Setiap Ramadan datang, ada satu pemandangan yang terus berulang di banyak tempat: pengeras suara meraung di dini hari, teriakan membelah sunyi, tabuhan yang menggetarkan kaca jendela, bunyi-bunyian yang lebih mirip karnaval ketimbang ajakan beribadah. Semua dibungkus alasan yang sama: membangunkan sahur.
Suara dari pengeras tempat ibadah pun tak lagi selalu terdengar santun. Sebagian orang yang merasa menjadi “panitia pembangun sahur” menggunakan fasilitas masjid atau musala dengan cara yang semena-mena, berteriak sekeras mungkin, memutar suara yang tak jelas arahnya, menciptakan kebisingan yang bahkan tak berkaitan dengan makna Ramadan itu sendiri. Yang hadir bukan pengingat, melainkan ledakan suara yang mengagetkan.
Kini, cara-cara itu justru merenggut ketenangan orang yang tengah beristirahat untuk bersiap bangun sahur. Ironisnya, tak sedikit yang membangunkan jauh sebelum waktunya tiba. Alih-alih membantu, yang terjadi adalah gangguan tidur kolektif di jam-jam paling hening.
Niatnya baik. Tak ada yang menyangkal. Namun niat baik tidak otomatis melahirkan cara yang baik. Di banyak lingkungan, tradisi membangunkan sahur berubah menjadi praktik yang kehilangan adab. Ia tak lagi hadir sebagai kepedulian sosial, melainkan kebisingan yang memaksa semua orang tunduk pada satu cara yang seragam.
Yang lebih mengkhawatirkan, kebisingan itu sering dibungkus legitimasi moral dan agama. Dalihnya sederhana: ini hanya setahun sekali, demi warga agar tidak kesiangan, demi Ramadan itu sendiri. Siapa pun yang merasa terganggu kerap dicap kurang toleran, kurang beriman, atau tidak menghargai tradisi. Padahal keberatan terhadap kebisingan bukanlah penolakan terhadap ibadah, melainkan kritik terhadap cara. Di sini terjadi kekeliruan berpikir: seolah-olah cara adalah bagian dari ajaran, padahal ia produk budaya yang bisa berubah.
Ramadan adalah bulan ketenangan. Bulan untuk menahan diri, mengendalikan ego, melatih empati, dan memperhalus rasa. Namun yang sering tampak justru sebaliknya: ruang publik dipenuhi suara keras, gangguan dini hari, bahkan ketakutan bagi anak-anak dan lansia yang terbangun bukan karena kesadaran spiritual, melainkan karena kaget.
Dalam situasi seperti ini, sahur kehilangan maknanya sebagai ibadah yang disiapkan dengan kesadaran. Ia berubah menjadi rutinitas yang digerakkan sistem bunyi. Bangun karena terpaksa, bukan karena kesiapan hati.
Kita perlu jujur bertanya: apakah membangunkan sahur harus dilakukan dengan cara yang memekakkan telinga dan mengabaikan kondisi sekitar?
Tidak semua orang hidup dalam situasi yang sama. Ada bayi yang sedang sakit. Ada lansia yang butuh tidur cukup. Ada pekerja yang baru pulang shift malam. Ada warga non-Muslim yang tetap harus dihormati ruang hidupnya. Ada orang dengan gangguan kesehatan yang membutuhkan keheningan. Tradisi yang baik seharusnya merawat keberagaman kondisi itu, bukan menghapusnya dengan satu standar suara yang dipaksakan.
Kita sering lupa bahwa ibadah tak pernah diajarkan dengan menciptakan ketidaknyamanan. Spirit agama berangkat dari kelembutan dan keteladanan. Ketika ajakan sahur berubah menjadi teror kebisingan dan polusi suara, nilai spiritualnya perlahan terkikis. Yang tersisa hanya rutinitas tanpa makna.
Masjid dan musala seharusnya menjadi pusat ketenangan, bukan panggung audio. Tradisi sahur seharusnya menjadi ruang solidaritas, bukan arena unjuk volume. Ketika pengeras suara dipakai sebagai alat dominasi ruang, yang terjadi bukan lagi dakwah, melainkan pemaksaan simbolik atas ruang hidup bersama.
Padahal membangunkan sahur dengan beradab bukan hal yang mustahil. Suara yang wajar dan santun sudah cukup. Pengingat bisa disampaikan seperlunya, mendekati waktu sahur, bukan berjam-jam sebelumnya. Komunitas bisa memanfaatkan cara lain: pengingat di grup RT, alarm pribadi, atau tradisi keliling dengan sikap tertib tanpa teriak-teriak berlebihan. Intinya bukan pada kerasnya suara, melainkan kesadaran sosial di baliknya.
Ramadan adalah latihan kemanusiaan. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi melatih empati dan kepekaan. Jika tradisi sahur justru melukai ketenangan orang lain, maka yang perlu dikoreksi bukan niatnya, melainkan caranya. Niat baik harus berjalan bersama cara yang baik agar melahirkan kebaikan yang utuh.
Membangunkan sahur seharusnya menjadi bentuk kasih, bukan keterpaksaan. Menjadi kepedulian, bukan kegaduhan. Menjadi ajakan lembut, bukan kejutan yang menakutkan. Ibadah tak pernah tumbuh dari kebisingan, melainkan dari kesadaran yang tenang.
Di tengah dunia yang semakin riuh, mungkin justru ketenanganlah yang paling langka. Ramadan seharusnya menjadi ruang untuk merawatnya, bukan menghilangkannya.
Artikel Terkait
Kolom
-
Minta Maaf di Era Broadcast: Kegelisahan Pribadi Menjelang Idulfitri
-
Rangkap Jabatan dan Hukum: Mengapa Guru Honorer yang Dipidanakan?
-
Katanya Masa Depan Bangsa, tapi Kok Nyawa Anak Seolah Tak Berharga?
-
Melipat Jaring di Jalan Raya: Mengembalikan Marwah Pembangunan Masjid
-
Semangat Anak Muda dan Momentum Gerakan Subuh Berjamaah di Kala Ramadan
Terkini
-
Ulasan Film Rajah: Teror Mistis Jawa yang Intens dan Mencekam!
-
Game Ngebut, Kamera Tajam! Ini 5 HP 4 Jutaan Terbaik
-
4 Serum Retinal Korea Rahasia Kulit Kencang, Tekstur Halus, dan Awet Muda
-
Deretan Anime Yang Tayang Bulan Maret 2026, Wajib Dinantikan!
-
Italjet Dragster 459 Twin, Motor Skutik Premium Bergaya Sport Italia