Pixar memang jagonya membuat cerita penuh imajinasi yang menyentuh hati. Dari kisah mainan yang hidup dalam ‘Toy Story’, hingga petualangan emosional di rumah melayang pada Film Up.
Namun, kalau bicara soal luar angkasa, banyak yang langsung teringat pada Film WALL-E (2008), film yang membawa kita ke masa depan dengan robot pembersih sampah sebagai pahlawannya. Kini, hampir dua dekade kemudian, Pixar kembali ke luar angkasa dengan Film Elio. Namun kali ini, petualangannya bukan soal robot penyelamat, melainkan seorang bocah yang secara nggak sengaja menjadi duta besar Bumi di komunitas antar planet. Wow!
Film Elio disutradarai Madeline Sharafian dan Domee Shi yang pernah menggarap Film Turning Red. Dengan keterlibatan Shi, yang mahir mengeksplorasi emosi remaja dalam animasinya, ‘Elio’ kemungkinan besar akan menyajikan kisah yang relatable bagi anak-anak dan remaja.
Dari sisi produksi, ‘Elio’ dibuat di bawah bendera Pixar Animation Studios dengan Mary Alice Drumm, yang sebelumnya memproduksi Film Coco. Untuk urusan musik, film ini akan diisi sama Rob Simonsen, yang pernah menangani Film It Ends With Us
Sementara itu, pengisi suara utama dalam film ini adalah:
- Yonas Kibreab sebagai Elio
- Zoe Saldana sebagai Aunt Olga
- Jameela Jamil sebagai Duta Besar Questa
- Brad Garrett sebagai Lord Grigon
- Dan masih banyak bintang pengisi suara lainnya
Nah, seperti apa kisah Film Elio? Buat Sobat Yoursay yang penasaran bisa lanjut baca sampai akhir.
Sekilas tentang Film Elio
Filmnya mengisahkan anak berusia 11 tahun bernama Elio Solis, yang punya imajinasi liar dan kecintaan pada luar angkasa. Namun, dia merasa kurang cocok dengan dunia sekitarnya. Suatu hari, dia mengalami sesuatu yang lebih besar dari mimpinya.
Apakah itu? Jadi gini, Elio diculik alien dan dibawa ke Communiverse, sebuah organisasi yang jadi tempat berkumpulnya perwakilan dari berbagai galaksi.
Dalam situasi yang serba kacau, para alien salah mengira Elio sebagai duta besar Bumi. Sekarang, Elio harus beradaptasi dengan dunia baru yang penuh makhluk asing, menghadapi tantangan yang seru, dan mencari tahu siapa dirinya sebenarnya di tengah petualangan luar angkasa yang luar biasa.
Kisahnya memang semenarik itu! Akan tetapi, mungkinkah Film Elio akan jauh lebih diterima penonton era sekarang atau justru Film WALL-E yang masih akan terus di hati para sinefil? Kayaknya seru kalau kita bandingkan deh.
Dari WALL-E ke Elio, Dua Petualangan Luar Angkasa yang Berbeda
Sebagai film luar angkasa terbaru Pixar, ‘Elio’ jelas akan dibandingkan dengan WALL-E. Namun, keduanya punya pendekatan yang berbeda. Yuk, kita bahas!
1. Tema dan Fokus Cerita
WALL-E tuh film yang lebih filosofis, membahas dampak manusia pada lingkungan dan masa depan planet. Fokusnya ada pada robot yang kesepian dan kisahnya dengan EVE.
Elio, sebaliknya, adalah petualangan coming-of-age tentang bocah yang merasa nggak cocok di dunia, tapi justru menemukan tempatnya di antara bintang-bintang.
2. Gaya Penceritaan
WALL-E punya keberanian dengan minim dialog di paruh pertamanya, membiarkan ekspresi visual dan musik berbicara.
Sedangkan Elio, tampaknya akan lebih banyak dialog dan interaksi karakter, mengingat konfliknya lebih bersifat diplomasi dan pertemanan dengan alien-alien unik.
3. Dunia Luar Angkasa yang Diciptakan
WALL-E menggambarkan luar angkasa yang sunyi, hampa, dan penuh sisa-sisa peradaban manusia.
Elio, sebaliknya, menghadirkan Communiverse, komunitas penuh warna dan kehidupan dari berbagai galaksi.
Begitulah, Sobat Yoursay. Meskipun sama-sama bertema luar angkasa, Elio bukanlah WALL-E versi baru. Elio membawa pendekatan yang lebih segar dengan dunia alien yang lebih berwarna dan kisah petualangan yang lebih personal.
Pixar sepertinya ingin mengeksplorasi bagaimana seorang anak menemukan keberanian dan identitasnya dalam skala intergalaksi. Dan Film Elio jelas layak ditunggu. Apakah film ini bisa meninggalkan jejak emosional sekuat WALL-E? Kita lihat saja saat film ini tayang di bioskop pada 20 Juni 2025!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Ulasan Film Monster Pabrik Rambut: Ketika Kapitalisme Menumbuhkan Monster
-
Di Balik Lapangan Hijau: Ambisi dan Kekuasaan dalam Film Mexico 86
-
Ulasan Film Miss You, Love You: Terkadang Ada Luka yang Nggak Bisa Sembuh
-
Film Nobody Loves Kay dan Sisi Gelap yang Jarang Dibahas dari Dunia Esports
-
Bukan Sekadar Salah Kelola: Ada Pola 'Titip Proyek' di Balik MBG?
Artikel Terkait
-
Review Film Mickey 17: Eksperimen Kloning di Koloni Luar Angkasa
-
Review The Artists: Bukti Nyata Sinema Nggak Butuh Dialog Untuk Dicintai
-
8 Anggota Avengers Absen di Film Avengers: Doomsday, Ada yang Mengejutkan!
-
Film Mungkin Kita Perlu Waktu: Kisah tentang Kehilangan dan Trauma Mendalam
-
Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Film Keluarga yang Bikin Penasaran
Entertainment
-
FLOW Kembali Isi Lagu Pembuka A Returner's Magic Should Be Special Season 2
-
Usai 3 Tahun Vakum, Hani EXID Kembali Lewat Drama Korea Love Is Coming
-
Sinopsis Bhooth Bangla, Film Akshay Kumar dan Wamiqa Gabbi di Netflix
-
Drama Korea Four Hands Tayang Agustus, Ini Jajaran Pemain Utamanya
-
Sinopsis Ichijigen no Sashiki, Drama Misteri Jepang Terbaru Ryosuke Yamada
Terkini
-
4 Smartphone 1 TB Paling Worth It 2026, Spek Dewa dengan Storage Raksasa
-
Ulasan Film Monster Pabrik Rambut: Ketika Kapitalisme Menumbuhkan Monster
-
Sering Diandalkan tapi Kesepian? Saatnya Anak Sulung Punya Ruang untuk Didengar
-
5 Jelly Mask Mawar untuk Redakan Kemerahan dan Bikin Kulit Glowing!
-
Mengapa Mengurangi Sampah Lebih Penting daripada Mendaur Ulangnya?