Captivating the King ialah drama Korea bergenre melodrama, sejarah, dan romantis yang dirilis pada Januari 2024 lalu. Drama ini menyoroti Kang Hee-soo (Shin Se-kyung) yang berpura-pura menjadi laki-laki bernama Mong-woo hingga bagaimana dia membalaskan dendamnya yang telah terpupuk selama 3 tahun. Meskipun tak begitu banyak menjadi perbincangan di kalangan penggemar, nyatanya drama ini memiliki kelebihan yang membuat drama ini patut ditonton.
Bercerita tentang pengkhianatan, balas dendam, hingga cinta, Captivating the King memperlihatkan banyak pelajaran hidup di sepanjang cerita. Entah itu mengenai manusia terhadap manusia lain ataupun manusia dengan lingkungan, tiga pesan moral yang tertera dalam daftar di bawah patut untuk kamu simak. Jadi, jangan beralih dari artikel ini, ya!
1. Siapa pun bisa berkhianat, termasuk teman terdekat
Setelah tak sengaja bertemu dengan Pangeran Agung Jinhan (Jo Jung-suk) saat sedang membela sahabatnya yang bernama Hong-jang, hubungan pertemanan antara Mong-woo dan sang pangeran tampan itu mulai terjalin. Sejak itu, mereka bertemu beberapa kali untuk bermain baduk, yang merupakan keahlian mereka, setiap gerimis turun atau yang disebut mongwoo. Kedekatan mereka pun dapat terlihat dari Pangeran Agung Jinhan yang memanggil Mong-woo dengan sebutan Mong-woo, yang merupakan kata kesukaannya.
Namun, kedekatan Mong-woo dan Pangeran Agung Jinhan mulai retak sejak Paduka Raja meninggal, bersamaan dengan turunnya gerimis. Saat itu, Mong-woo menjadi sandera sebab diduga telah mendukung pengkhianatan yang dilakukan Pangeran Agung Jinhan. Sementara itu, sang pangeran sendiri yang berusaha untuk membebaskan Mong-woo.
Ketika kembali menemui Mong-woo, Pangeran Agung Jinhan sudah tak lagi sama. Dia sudah menjadi Paduka Raja yang baru, bahkan kepribadiannya ikut berubah. Dia menjadi sosok keji yang membiarkan Mong-woo hendak meregang nyawa dengan tega. Dia pun mengabaikan permintaan terakhir Mong-woo untuk menyelamatkan Hong-jang yang sudah tak berdaya dan dilumuri darah. Tak sampai di situ, dia sempat berkata bahwa seorang raja tak memiliki teman, melainkan bawahan dan musuh.
2. Kebohongan pasti akan terungkap, cepat atau lambat
Pada awal Captivating the King dimulai, telah diperkenalkan seorang pria yang tak diketahui namanya tengah bermain baduk dengan orang lain. Setelah itu, diungkapkan bahwa dia adalah penjudi baduk, yang kemudian dipanggil dengan Mong-woo, yang selalu berhasil membuat lawan mainnya kalah. Tak ada seorang pun dari lawannya yang mengetahui identitasnya sebab dia hanya menyebutkan namanya kepada lawan yang berhasil mengalahkannya.
Beberapa waktu kemudian, terungkap bahwa si penjudi baduk sebenarnya putri dari Kang Hang-soon yang bernama Kang Hee-soo. Berbeda dengan penampilan yang sering dia perlihatkan saat bermain baduk di luar, dia sebenarnya seorang perempuan. Meskipun tekadnya untuk membalas dendam kepada Paduka Raja yang baru hingga rasa cinta tumbuh di hati mereka, dia tak pernah mengungkapkan jati dirinya. Hingga suatu hari saat dia tertusuk pisau demi menyelamatkan Paduka Raja, jati dirinya yang sebenarnya pun terkuak.
3. Hati manusia selalu menjadi misteri yang sulit dipecahkan
Usai berteman dan bertemu beberapa kali dengan Pangeran Agung Jinhan sebelum menjadi Paduka Raja yang baru, Mong-woo menganggap laki-laki itu sebagai sosok baik hati yang dia kagumi. Namun, setelah kabar kematian Paduka Raja lama, dia segera mengetahui bahwa Pangeran Agung Jinhan adalah sosok yang tak segan untuk melukai orang lain, termasuk dirinya. Sejak itu pula, dia mulai membenci Pangeran Agung Jinhan dan bertekad untuk membalas dendam usai nyawanya berhasil diselamatkan.
Tiga tahun kemudian, Mong-woo mulai melancarkan rencana balas dendamnya ke Pangeran Agung Jinhan yang sudah diangkat menjadi Paduka Raja yang baru. Usai beberapa kali berinteraksi dengan Paduka Raja hingga tahu bahwa laki-laki itu menyukainya, dia mulai goyah dengan perasaannya. Dia mulai merasa bahwa Paduka Raja tak seperti yang selama ini dia kira. Dia pun mulai memahami perasaan Paduka Raja yang ternyata telah dia salah pahami selama ini. Hingga pada akhirnya, dia kembali memercayai Paduka Raja, sebagaimana laki-laki itu memercayainya, dan mengerti bahwa hati manusia memang sulit dipahami.
Setiap momen yang terjadi dalam hidup selalu memiliki makna di baliknya, begitu juga momen-momen yang ada dalam drama Korea Captivating the King. Dari momen-momen itulah, lahir pelajaran hidup yang pastinya bermanfaat bagi siapa pun yang menonton drama ini, seperti tiga pesan moral yang telah tertera dalam daftar di atas. Nah, usai membaca daftar di atas, adakah pesan moral yang pas dengan keadaanmu saat ini?
Baca Juga
-
5 Anime Politik Terbaik Sepanjang Masa Patut Ditonton Sekali Seumur Hidup
-
3 Hunter Cewek Terkuat di Anime Solo Leveling, Badass Abis!
-
5 Rekomendasi Manga Romance Era 80 yang Patut Dibaca, Tak Kalah Menarik dengan Karya Baru!
-
5 Legenda Pengguna Buah Iblis Terkuat di One Piece yang Telah Tiada
-
5 Anime Hidden Gem yang Cocok Ditonton Pemula, Dijamin Bikin Candu!
Artikel Terkait
-
Lee Jung-eun Siap Jadi Bibi Kim Ji-won dalam Drama Baru 'Doctor X'
-
Jadi Couple di 'The Haunted Palace', Chemistry Yook Sungjae dan Bona Dipuji
-
Good Partner 2 Resmi Diproduksi, Jang Na Ra dan Nam Ji Hyun Bakal Kembali?
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Ada Romcom Hingga Fantasi, 8 Drama Korea yang Tayang di Bulan April
Entertainment
-
Lee Jung-eun Siap Jadi Bibi Kim Ji-won dalam Drama Baru 'Doctor X'
-
Jadi Couple di 'The Haunted Palace', Chemistry Yook Sungjae dan Bona Dipuji
-
NCT Wish Ekspresikan Gaya Y2K di Comeback Album Terbaru 'Poppop'
-
Jackie Chan Kembali! Ini Sinopsis dan Pemain Film 'Karate Kid: Legends'
-
3 Drama China yang Dibintangi Nine Kornchid, Ada Insect Detective
Terkini
-
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia Kembali Gendong Marwah Persepakbolaan Asia Tenggara
-
Ulasan Webtoon Our Secret Alliance: Perjanjian Palsu Ubah Teman Jadi Cinta
-
Pemain PC Kini Bebas dari PSN! Sony Ubah Kebijakan Akun PlayStation
-
Timnas Indonesia, Gelaran Piala Asia dan Bulan April yang Selalu Memihak Pasukan Garuda