Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Pendidikan (Magnific.com/freepik)
Ukhro Wiyah

Tanggal 2 Mei datang lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ucapan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mulai memenuhi linimasa media sosial. Sekolah-sekolah bersiap menggelar upacara, berbagai instansi memasang poster peringatan, pidato tentang pentingnya pendidikan kembali disampaikan, dan sejumlah perlombaan ikut memeriahkan suasana.

Di tengah semua perayaannya yang dilakukan secara rutin tiap tahun, ada pertanyaan yang cukup mengusik diri saya: benarkah pendidikan kita sedang baik-baik saja?

Tahun 2026 ini, peringatan Hardiknas mengangkat tema semangat pendidikan bermutu untuk semua. Sebuah frasa yang kedengarannya begitu indah dan menenangkan di telinga, seolah pendidikan di negara kita memang bergerak ke arah yang tepat dan menjanjikan.

Sayangnya, jika sekali saja kita mencoba melihat lebih dekat, semakin sulit rasanya untuk merasa sepenuhnya tenang. Berbagai dukungan dari pemerintah memang datang dalam bentuk beragam. Ada beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga yang terbaru Sekolah Rakyat.

Tetapi, mari kita renungkan bersama satu pertanyaan ini: sudahkah semua itu benar-benar menyentuh akar persoalan pendidikan kita yang sebenarnya?

Akhir-akhir ini, media sosial justru dipenuhi dengan berbagai kabar yang mengundang keprihatinan. Mulai dari bangunan dapur MBG yang jauh lebih mewah dari sekolah, pengalihan fungsi sebagian gedung sekolah menjadi koperasi desa merah putih, nasib guru honorer yang jasanya seolah terus dipinggirkan, hingga wacana penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Berita-berita tersebut datang dari isu yang berbeda. Namun, memiliki satu kesamaan: semuanya menunjukkan bahwa memang ada sesuatu yang belum benar-benar beres dalam sistem pendidikan di negara kita.

“Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa.” Sebuah kalimat yang hampir selalu terdengar dalam setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional. Seolah semua pihak sepakat bahwa pendidikan adalah pondasi utama untuk membangun negara yang lebih baik.

Namun, jika benar pendidikan itu adalah pondasi, mengapa hingga kini begitu banyak persoalan mendasar yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian yang benar-benar menenangkan?

Kita masih menjumpai sekolah-sekolah dengan kondisi gedung dan fasilitas jauh dari kata layak. Bahkan pada awal 2026, data Kemendikdasmen mencatat ada lebih dari seribu sekolah berada dalam kondisi rusak berat dan ratusan lainnya rusak total.

Persoalan lain yang menjadi perhatian: guru honorer yang harus bertahan dengan penghasilan minim meski memikul tanggung jawab besar. Insentif guru non-ASN yang tahun ini dinaikkan menjadi Rp 400.000 per bulan memang menunjukkan adanya perhatian, tetapi nominal tersebut tetap membuat kita bertanya: cukupkah penghargaan sebesar itu untuk mereka yang memegang peran penting dalam mencerdaskan generasi bangsa?

Belum lagi kebijakan-kebijakan baru yang kadang terdengar ambisius, tetapi memunculkan tanda tanya: apakah pendidikan sedang dibenahi, atau hanya sedang diarahkan agar menyesuaikan kebutuhan program-program lain?

Ironisnya lagi, persoalan seperti ini sebenarnya bukan hal baru di negeri ini. Ketimpangan akses, kualitas pengajaran belum merata, kesejahteraan tenaga pendidik, hingga mahalnya biaya untuk menempuh pendidikan tinggi sudah menjadi pembicaraan bertahun-tahun. Namun, solusi yang diberikan seolah belum mampu menyelesaikan semua persoalan.

Di situasi seperti ini, rasanya sangat wajar jika masyarakat merasa cukup resah. Tidak heran jika di media sosial, setiap isu tentang kesejahteraan guru atau fasilitas sekolah selalu memancing gelombang komentar sinis dan kecewa dari masyarakat. Banyak yang mulai merasa bahwa perhatian terhadap pendidikan sering kalah nyaring dibanding program-program lain yang lebih mudah dipamerkan hasilnya.

Hari ini, perayaan Hardiknas seolah hanya bagaikan formalitas dan rutinitas yang dijalankan tanpa benar-benar melakukan evaluasi mendalam pada kebijakan pendidikan juga fakta di lapangan.

Padahal, Hardiknas seharusnya tidak hanya menjadi hari untuk mengucapkan selamat, tetapi juga hari untuk bercermin: sudahkah pendidikan benar-benar ditempatkan sebagai prioritas, atau hanya menjadi slogan yang indah didengar setiap awal Mei?

Sebab selama sekolah yang layak belum merata, kesejahteraan guru belum benar-benar terjamin, dan biaya pendidikan masih menjadi kecemasan banyak keluarga, maka kekhawatiran itu akan terus ada. Dan selama itu pula, Hardiknas akan selalu terasa sebagai perayaan yang belum sepenuhnya selesai.

Pendidikan bukan hanya soal gedung, kurikulum, atau program pemerintah. Tetapi juga tentang anak-anak yang ingin belajar dengan tenang, guru yang ingin dihargai dengan layak, dan orang tua yang tidak terus-menerus cemas memikirkan biaya sekolah.