Idola dan penggemar adalah kehadiran yang saling membutuhkan satu sama lain. Namun, apa jadinya jika peristiwa yang menimpa seorang penggemar menyebabkan sang idola berhenti dari aktivitasnya?
Tentu penggemar tersebut akan merasa bersalah dan berusaha mencari seribu cara agar idolanya bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala, bukan? Hal ini pula yang terjadi kepada seorang gadis dalam drama Hanazakari no Kimitachi e atau yang biasa disingkat Hana-Kimi.
Drama Hana-Kimi bercerita tentang Mizuki Ashiya (diperankan oleh Maki Horikita), seorang gadis Jepang yang tinggal di Amerika. Ia mengidolakan seorang atlet lompat tinggi bernama Izumi Sano (diperankan oleh Shun Oguri).
Suatu hari, Ashiya mendengar tentang pelatihan atlet Jepang di Amerika dan Sano turut bergabung di dalamnya. Ashiya pun lantas pergi ke tempat pelatihan tersebut untuk menemui idolanya itu.
Namun, di tengah perjalanan pulang, Ashiya dicegat oleh beberapa orang jahat yang hendak menculiknya. Saat itulah, seorang pemuda tiba-tiba datang dan menyelamatkannya.
Ternyata, ia adalah Izumi Sano, atlet idola Ashiya. Sano menghajar para penjahat itu dan lantas berusaha melarikan diri bersama Ashiya. Sano meminta Ashiya melalui jalan yang terpisah dengannya menuju ke tempat yang lebih aman.
Malang, Sano yang mendapati jalan buntu justru terdesak oleh para penjahat yang mengejarnya. Ketika Sano mencoba kabur, para penjahat itu berhasil melukai kakinya.
Sejak hari itu, Sano seolah ditelan bumi. Ia dikabarkan tidak hadir dalam kejuaraan nasional dan kariernya terputus, padahal sebelumnya, ia merupakan atlet yang dicalonkan untuk mengikuti olimpiade. Mengetahui hal ini, Ashiya segera saja merasa bersalah dan berpikir bahwa gara-gara dirinya, Sano menderita cedera dan menghentikan kariernya sebagai atlet.
Demi menebus rasa bersalahnya, Ashiya bertekad untuk menemui sang atlet demi membuatnya mau kembali melakukan lompat tinggi.
Ashiya pun meminta kepada sang ayah untuk membiarkannya pulang ke Jepang dan berkata bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan. Sang ayah marah dan tidak setuju putrinya harus kembali ke Jepang sendirian.
Namun, tekad Ashiya tidak bisa dibendung. Meski ia harus pergi diam-diam dan menentang sang ayah, ia nekad memotong pendek rambutnya dan pergi ke Jepang untuk bersekolah di tempat Sano menimba ilmu yang merupakan SMA asrama khusus putra!
Bagaimana cara Ashiya menyembunyikan identitasnya sebagai perempuan? Akankah ia berhasil membuat idolanya, Sano, kembali melakukan lompat tinggi dan meneruskan karier atletnya? Saksikan keseruan Ashiya menjalani hari-harinya di SMA asrama khusus putra dalam drama Hana-Kimi. Selamat menonton!
Baca Juga
-
Wajib Tahu! Ini 3 Alasan Pentingnya Riset bagi Penulis
-
Selamat! Go Ayano dan Yui Sakuma Umumkan Pernikahan Mereka
-
Selamat! Keita Machida Resmi Menikah dengan Aktris Korea-Jepang Hyunri
-
4 Manfaat Membuat Kerangka Karangan dalam Kegiatan Menulis
-
NiziU Nyanyikan Lagu Tema Film Animasi 'Doraemon: Nobita's Sky Utopia'
Artikel Terkait
-
5 Artis Korea yang Terkenal Sangat Ramah, Idolamu Termasuk Nggak?
-
5 Drama Korea Terbaik Seo In-Guk, Selain Drakor Terbaru Cafe Minamdang
-
Cafe Minamdang: Sinopsis dan Penjelasan Karakter yang Terlibat di Dalamnya
-
Jang Na Ra Lepas Masa Lajang di Usia 41 Tahun, Tampil Menajubkan!
-
3 Karakter di Joseon Psikiater Yoo Se Poong, Drama Korea Sejarah Dibintangi Kim Min Jae
Entertainment
-
Film Kung Fu Soccer Garapan Stephen Chow Sukses Puncaki Box Office China
-
Bukan Main! Jun Ji Hyun Sabet 'Extraordinary Star Asia Award' di NYAFF ke-25
-
Tayang 2027, Anime Futuristis RE:BEL ROBOTICA Rilis Teaser dan Visual Baru
-
Resmi Debut! Super Junior-83z Berjanji Tuk Saling Setia di Lagu Promise
-
Buat Kaget, Winter aespa Bongkar Cerita Debut hingga 3 Kali Ditolak Agensi
Terkini
-
Meraih Ketidakmungkinan: Saat Pemuda STOVIA Terjebak Cinta & Nasib Bangsa
-
Samsung Salip Apple Saat Pasar Smartphone Terpuruk, Kok Bisa?
-
Ketika Mengajar Tak Lagi Menjanjikan: Kesejahteraan Guru Terus Tertinggal
-
4 Ide OOTD Urban Y2K Streetwear ala Yuqi I-DLE yang Gampang Ditiru!
-
Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Siap Hadapi Prancis Tanpa Beban Mental