M. Reza Sulaiman | M. Fuad S.T.
Potret Kartini bersama suaminya, Raden Adipati Djojoadiningrat, Bupati Rembang circa tahun 1903 (dok. digitalcollections.universiteitleiden)
M. Fuad S.T.

Sepertimana yang telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun, tanggal 21 April 2026 kembali diperingati sebagai Hari Kartini. Bukan hanya memasang banner, lembaga-lembaga pemerintah, baik yang berada di pusat hingga daerah, mengisinya dengan beragam kegiatan yang menonjolkan feminitas untuk menghormati cita-cita dan gagasan dari pahlawan yang berasal dari Jepara itu. Namun sayangnya, di realitas lapangan, emansipasi yang selalu diperjuangkan oleh Kartini, kini justru kian melenceng dan kian kebablasan.

Pada hakikatnya, pokok perjuangan R.A. Kartini, seperti yang tertuang dalam kumpulan surat-suratnya di buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" adalah penentangan terhadap budaya patriarki yang sangat merugikan wanita. Terlahir dari keluarga Jawa, Kartini merasa kaum wanita tak mendapatkan kesempatan yang setara dengan laki-laki. 

Di semua bidang, kaum laki-laki mendapatkan penghormatan yang "wah", menjadi prioritas dan ditempatkan sebagai manusia kelas satu. Sementara kaum wanita, seperti halnya Kartini, selalu saja harus menempati ruang kelas kedua dan berada di bawah bayang-bayang gender sebelah.

Jangankan untuk berkarier, suara-suara yang mereka keluarkan pun sangat sulit untuk didengar dan hanya dianggap sebagai angin lalu saja. Sebuah hal yang tak mengherankan, karena di masa Kartini hidup saat itu, kaum wanita benar-benar tak memiliki posisi di mata laki-laki, apalagi sampai mendapatkan kesetaraan.

Mungkin, dalam hati kecil Kartini saat itu muncul uneg-uneg liar, dirinya yang berstatus sebagai bangsawan saja tak mendapatkan penghargaan yang layak dan posisi yang seimbangi, apalagi mereka, kaum wanita yang lahir dari rakyat kebanyakan? Tentunya mereka akan mendapatkan diskriminasi yang jauh lebih parah ketimbang yang dialami olehnya, bukan?

Pemikiran-pemikiran itu terus terpupuk, hingga pada akhirnya tertuang dalam coretan pena yang salah satunya dikirimkan kepada Rosa Manuela Abendanon, di mana pada intinya Kartini menginginkan pemberian kesempatan yang setara antara kaumnya, yakni kaum perempuan dengan kaum laki-laki.

Emansipasi: Buah Tulisan-tulisan Kartini

Meskipun tak sempat menyaksikan hasil dari buah pemikiran (dan tuntutannya) menjadi kenyataan, namun apa yang dilakukan oleh Kartini semasa hidupnya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan bernegara di Indonesia pada era modern ini.

Jika dulunya para lelaki adalah penguasa tunggal di berbagai sektor, namun tidak demikian halnya dengan kondisi saat ini. Di Indonesia masa kini, tak sedikit kaum wanita yang menduduki posisi penting di berbagai bidang. Bahkan, jabatan-jabatan tertinggi yang ada di negeri ini, seperti presiden, ketua DPR maupun MPR, juga dihiasi barisan kaum Kartini.

Sayangnya, emansipasi yang diharapkan oleh Kartini dulu kini mulai kebablasan di tataran akar rumput. Tentu saya tak menyoroti kesuksesan para wanita yang bisa menjadi bupati, gubernur, presiden, menteri, ketua DPR maupun MPR, namun saya justru concern dengan fenomena yang terjadi di khalayak kebanyakan.

Dulunya, Kartini ketika menggembar-gemborkan emansipasi bertujuan agar kaumnya bisa memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Dalam artian begini, ketika laki-laki punya kesempatan untuk bekerja, maka kaum wanita juga memiliki kesempatan itu.

Ketika laki-laki diperbolehkan belajar sampai tuntas bahkan hingga level tertinggi, Kartini juga berkeinginan agar kaumnya juga bisa mendapatkan hak akan hal itu. Jadi, emansipasi yang diharapkan oleh Kartini pada prinsipnya adalah keseimbangan kesempatan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam hal apa pun.

Namun yang terjadi belakangan justru malah banyak pihak wanita yang harus menjadi tumpuan utama untuk bertarung mengarungi kerasnya kehidupan.

Seperti misal, dalam tataran rumah tangga, kita mungkin sudah tak aneh lagi dengan fenomena seorang istri atau ibu yang bertransformasi sebagai tulang punggung utama. Meskipun mendapatkan stereotipe dan label sebagai makhluk yang lebih rapuh, dewasa ini kita sering mendapati bahwa banyak kaum wanita yang justru menjadi tonggak utama mengepulnya dapur keluarga.

Ironisnya, mereka menjadi tulang punggung bukan hanya di sektor-sektor pekerjaan yang "halus", namun juga sektor pekerjaan kasar yang menuntut kekuatan dan ketahanan fisik sebagai modal utama.

Di tengah realisasi gelora emansipasi yang dulu diperjuangkan oleh Kartini agar kaumnya mendapatkan kesempatan yang setara, kini justru melahirkan fenomena yang ironis, di mana kaum perempuan, tak jarang dipaksa untuk melampaui batas maksimal dari kodrat yang mereka bawa sedari lahir.

Eksploitasi Perempuan dalam Fenomena TKW

Secara kodrat, apa pun pekerjaan yang dimiliki oleh seorang wanita, mereka tetaplah sosok yang lebih lemah daripada laki-laki dan tetap memerlukan perlindungan dari sang lawan gender. Sehingga, ketika mereka dipaksa untuk menjadi tangguh, menjadi kuat dan menempati sektor-sektor yang sejatinya tak diperuntukkan bagi mereka, tentu akan selalu ada konflik batin yang tak tersuarakan oleh mereka sendiri maupun yang orang lain.

Sehingga, ketika tugas laki-laki sebagai pemberi nafkah utama dalam keluarga sudah tak dijalani, maka itu bukan lagi bisa dinamakan emansipasi, melainkan sebuah eksploitasi yang mengatasnamakan kesetaraan. Ingat ya, emansipasi juga tetap memiliki asas keadilan dan kesesuaian. 

Praktik-praktik seorang suami yang rela untuk "menjual" tenaga istrinya ini disadari atau tidak mulai tumbuh subur di beberapa daerah. Seperti misal, praktik seorang suami yang "memberangkatkan" istrinya untuk bekerja ke luar negeri, merupakan sebuah contoh nyata dari emansipasi yang kebablasan ini. 

Pasalnya, seperti yang telah sedikit saya singgung di atas, ketika dua orang manusia memutuskan untuk membangun rumah tangga, maka kewajiban untuk menjadi tulang punggung keluarga tetaplah berada di pihak laki-laki. Adapun ketika perempuan memutuskan untuk ikut bekerja, itu pun sifatnya opsional, bukan sebuah kewajiban.

Namun, dengan dalih emansipasi, kesetaraan dan persamaan hak dan kewajiban, para suami tipe ini memanfaatkan celah yang seolah-olah memberikan kesempatan bagi pihak wanita untuk berkarier, padahal sejatinya tak lebih hanyalah sebuah pemanfaatan belaka.

Sehingga, dilihat dari dalih sudut pandang mana pun, keputusan seorang suami untuk "mempekerjakan" istrinya ke luar negeri dan menjadikannya sebagai tulang punggung dalam keluarga, adalah sebuah kesalahan fatal yang mencederai cita-cita emansipasi yang digelorakan oleh Kartini sendiri.

Terlebih lagi, fenomena pemberangkatan istri menjadi TKW ke luar negeri ini juga tak disertai usaha setimpal dari para lelakinya. Pasalnya, sejauh yang saya temui, para lelaki yang "bercita-cita" menerbangkan istrinya ke luar negeri ini hidupnya di kampung halaman hanya diwarnai dengan kegiatan-kegiatan yang tak produktif dan hnya menantikan uang kiriman yang notabene merupakan hasil kerja dari sang istri nun jauh di sana.

Dengan kata lain, ketika sang istri bekerja mati-matian memeras darah dan keringat di seberang lautan, si laki-laki justru kebanyakan hanya ongkang-ongkang kaki dan tak berusaha untuk memberikan pendapatan yang seimbang dengan yang dihasilkan oleh istrinya. 

Apakah hanya ini contohnya? Tentu saja tidak. Di sekitar kita, pasti sudah banyak kita temukan kejadian-kejadian yang sejenis dengan ini.

Banyak keluarga yang menempatkan seorang wanita, baik itu yang sudah berstatus sebagai istri atau pun anak, sebagai pencari nafkah utama bagi mereka meskipun di sana ada sosok pria yang sejatinya masih sangat mampu untuk melakukan hal itu. 

Jadi, teruntuk kalian para wanita yang kini melampaui kodrat dan melebihi cita-cita Kartini, tetaplah sehat, tetaplah kuat. Karena saya yakin, tak seluruhnya laki-laki memahami makna sebenarnya dari sebuah kata sakral bernama "emansipasi".