Sejumlah film menjadikan hewan menjadi objeknya, mulai dari sesuatu yang harus dilindungi, jadi teman bagi pemeran utama, bahkan tidak jarang yang menjadikan mereka sebagai antagonis yang mesti dilenyapkan.
Memvisualisasikan hewan menjadi monster perusak atau musuh manusia dapat menimbulkan kesan negatif terhadap penonton secara tidak langsung. Hal tersebut sempat terjadi pada hiu setelah film Jaws, yaitu film legendaris karya Stephen Spielberg yang dirilis pada tahun 1975.
Berbagai riset menunjukkan bahwa film itu menimbulkan persepsi negatif mengenai hiu yang tidak semuanya benar. Oleh karena itu, suatu film dari sudut pandang hewan menjadi inovasi yang menarik. Berikut ini adalah 3 film dengan sudut pandang hewan.
1. Kedi (2016)
Film ini mengisahkan tentang keseharian suatu spesies hewan yang sangat populer, yaitu kucing. Film yang berformat dokumenter tersebut memiliki latar di kota Istanbul, Turki yang memang dikenal dengan kucing-kucing yang liar. Karakter-karakter kucing yang memukau dengan teliti ditunjukkan oleh Ceyda Torun, sosok yang menggarap sinema ini.
Sama halnya dengan manusia, mereka mempunyai cara sendiri untuk memperoleh kebutuhan dan bertahan hidup. Ada yang memiliki penyuplai makanan tetap, ada yang menguasai sebuah wilayah, dan lain-lainnya. Walaupun premisnya terlihat sederhana, tapi film ini sangat kuat. Film ini akan mengajak penonton untuk berkontemplasi.
2. EO (2022)
EO merupakan film inovatif dengan protagonis seekor keledai yang disutradarai oleh Jerzy Skolimowski, memang konsep film ini terinspirasi dari film lama karya Robert Breeson yang berjudul Au Hasard Balthazar (1966). Hal yang membedakannya adalah film ini diceritakan di perjalanan darat dan tidak cuma berdiam pada sebuah tempat.
Sang keledai yang bernama EO, dikisahkan bebas dari kelompok sirkus yang terdampar ke sejumlah tempat. Skolimowski melalui matanya dapat memberikan gambaran bahwa sifat manusia sangatlah beragam.
Ada saatnya ia berjumpa dengan orang yang egois, kasar, dan rakus, tapi ada pula sebagian yang memberinya kasih sayang dan perlindungan. Pada tahun ini, EO meraih satu nominasi Oscar pada kategori Film Fitur Internasional Terbaik.
3. Stray (2020)
Jika Kedi menceritakan tentang populasi kucing yang berada di Istanbul, kini Stray yang mengabadikan kehidupan anjing liar dalam kota yang sangat sibuk itu. Elizabeth Lo sebagai sutradara mengikuti tiga ekor anjing dalam kesehariannya.
Setiap momen dapat membuatmu turut merasakan cobaan hidup dan kepedihan yang mereka alami sebagai makhluk yang terabaikan. Itulah 3 film dengan sudut pandang hewan, sejumlah adegan dalam film tersebut membuat kita merasa tersudut dan tersindir.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
3 Film dan Drama Korea yang Diperankan Jeon Do-Yeon, Ada Kill Boksoon
-
3 Rekomendasi Anime yang Berlatar pada Abad ke-20, Kisahkan tentang Sejarah
-
3 Rekomendasi Anime Bertema Mafia, Salah Satunya Spy x Family
-
3 Rekomendasi Anime Gore Tayang di Netflix, Mana yang Paling Sadis?
-
3 Rekomendasi Film Bertema Bom Atom, Gambarkan Dampak Buruk Perang Nuklir
Artikel Terkait
-
CLC Gelar Pelatihan Film Pendek di SMAN 3 Purwokerto
-
Review Film Turning Red: Kisah Gadis yang Dikutuk Menjadi Panda Merah!
-
Keluar sebelum Waktunya, Adhisty Zara Ceritakan Pengalaman Bergabung di JKT48
-
4 Film dan Drama Korea tentang Sekte Sesat, Dokumenter Terbaru Tuai Kontroversi
-
Apakah Kucing Mencintai Pemiliknya? Begini Penjelasan Ahli
Entertainment
-
Kim Rae Won dan Park Hoon Bintangi Full Count, Drama tentang Dunia Baseball
-
Usung Genre Komedi Romantis, TWS Ungkap Highlight Medley Album 'No Tragedy'
-
Sinopsis Toaster, Film Komedi India Terbaru Rajkummar Rao di Netflix
-
Masih Abu-abu, Sutradara Singgung Arah Franchise Transformers ke Depannya
-
Nirvanna the Band the Show the Movie Segera Tayang, Tablo Jadi Penerjemah
Terkini
-
Review Serial Sins of Kujo: Realita Pahit Hukum yang Memihak Para Kriminal
-
Memahami Kembali Perjuangan Kartini: Saat Emansipasi Mulai Disalahpahami
-
Gaya Ngantor sampai Pesta, Intip 4 Ide Daily OOTD ala Kang Min Ah Ini!
-
Menyusuri Langit Bersama Ulugh Beg dalam Buku The Prince of Stars
-
Membaca Ulang Sejarah R.A. Kartini di Tengah Tren 'Unpopular Opinion'