Mengantarkan murid yang dibinanya menjadi juara lomba adalah sebuah prestise tersendiri bagi seorang guru pembimbing. Pun demikian halnya ketika menjadi juri sebuah perlombaan. Namun, ketika menjadi seorang guru pembimbing sekaligus juri lomba di cabang yang sama, justru membuat saya terperangkap dalam sebuah dilema dan menempatkan saya dalam posisi yang serba salah.
Sebagai seorang guru, tentunya akan menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika kita ditunjuk untuk membimbing siswa dalam menghadapi lomba. Segala daya dan kemampuan sudah pasti akan kita berikan demi tercapainya satu tujuan, yakni membuat siswa kita menjadi yang terbaik di lomba yang diikuti.
Namun ketika di saat yang bersamaan harus merangkap tugas sebagai juri, sebuah permasalahan pelik yang melibatkan sudut pandang orang lain dan penilaian kredibilitas justru akan mengemuka, alih-alih mendapatkan prestige berganda.
Hal ini pula yang dulu beberapa kali saya alami ketika harus merangkap peran sebagai guru pembimbing dan sekaligus juri lomba siswa tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Meskipun kejadian ini sudah berlangsung beberapa tahun, bayangan dilema yang saya alami saat itu masih saja terus membekas. Bagaimana tidak, ibarat meminjam judul film dari Warkop DKI, menjadi guru pembimbing sekaligus juri di waktu yang bersamaan tak ubahnya frasa "Maju Kena Mundur Kena". Jadi serba salah.
Ketika mendapatkan tugas dari kepala sekolah untuk membimbing siswa untuk menghadapi lomba, saya begitu antusias menerimanya. Bukan hanya membimbing ketika jam dinas masih berjalan, saya bahkan mengalokasikan waktu khusus di luar jam kerja untuk membimbing siswa yang diproyeksikan untuk lomba.
Bayangan kejayaan di lomba tingkat kecamatan maupun kabupaten (jika berhasil menang), yang juga sekaligus mengangkat nama sekolah (dan guru pembimbing pada khususnya), membuat saya begitu terpacu untuk mengantarkan perwakilan sekolah saya untuk menjadi yang terbaik di tangga kejuaraan.
Namun sayangnya, semua angan-angan saya untuk mengantarkan murid yang saya bimbing menuju kejayaan itu pada akhirnya berubah menjadi sebuah dilema, ketika saya juga ditunjuk untuk menjadi salah satu juri di lomba tingkat kecamatan.
Di saat yang bersamaan, prestise untuk mengantarkan siswa saya menjadi yang terbaik dan kebanggaan menjadi juri lomba yang tidak semua guru bisa melakukannya, berbalut dilema besar dan menempatkan saya di posisi yang "sudah pasti kalah bahkan sebelum lomba dimulai sekalipun".
Bagaimana tidak, prestasi apa pun yang nantinya didapatkan oleh peserta didik saya, semuanya sudah pasti akan mendapatkan label negatif di mata orang lain. Baik nantinya jika murid yang saya bimbing mendapatkan juara, ataupun ketika nantinya gagal di perlombaan, semuanya akan membuat saya di posisi yang sangat tidak tepat.
Maju Kena, Mundur Kena dan Sudah Pasti Kalah Sebelum Perlombaan Dimulai
Gambarannya begini, sebagai guru pembimbing dan sekaligus juri di cabang lomba yang sama akan membuat capaian siswa yang saya bimbing tak akan memiliki makna dalam pandangan orang lain.
Jikapun nantinya mendapatkan kemenangan di perlombaan, maka sudah tentu pandangan orang akan menghubungkan kemenangan yang diraih oleh siswa saya itu dengan posisi saya sebagai juri lomba.
Kalimat-kalimat pemakluman subjektif seperti "Ah, pantas saja menang, gurunya saja jadi juri, kok. Ya wajar saja," sudah pasti akan muncul, tanpa mereka melihat bagaimana kemampuan sebenarnya dari siswa yang saya bimbing itu.
Sudah pasti pula, di mata mereka, kemenangan yang didapatkan oleh murid yang saya bimbing tak lebih dari giveaway dari saya selaku guru pembimbing sekaligus juri di perlombaan tersebut.
Pun demikian halnya ketika murid yang saya bimbing harus menuai kegagalan di perlombaan. Kalimat-kalimat negatif dan prasangka buruk pun tak akan lepas dari hasil tersebut.
Setidaknya, jika kejadian ini berlaku, kredibilitas saya pribadilah yang akan disasar untuk dikomentari.
Statement minor seperti "Kenapa harus dia yang jadi juri? Membimbing muridnya saya tidak bisa jadi juara. Bukankah lebih baik menjadi juri lain yang lebih berkompeten?" sudah pasti akan meluncur dan menyerang saya, bukan?
Sebuah posisi yang pastinya sangat tidak mengenakkan, dan selalu menempatkan saya di posisi yang salah karena peran ganda yang saya jalani di saat yang bersamaan.
Kini Saya Selalu Berusaha Memilih Jalan Tengah yang Lebih Aman
Belajar dari hal itu, pada akhirnya saya memutuskan untuk memilih jalan tengah saat ini. Ketika saya menjadi juri di tingkat kecamatan, maka cabang lomba yang saya pegang akan saya serahkan pembinaannya kepada guru lain, sehingga nantinya konflik kepentingan yang saya hadapi di hari perlombaan akan terminimalisir.
Begitu juga ketika masa persiapan dari lomba tingkat kecamatan ke tingkat kabupaten. Sekolah-sekolah dari para pemenang lomba tingkat kecamatan yang diproyeksikan untuk maju ke tingkatan yang lebih tinggi, biasanya akan mencari pembimbing yang dinilainya memiliki kompetensi memadai di bidangnya.
Dan karena saya beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk menjadi juri di tingkat kabupaten untuk lomba-lomba tertentu, saya dipandang memiliki kompetensi yang cukup baik dan menjadi salah satu rujukan untuk dimintai tolong membimbing.
Seperti kemarin, ketika masa persiapan lomba FLS3N tingkat Kabupaten Rembang, saya memutuskan untuk sama sekali tak membimbing pemenang lomba cabang menulis cerita pendek.
Alasannya? Tentu saja bukan karena saya malas atau sombong, tapi lebih karena saya jauh-jauh hari sudah ditunjuk untuk menjadi juri di cabang lomba tersebut, sehingga dikhawatirkan nantinya saya akan memiliki beban ketika menilai karya peserta ini.
Selain itu, dengan menolak untuk membimbing peserta di cabang lomba yang saya masuk sebagai tim juri, saya setidaknya menghindarkan diri saya dari konflik kepentingan, beban berat ketika penilaian, dan tentu saja bisa jauh lebih lepas ketika melakukan proses penjurian karya yang dihasilkan.
Siapa pun yang menang dalam perlombaan, benar-benar merupakan yang terbaik, bukan karena proses penjurian yang terbebani atau bahkan tendensi rasa tak enak hati karena kedekatan emosi.
Baca Juga
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
Artikel Terkait
Kolom
-
Buku Tak Terbeli, Nyawa Tergadai: Potret Buram Pendidikan Indonesia
-
Hak yang Dikhianati: Ketika Pendidikan Dibiarkan Jadi Privilege
-
Biaya Tak Tertulis Sekolah Gratis: Catatan Sunyi dari Meja Operator
-
Realita Perempuan di Media Sosial: Antara Eksistensi dan Tekanan
-
Ilusi Kuliah Murah: Jerat 'Hidden Expectation' di Balik Brosur Beasiswa
Terkini
-
Tes Jerez 2026: Reaksi Pembalap Positif, MotoGP Bakal Makin Kompetitif
-
Mengupas Lirik Jiwa yang Bersedih: Pelukan Hangat untuk Jiwa yang Lelah
-
Resmi! Gen V Batal Lanjut Season 3 dan Rampung di Season 2
-
Buku Sebelum Aku Tiada: Suara-Suara Kecil dari Tanah yang Terluka
-
Lentik & Kuat! 5 Maskara Lokal dengan Kandungan Serum