Isu child grooming sering kali terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang membayangkannya sebagai kejahatan yang dilakukan orang asing di tempat gelap, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dan dekat.
Grooming kerap terjadi di ruang yang tampak aman, rumah, sekolah, lingkungan hobi, bahkan relasi keluarga. Sejumlah film berani mengangkat tema ini dengan sudut pandang yang jujur dan menyayat, sekaligus membuka kesadaran bahwa siapa pun bisa menjadi korban, dan sering kali tanpa disadari.
Berikut beberapa film yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga penting untuk ditonton karena menggambarkan bagaimana praktik grooming bekerja secara halus dan manipulatif.
1. The Tale (2018)
The Tale menjadi salah satu film paling kuat dalam membahas grooming karena diangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara, Jennifer Fox. Dibintangi Laura Dern, film ini mengikuti perjalanan seorang perempuan dewasa yang mulai menyadari kembali trauma masa kecilnya setelah menemukan esai lama yang ia tulis saat remaja.
Saat berusia 13 tahun, tokoh utama mengikuti kelas berkuda dan menjalin hubungan dengan dua figur dewasa yang memiliki posisi otoritas. Hubungan tersebut kala itu ia anggap sebagai kisah cinta, bukan kekerasan. Namun, seiring bertambahnya usia dan pemahaman, ia menyadari bahwa dirinya telah dimanipulasi dan dieksploitasi.
Yang membuat The Tale begitu menghantui adalah cara film ini menunjukkan bagaimana grooming bisa terasa “normal” bagi korban. Tidak ada kekerasan fisik yang terang-terangan, melainkan rangkaian manipulasi emosional yang membuat korban percaya bahwa semua terjadi atas persetujuan. Film ini mengingatkan bahwa kesadaran sering kali datang terlambat, dan trauma bisa bersembunyi dalam ingatan selama bertahun-tahun.
2. Love According to Dalva (2022)
Berbeda dengan The Tale, film Love According to Dalva memilih sudut pandang anak sebagai pusat cerita. Dalva adalah bocah 12 tahun yang hidup bersama ayahnya setelah perceraian orang tuanya. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan pola asuh yang tidak wajar, diperlakukan layaknya perempuan dewasa, bukan anak-anak.
Film ini dengan jujur menampilkan bagaimana grooming dapat dilakukan oleh orang terdekat. Dalva tidak merasa dirinya menjadi korban. Justru ketika aparat berwenang memisahkannya dari sang ayah, ia memberontak, marah, dan ingin kembali. Reaksi ini terasa menyakitkan, namun realistis, karena ikatan emosional hasil manipulasi tidak mudah diputus.
Love According to Dalva memperlihatkan dampak psikologis grooming yang dalam, korban sering kali membela pelaku, menolak kenyataan, dan membutuhkan waktu panjang untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
3. Palm Trees and Power Lines (2022)
Film ini menyoroti sisi grooming yang kerap luput disadari, yakni rasa kesepian remaja. Lea, seorang gadis muda, merasa terasing dari lingkungan sebayanya. Kekosongan itu kemudian diisi oleh perhatian seorang pria dewasa yang terlihat peduli dan penuh pengertian.
Tanpa disadari Lea, perhatian tersebut adalah pintu masuk ke dalam lingkaran manipulasi yang lebih gelap. Film ini menggambarkan bagaimana grooming sering kali dimulai dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Pelaku tidak selalu tampil menakutkan, justru sering hadir sebagai sosok yang “mengerti”.
Palm Trees and Power Lines terasa realistis dan tidak sensasional. Ia menunjukkan betapa sulitnya korban keluar dari relasi manipulatif, bahkan ketika tanda bahaya sudah terlihat oleh orang lain.
4. Silenced (2011)
Film Korea Selatan Silenced atau Dogani menghadirkan gambaran paling brutal tentang kekerasan seksual terhadap anak. Diadaptasi dari kisah nyata, film ini mengisahkan perjuangan seorang guru yang mengungkap kejahatan seksual di sekolah tunarungu.
Selama bertahun-tahun, murid-murid disabilitas mengalami kekerasan seksual dari pihak yang seharusnya melindungi mereka. Yang paling mengguncang, film ini tidak hanya menampilkan korban perempuan, tetapi juga laki-laki, mengingatkan bahwa grooming dan kekerasan seksual tidak mengenal gender.
Silenced bukan hanya film, tetapi juga pemantik perubahan sosial. Usai perilisannya, film ini mendorong publik Korea Selatan menuntut perubahan hukum terkait kejahatan seksual terhadap anak.
Keempat film tersebut menunjukkan satu benang merah, grooming bekerja secara perlahan, manipulatif, dan sering tidak disadari korban. Tidak selalu ada paksaan fisik, namun ada penyalahgunaan kuasa, kepercayaan, dan kerentanan emosional.
Film-film ini penting bukan untuk ditonton demi hiburan semata, melainkan sebagai pengingat bahwa kewaspadaan harus selalu ada, baik sebagai orang tua, pendidik, maupun individu dewasa. Dengan memahami bagaimana grooming digambarkan dalam film, kita diajak lebih peka terhadap tanda-tanda yang sering kali tersembunyi.
Baca Juga
-
Profil Aurelie Moeremans, Aktris Multitalenta di Balik Buku Broken Strings
-
Sinopsis Surat untuk Masa Mudaku, Film Baru Netflix tentang Luka Masa Kecil
-
5 Film Aurel Moeremans yang Wajib Masuk Wishlist Tontonanmu
-
Dibintangi Mawar de Jongh dan Rey Bong, Ini Fakta Menarik Film Adaptasi Novel Khoirul Trian
-
Usai Agak Laen, Oki Rengga Siap Bikin Ketawa Lewat Film Macam Betool Aja
Artikel Terkait
-
Alasan Aurelie Moeremans Tulis Broken Strings, Berdamai dengan Masa Lalu yang Pahit
-
Ciri-Ciri Pelaku Grooming Menurut Psikolog, Dikaitkan dengan Sosok Bobby di Memoar Broken Strings
-
Kenapa Pelaku Child Grooming Sering Denial? Psikolog Anak Ungkap 10 Pola Pikir Ini
-
Dibintangi Aulia Sarah, Film Sengkolo: Petaka Satu Suro Sajikan Teror Horor Psikologis
-
Tips Memilih Sepatu Jalan Nyaman untuk Orang Tua, Ini 5 Rekomendasi yang Gak Bikin Pegal
Entertainment
-
Kontrak Berakhir, BoA Hengkang dari SM Entertainment usai 25 Tahun Bersama
-
Teuku Rassya Matangkan Persiapan Pernikahan, Usung Adat Aceh dan Jepang
-
Usai Baca Buku Aurelie Moeremans, Jessica Iskandar Ungkap Cerita Pribadi
-
Profil Aurelie Moeremans, Aktris Multitalenta di Balik Buku Broken Strings
-
5 Drama China Kostum yang Dikabarkan Tayang 2026, Mana yang Paling Dinanti?
Terkini
-
Raka dan Lara: Di Antara Aroma Kopi dan Tatapan Pertama
-
Duo Striker Brazil Jalani Naturalisasi, Bisa Jadi Opsi Lini Depan Timnas Indonesia?
-
6 Toner Korea Bebas Fragrance untuk Kulit Sensitif, Kemerahan Auto Hilang!
-
Mengawal Hukum atau Mengintimidasi? Kehadiran TNI di Ruang Sidang Tipikor
-
Perjuangan Hak Perempuan: 4 Film Sinema Dunia yang Menginspirasi Perubahan Sosial