Bimo Aria Fundrika | YESRUN EKA SETYOBUDI
Suasana bengkel kayu Pak Kardi yang sunyi di malam ganjil Ramadhan(freepik.com)
YESRUN EKA SETYOBUDI

Bengkel kayu milik Pak Kardi tidak pernah sewangi dapur tetangganya. Saat orang-orang sibuk menakar santan dan gula malaka untuk kolak, hidung Pak Kardi justru akrab dengan aroma kayu jati yang baru diserut dan tajamnya bau kapur barus.

Di sudut ruangan, sebuah keranda kayu jati yang kokoh berdiri miring, seolah sedang bersandar menunggu giliran untuk digotong.

Bagi warga Kampung Sentosa, Pak Kardi adalah anomali. Di bulan Ramadan yang penuh doa tentang umur panjang, lelaki itu justru hidup dari menyiapkan peristirahatan terakhir. Namun, Ramadan kali ini terasa berbeda. Hingga memasuki malam kedua puluh tujuh salah satu malam ganjil yang diburu ribuan orang demi keberkahan tak ada satu pun pesanan yang masuk. Keranda jati itu masih diam, debunya mulai menebal di bagian tutup.

Pak Kardi masygul. Di balik kekhusyukan sujudnya, ada tagihan biaya pengobatan istrinya di puskesmas yang harus dilunasi sebelum Lebaran tiba.

Ia merasa bersalah karena secara tidak sadar, nuraninya sempat membisikkan doa yang ganjil: Ya Tuhan, haruskah ada yang pergi agar dapurku tetap berasap? Bisikan itu segera ia tepis dengan istighfar berkali-kali. Menjual keranda di malam ganjil terasa seperti menjual kepingan duka di tengah pesta cahaya.

Malam itu, gerimis turun tipis. Suara tadarus dari masjid di seberang jalan terdengar lindap, tertutup deru angin yang sesekali mengguncang pintu kayu bengkelnya yang sudah lapuk.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan bengkel. Seorang pria paruh baya, berpakaian sangat rapi namun dengan gurat wajah yang tampak lelah, turun dan melangkah masuk.

"Apa keranda ini dijual, Pak?" tanya pria itu tanpa basa-basi. Matanya menatap tajam ke arah keranda jati di sudut ruangan.

Pak Kardi tertegun. Biasanya, orang membeli keranda dengan wajah sembab dan suara parau karena duka yang baru saja tiba. Pria ini berbeda. Ia tenang, bahkan cenderung dingin.

"Benar, Den. Ini kayu jati pilihan. Tapi... maaf, apa ada kerabat yang meninggal malam ini?" tanya Pak Kardi hati-hati.

Pria itu menggeleng perlahan. "Belum ada. Saya membelinya untuk saya sendiri."

Jawaban itu membuat gergaji di tangan Pak Kardi hampir terlepas. "Untuk diri sendiri? Tapi Anda tampak sehat-sehat saja."

"Saya ingin menaruhnya di tengah ruang tamu rumah saya," pria itu melanjutkan, suaranya datar namun sarat akan beban.

"Sepuluh tahun terakhir, saya terlalu sibuk menumpuk harta hingga lupa bahwa saya bisa mati kapan saja. Di malam ganjil ini, saat semua orang mencari ampunan, saya ingin membeli pengingat yang paling nyata. Saya ingin tidur di sampingnya setiap malam agar saya tahu apa yang akan saya bawa nanti."

Pak Kardi terdiam. Ia melihat kontradiksi yang luar biasa. Di satu sisi, ia membutuhkan uang untuk menyambung nyawa istrinya; di sisi lain, pria ini ingin membeli "kematian" sebagai kemewahan spiritualitasnya. Pria itu menyebutkan angka yang fantastis, tiga kali lipat dari harga normal. Pak Kardi cukup mengangguk, dan tagihan puskesmas itu akan hangus seketika.

Namun, tepat saat pria itu hendak merogoh dompet, pintu bengkel kembali terbuka dengan kasar. Seorang pemuda berlari masuk dengan napas memburu. Bajunya basah kuyup oleh gerimis, matanya merah menahan tangis.

"Pak Kardi... tolong... Pak Haji Saleh... beliau baru saja wafat di sujud terakhir tarawih tadi," pemuda itu tersengal. "Keluarganya tidak punya simpanan. Keranda masjid sedang diperbaiki karena rayap. Bolehkah... bolehkah kami berhutang keranda kayu ini? Kami akan mencicilnya setelah Lebaran."

Suasana mendadak beku. Pak Kardi menatap keranda jati itu, lalu menatap pria kaya di depannya, kemudian beralih pada pemuda yang memelas itu. Haji Saleh adalah orang baik, marbot masjid yang tak pernah meminta imbalan.

Pria kaya itu juga menatap si pemuda. Ia melihat gemetar di tangan anak muda itu—sebuah getaran tulus yang tidak bisa dibeli dengan saham atau deposito.

Pak Kardi menghela napas panjang. "Maaf, Den," katanya pada pria kaya itu. "Keranda ini tidak jadi saya jual kepada Anda."

Pria kaya itu mengerutkan kening. "Saya bayar sepuluh kali lipat jika perlu."

"Kematian bukan barang dagangan yang bisa dilelang, Den," jawab Pak Kardi tenang. "Anda ingin pengingat mati, tapi keluarga di sana sedang menghadapi kematian yang nyata. Pengingat terbaik tentang akhirat bukanlah dengan menyimpan kayu di ruang tamu, tapi dengan melihat bagaimana orang baik diantarkan ke liang lahat dengan penuh penghormatan."

Pak Kardi berpaling pada si pemuda. "Bawa keranda ini sekarang. Gratis. Haji Saleh sudah menjaga rumah Tuhan seumur hidupnya, biarlah kayu ini menjadi baktiku yang terakhir untuknya."

Pria kaya itu terpaku. Ia menyaksikan Pak Kardi, lelaki tua yang bajunya penuh serbuk gergaji, justru memiliki kekayaan batin yang jauh lebih besar darinya. Ia melihat bagaimana keranda itu diangkat bersama-sama menuju masjid di tengah kegelapan malam ganjil.

Sebelum pergi, pria kaya itu mendekati Pak Kardi yang sedang menyapu sisa kayu dengan wajah yang tampak jauh lebih tenang.

"Berapa biaya pengobatan istri Anda, Pak?" tanya pria itu pelan.

Pak Kardi terkejut. "Dari mana Anda tahu?"

"Mata orang jujur tidak bisa berbohong soal beban yang ia pikul," ujar pria itu sembari mengeluarkan selembar cek yang nilainya lebih dari cukup untuk biaya puskesmas dan renovasi bengkel lapuk itu. "Jangan anggap ini bayaran keranda. Anggap ini 'tiket belajar' saya malam ini. Anda benar, pengingat mati yang paling tajam adalah kebaikan yang kita lakukan untuk mereka yang hidup."

Malam ganjil itu berakhir dengan cara yang tak terduga. Di masjid, gema takbir sayup-sayup mulai terdengar dari kejauhan, mengiringi kepergian orang baik. Di bengkel kecilnya, Pak Kardi bersimpuh. Ia menyadari bahwa di bulan yang suci ini, Tuhan tidak mengirimkan pembeli untuk kerandanya, melainkan mengirimkan jalan untuk menjemput aksama ampunan yang melampaui segala rupa materi.

Ia tidak menjual keranda di malam ganjil. Ia baru saja membeli sepotong ketenangan bagi jiwanya sendiri.