Perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan. Berawal dari ajakan sederhana untuk menghadiri sebuah acara pernikahan, hari itu justru berubah menjadi pengalaman tak terduga yang berujung pada senja tenang di Pantai Midodaren, Tulungagung.
“Ukhro, ayo besok ikut kondangan ke Tulungagung.”
Pesan WhatsApp itu datang sehari sebelumnya. Sempat ragu, tapi akhirnya saya mengiyakan. Lumayan, sekalian jalan-jalan, pikir saya.
Keesokan paginya, kami berangkat dari Kediri sekitar pukul 08.40. Kami berempat dalam satu mobil: dua laki-laki di kursi depan sedangkan saya dan seorang kakak tingkat perempuan yang mengajak sejak awal di kursi belakang.
Perjalanan terasa cukup panjang. Beberapa titik macet membuat waktu tempuh semakin lama. Di tengah jalan, saya sempat dilanda kekhawatiran akan mabuk perjalanan. Untungnya, setelah membuka sedikit jendela mobil agar udara segar masuk, kondisi perlahan membaik.
Sekitar pukul 11.30, kami akhirnya tiba di lokasi pernikahan yang ternyata berada di daerah yang cukup pelosok. Bahkan sebelumnya kami sempat melewati wilayah Trenggalek. Karena suasana masih ramai, kami memutuskan beristirahat sejenak di musala di seberang lokasi. Setelah menunaikan salat, barulah kami masuk dan mengikuti acara seperti biasa.
Kurang lebih satu setengah jam kami berada di sana: bertemu banyak orang, bersilaturahmi, dan tentu saja mengabadikan momen bersama.
Setelah itu, kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan menuju Jalur Lintas Selatan (JLS), yang terkenal dengan deretan warung kecil berlatar pemandangan laut. Sekitar pukul 14.40, kami kembali melaju. Namun, di sinilah perjalanan mulai terasa berbeda.
Mengandalkan Google Maps, kami justru diarahkan melewati jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Di satu sisi terdapat kebun, sementara di sisi lain jurang yang cukup membuat waswas. Rumah warga semakin jarang terlihat, bahkan hampir tidak ada. Tak ada pilihan selain terus melanjutkan perjalanan. Untuk berbalik arah pun terasa sulit.
Hampir satu jam kami melewati jalan sempit tersebut hingga akhirnya menemukan sebuah pom mini. Sembari mengisi bahan bakar, kami bertanya arah menuju JLS. Kabar baiknya, kami sudah berada di jalur yang benar dan tinggal sedikit lagi mencapai jalan raya.
Sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit kemudian, kami benar-benar tiba di jalan utama. Kami sempat berhenti di sebuah warung untuk beristirahat, menikmati segelas kopi dingin sambil memandang laut dari kejauhan.
Tak lama kemudian, kami memutuskan menuju pantai terdekat, yaitu Pantai Midodaren. Sekitar pukul 15.30, kami tiba di kawasan pantai dan membayar tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang.
Suasana alam yang sejuk langsung menyambut kedatangan kami. Hamparan laut yang luas, angin yang berhembus lembut, serta suasana yang relatif sepi membuat tempat ini terasa begitu menenangkan. Cukup disayangkan, masih ada beberapa sampah yang berserakan di sepanjang pantai.
Kami berjalan santai menyusuri area pantai, sesekali berhenti untuk berfoto. Saya sempat duduk di sebuah ayunan yang menghadap langsung ke laut. Ketika langit mulai berubah warna menjadi jingga, saya berlari kecil ke tepi pantai. Duduk diam, membiarkan pikiran mengalir, menikmati senja yang perlahan turun. Suasananya sederhana, tapi terasa begitu hangat dan menenangkan.
Pantai yang tidak terlalu ramai membuat momen itu terasa lebih intim. Sejenak, saya merasa ingin berlama-lama di sana. Namun, waktu terus berjalan. Setelah menunaikan salat magrib, kami pun bersiap untuk pulang, membawa pulang kenangan dari perjalanan yang tidak direncanakan ini.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih lancar. Tidak ada lagi jalan sempit atau kemacetan panjang. Kami hanya melintasi jalan raya hingga akhirnya kembali tiba di kawasan Kediri sekitar pukul 20.00.
Hari itu ditutup dengan sederhana: memulangkan mobil, bersilaturahmi sejenak, lalu kembali ke rumah masing-masing. Perjalanan yang awalnya hanya tentang menghadiri kondangan, ternyata berakhir menjadi pengalaman berharga. Dari jalanan sempit yang sempat membuat cemas, hingga senja tenang di Pantai Midodaren semua meninggalkan memori yang sulit dilupakan.
Baca Juga
-
Mengapa Momen Lebaran Sering Menjadi Ajang Membandingkan Pencapaian?
-
Gaji Imut, Antiboncos: Belajar Kelola Uang dengan Strategi 'Karet Gelang'
-
Ucapan 'Mohon Maaf Lahir dan Batin' saat Idulfitri: Benarkah Selalu Tulus?
-
Perempuan Berpendidikan sebagai Calon Ibu: Upaya Terdidik Sebelum Mendidik
-
Sarjana Pendidikan, tapi Tidak Mengajar: Mengapa Selalu Dipertanyakan?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Pasta Kacang Merah: Filosofi Hidup dalam Semangkuk Pasta Kacang Merah
-
Girl from Nowhere: The Reset, Nanno Kembali dengan Wajah Baru yang Memikat
-
Mata Ganti Mata, Gigi Ganti Gigi: Novel Penebusan karya Misha F. Ruli
-
Rumah Ilalang: Ironi Jasad yang Tak Temukan Tanah untuk Beristirahat
-
Cinta dan Perasaan Lainnya di Buku Kumpulan Puisi I See You Like a Flower
Terkini
-
6 Aktor Kulit Hitam Peraih Oscar Best Actor, Terbaru Ada Michael B. Jordan
-
Presiden Anti-Pesimis: Optimisme atau Sekadar Anti-Kritik?
-
4 Moisturizer Terbaik yang Cocok Dipakai saat Kulit Kering dan Kemerahan
-
Misi Mencari Hilal Penerimaan Cukai: Karpet Merah Buat Rokok Ilegal Jadi Jawaban?
-
Budaya Hampers Jelang Lebaran: Antara Silaturahmi, Gengsi, dan Tekanan Sosial