Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, film KKN di Desa Penari pada akhirnya mampu berkibar dan merajai box office perfilman dalam negeri. Setelah berhasil menuai satu juta penonton di hari ketiga penayangan dan berlipat ganda di hari keenam, kini, film yang mengangkat pengalaman para mahasiswa yang melaksanakan program KKN di sebuah desa nan penuh dengan aroma mistis tersebut berhasil meraup tiga juta lebih penonton di hari kesembilan penayangan.
Disadur darl Twitter resmi sang sutradara, Awi Suryadi, melalui akunnya, @awisuryadi, penggarap film yang menjadi komoditi panas bagi dunia perfilman Indonesia ini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para penonton karena akhirnya film garapannya berhasil menembus angka 3 juta penonton. Sebuah hasil yang memang diharapkan sebelumnya, namun untuk pencapaiannya sendiri berada di luar batas perhitungannya karena terjadi dalam waktu yang singkat.
Dengan angka penonton mencapai 3.013.079 pasang mata, maka kini film yang mengangkat tentang kisah Nur (Tissa Biani), Widya ( Adinda Thomas), Ayu (Aghniny Haque), Bima (Achmad Megantara), Anton (Calvin Jeremy) dan Wahyu (M Fajar Nugraha) tersebut dapat dikatakan sudah sah menjadi film Indonesia terlaris tahun 2022. Pasalnya, dengan tiga juta lebih penonton yang mereka dapat, angka tersebut sudah jauh melampaui perolehan penonton dari film Kukira Kau Rumah yang dirilis pada awal tahun 2022 ini.
Disadur dari laman filmindonesia, film Kukira Kau Rumah yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina dan mengangkat tentang isu Kesehatan mental tersebut mendapatkan jumlah penonton sebanyak 2.220.180 pasang mata, dan bertahan hingga sepertiga pertama bulan Mei 2022 ini. Dan dengan konfirmasi resmi dari pihak film KKN di Desa Penari, maka secara resmi mereka harus tergeser dari posisi pemuncak sebagai film Indonesia terlaris tahun 2022 ini.
Sebuah pencapaian yang harus diapresiasi memang. Karena semenjak pandemi covid-19 melanda, jarang sekali ada film produksi sineas dalam negeri yang mampu menembus angka satu juta penonton. Untuk tahun 2022 ini saja hanya ada 2 film yang mampu menembus angka di atas satu juta penonton, yakni Kukira Kau Rumah, dan disusul dengan film KKN di Desa Penari. Sebagai perbandingan, film Dear Nathan: Thank You Salma yang berada di peringkat ketiga, selama penayangan di bioskop hanya mampu meraih jumlah penonton sebanyak 754.744 pasang mata saja.
Jika kita melihat kondisi saat ini, akan sangat sulit untuk menggeser capaian penonton dari film KKN di Desa Penari sebagai film terlaris di tahun 2022 ini. Bagaimana tidak, selain harus mampu memberikan sebuah film yang berkualitas, taktik dan strategi yang tepat juga diperlukan untuk menjaga animo dan menggugah rasa penasaran penonton di Indonesia, sehingga memiliki minat untuk menonton film yang diproduksi.
Tag
Baca Juga
-
Selaku Bapak-Bapak yang Kerap PP Rembang-Tuban, Saya Menaruh Kejengkelan terhadap Hal-Hal Ini!
-
Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
Artikel Terkait
Entertainment
-
Dunia Koas yang Mencekam: Mengapa Gudang Merica Jadi Film Horor Paling Ditunggu di 2026?
-
Sinopsis Nameless, Film Action Thriller Jepang yang Dibintangi Jiro Sato
-
Usung Aksi Mecha Epik, Anime Vertex Force Umumkan Tayang Oktober 2026
-
BabyMonster Ekspresikan Kebebasan Diri Tanpa Batas di Lagu Terbaru, Choom
-
Belum Rilis, Pihak Produksi Lanjut Syuting Musim Kedua Serial Harry Potter
Terkini
-
Obral Izin Masuk Berujung Bencana: Ketika Bandar Judi Internasional Menyamar Jadi Wisatawan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Wajah Glowing Instan! Ini Rahasia Eksfoliasi Lembut dengan Ekstrak Apel
-
Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP