Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Scene Film Cek Khodam (Instagram/deecompany_official)
Athar Farha

Fenomena viral di media sosial seringkali berumur pendek. Hari ini jadi bahan pembicaraan semua orang, besok sudah tergeser tren baru. Karena itu, mengangkat tren internet ke layar lebar selalu mengandung risiko besar. Jika gagal mengembangkannya jadi cerita yang utuh, film hanya akan kayak kumpulan meme yang dipanjangkan. 

Film Cek Khodam untungnya nggak sepenuhnya terjebak di lubang itu. Film produksi Dee Company yang disutradarai Jeropoint ini mencoba memanfaatkan tren ‘cek khodam’ sebagai pintu masuk untuk menyindir kehidupan masyarakat modern yang perlahan kehilangan rasa takut sama hal-hal gaib.

Dirilis di bioskop Indonesia pada 16 Juli 2026 dengan durasi sekitar 110 menit, Cek Khodam dibintangi Jirayut Afisan, Saputra Kori, Benidictus Siregar, Angie Williams, Adi Sudirja, Cetul Leatherart, serta penampilan Kak Gem dan Tante Lala. Deretan pemainnya kebanyakan komedian dan kreator konten dibanding aktor drama serius. Dan pilihan itu membuat film ini tampak memahami identitasnya sejak awal. 

Ceritanya mengikuti Sakti, Wira, dan Bima, tiga sahabat yang mendadak terkenal berkat konten ‘cek khodam’. Mereka menjadikan dunia mistis sebagai hiburan yang mengundang jutaan penonton. Masalah muncul ketika popularitas mereka ternyata berdampak pada dunia gaib.

Angka ketakutan manusia terus menurun. Orang-orang nggak lagi gentar melihat pocong, genderuwo, atau khodam karena hidup mereka sudah dipenuhi kecemasan yang jauh lebih nyata. Tagihan listrik, cicilan, harga kebutuhan pokok, dan tekanan ekonomi menjadi monster yang jauh lebih menakutkan ketimbang makhluk halus.

Memang kisahnya lumayan menarik, sayangnya ….

Kisah Menarik tapi Nggak Diimbangi Naskah yang Sama Tajamnya

Poster Film Cek Khodam (Instagram/ deecompany_official)

Di paruh awal, film mampu menjaga ritme komedi dengan cukup baik. Candaan mengalir ringan dan chemistry Jirayut, Saputra Kori, serta Benidictus Siregar jadi penopang utama. Mereka terlihat nyaman bermain bersama sehingga banyak dialog terasa spontan. Jirayut bahkan tampil cukup mengejutkan. 

Namun, semakin cerita berjalan, film mulai memperlihatkan kelemahan yang cukup terasa. Banyak lelucon dibangun dari pola yang sama. Karakter hantu dibuat kikuk, manusia panik, lalu situasi berakhir dengan kekacauan. Formula itu memang berhasil memancing tawa pada awal film, tapi kehilangan tenaga ketika terus diulang. Akibatnya, beberapa adegan kayak sketsa komedi yang disusun berurutan, bukan perkembangan cerita yang membawa konflik menuju klimaks.

Masalah lain muncul pada eksplorasi dunia gaibnya. Film sebenarnya membuka peluang yang sangat menarik. Bayangkan jika dunia para khodam digambarkan sebagai birokrasi yang sedang krisis karena kehilangan ‘pelanggan’. Konsep itu bisa jadi satir yang jauh lebih liar dan menggigit. Sayangnya, film main aman. Dunia gaib lebih sering jadi latar untuk melontarkan lelucon dibanding dieksplorasi jadi bagian penting dari cerita.

Pilihan tersebut membuat kritik sosialnya setengah matang. Film berkali-kali mengatakan manusia sekarang lebih takut pada kondisi ekonomi daripada hantu. Gagasannya kuat, tapi penyampaiannya lebih banyak berhenti sebagai punchline. Padahal tema itu bisa berkembang menjadi komentar yang lebih tajam mengenai tekanan hidup masyarakat, budaya viral, bahkan industri konten yang rela memanfaatkan apa saja demi angka penonton.

Dari sisi visual, Cek Khodam juga nggak menawarkan sesuatu yang istimewa. Efek visualnya cukup untuk mendukung cerita, tapi nggak meninggalkan kesan mendalam. Desain para makhluk gaib cenderung bermain aman sehingga sulit menghadirkan visual yang kuat. Untungnya, film memang nggak menjual kengerian. Fokus utamanya tetap pada komedi sehingga kekurangan ini nggak terlalu mengganggu pengalaman menonton.

Meski begitu, film ini tetap berhasil melakukan satu hal yang cukup penting, yakni memahami target penontonnya. Film Cek Khodam nggak sibuk mengejar status sebagai horor paling menyeramkan atau komedi paling lucu. Film ini hanya ingin menjadi hiburan yang dekat dengan budaya internet Indonesia. Dalam konteks itu, misinya bisa dibilang tercapai. Banyak referensi media sosial begitu akrab bagi penonton yang mengikuti tren beberapa tahun terakhir.

Hanya saja, kedekatan dengan tren juga jadi pedang bermata dua. Humor yang bergantung pada fenomena viral memiliki umur yang pendek. Apa yang lucu hari ini belum tentu masih relevan beberapa tahun mendatang. Risiko itu membuat Film Cek Khodam cepat kehilangan daya tariknya. 

Film ini memang menghibur, tapi terlalu puas menjadi lucu ketika sebenarnya memiliki kesempatan menjadi jauh lebih cerdas. Sayang sekali. 

Sobat Yoursay tertarik nonton Film Cek Khodam? Buruan ke bioskop mumpung masih tayang. Selamat nonton.