disuruh gantiin sopir yang sakit.”

Laksmi mendekat dengan wajah cemas. “Apa nggak bisa besok saja? Hati Emak nggak enak.”

Karno tersenyum menenangkan. “Karno nggak bisa nolak. Sudah ada penumpang yang nunggu. Emak doain saja semoga Karno selamat.”

Ia mencium tangan ibunya, lalu bergegas pergi dengan motor bututnya. Suara mesin menjauh menembus dinginnya senja, meninggalkan Laksmi yang hanya bisa menatap dengan dada sesak. Setelah mengunci pintu, perempuan itu mengenakan mukena dan mulai berdoa dengan bibir gemetar.

***

Karno tiba di terminal tepat waktu. Bus 303 yang akan dikemudikannya sudah menunggu dengan lampu depan menyala temaram. Cat putihnya kusam, sementara bodi sampingnya dipenuhi goresan usia. Meski begitu, mesin bus masih terdengar gagah saat dinyalakan.

Satu per satu penumpang naik. Hanya tujuh orang malam itu—seorang ibu membawa tas anyaman, dua lelaki muda, pasangan suami istri tua, dan dua penumpang lain yang duduk di kursi belakang tanpa banyak bicara.

Perjalanan terasa normal seperti biasanya. Bus melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu toko perlahan menghilang berganti deretan rumah penduduk yang gelap. Sesekali Karno melirik kaca spion, memastikan para penumpang baik-baik saja.

Sekitar pukul setengah dua belas malam, ia memutuskan berhenti sejenak di sebuah pom bensin untuk mengisi solar sekaligus memberi kesempatan penumpang ke toilet. Karno sendiri turun membeli kopi hitam di warung kecil dekat pom. Angin malam terasa aneh—lebih dingin dari biasanya.

Lima belas menit kemudian, semua kembali naik dan bus pun berangkat.

Namun baru beberapa meter meninggalkan pom bensin, Karno merasa ada yang janggal. Ia melirik spion. Dadanya seketika menegang.

Kursi yang tadi hanya terisi tujuh orang kini nyaris penuh. Baris belakang dipadati penumpang dengan posisi duduk tegak dan diam. Tidak ada suara obrolan. Tidak ada bunyi ponsel. Tidak ada batuk atau helaan napas. Hanya sunyi. Padahal Karno yakin, selama berhenti tadi ia tidak melihat satu pun orang naik ke bus.

"Mungkin aku nggak sadar," pikirnya, berusaha menenangkan diri. Ia menggenggam stir lebih erat.

Sepuluh menit berlalu. Tiba-tiba hawa dingin menyapu tengkuknya, seperti embusan napas seseorang dari kursi belakang. Karno menoleh cepat, tetapi tak ada siapa-siapa di dekatnya. Saat kembali menatap spion, tenggorokannya tercekat.

Wajah semua penumpang terlihat pucat pasi. Sebagian menunduk. Sebagian lagi menatap lurus ke depan dengan mata kosong.

Karno mulai panik. Ia mencoba fokus pada jalan, tetapi pemandangan di depan membuat darahnya serasa berhenti mengalir.

Jalan yang dilaluinya bukan lagi rute menuju kota tujuan. Di kiri kanan hanya ada pepohonan lebat menjulang hitam. Kabut tipis menggantung rendah menutupi aspal. Padahal seingatnya, jalur Bus 303 tidak melewati hutan.

“Kok ... bisa di sini?” gumamnya dengan suara bergetar.

Ia mencoba memutar stir ke arah lain, tetapi bus seolah bergerak sendiri mengikuti jalanan yang semakin gelap.

Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Dengan jantung menghantam dada, Karno kembali melihat kaca spion. Penumpang mulai berkurang.

Satu kursi kosong. Lalu dua ..., tiga ..., lima. 

Padahal bus sama sekali tidak berhenti. Tak ada pintu yang terbuka. Tak ada suara langkah turun. Mereka hilang begitu saja.

Napas Karno memburu. Tangannya gemetar hebat. Ingin rasanya ia berteriak, tetapi tenggorokannya seperti terkunci. 

Hingga akhirnya, seluruh kursi penumpang kosong. Bus hanya berisi dirinya seorang. Di kejauhan, tampak cahaya lampu minyak dari sebuah gubuk reyot di pinggir jalan. Karno spontan menginjak rem.

Ciiittt!

Bus berhenti mendadak. Dan pada saat itulah terdengar suara bersahut-sahutan dari belakang. "Te ... ri ... ma ... ka ... sih ...,"

Suara itu lirih, panjang, dan bercampur tawa cekikikan. Karno menoleh. Kosong. Namun bau tanah basah dan anyir memenuhi seluruh kabin. Pandangan Karno mendadak berkunang-kunang. Dunia terasa berputar. Ia menjerit sebelum akhirnya tubuhnya roboh tak sadarkan diri di balik kemudi.

***

Saat Karno membuka mata, hari sudah menjelang subuh. Ia terbaring di lantai gubuk kecil dengan tubuh dibalut sarung. Seorang kakek tua duduk di sampingnya sambil menyeruput kopi.

“Syukurlah, kamu sadar,” ujar kakek itu.

Karno bangkit dengan kepala pening. “Saya ... saya di mana? Bus saya?”

“Busmu masih di depan. Semalam saya lihat berhenti sendiri. Kamu pingsan di dalam.”

Karno menelan ludah. “Itu jalan apa, Mbah? Saya tersesat.”

Kakek tua itu menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Nak, ini bukan jalur umum. Ini bekas jalan menuju kuburan massal korban kecelakaan Bus 303 dua puluh tahun lalu.”

Kakek itu melanjutkan, “Dulu, tepat malam satu suro, Bus 303 masuk jurang di hutan ini. Semua penumpangnya tewas. Sejak saat itu, kadang-kadang bus yang melintas malam satu suro suka ‘dimintai tumpangan’.”

Darah Karno serasa membeku. Ingatan pemuda itu melesat pada wajah-wajah pucat di kaca spion. Dengan gemetar ia menoleh ke arah bus. Napasnya sontak tercekat. Di kaca belakang Bus 303, penuh bekas telapak tangan basah yang menempel dari dalam. Warna jejak telapak tangan itu ... merah dan sedikit bercampur dengan tanah.

“Matur nuwun, Le ... sudah mengantar kami pulang.”

Kakek itu tersenyum tipis.

“Saya dan anak-anak saya sudah lama menunggu bus ini lewat lagi.”

Kalimat terakhir yang diucapkan pria tua di hadapannya membuat Karno merinding. Dengan langkah gemetar, ia bangkit dan beranjak dari gubuk sang kakek—tanpa peduli kepalanya yang masih terasa sedikit pening. Ia segera masuk ke balik kemudi dan membawa busnya menjauh dari tempat itu secepat yang ia bisa.