Dulu, saat masih kecil, rasanya mudah sekali bercerita kepada orang tua. Apa pun yang terjadi di sekolah, dengan teman, atau sekadar hal sepele, langsung ingin diceritakan. Orang tua adalah tempat pertama yang terlintas ketika hati ingin sekali untuk curhat.
Namun, seiring bertambahnya usia, kebiasaan itu perlahan berubah. Ada jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa. Berbagi cerita tidak lagi semudah dulu. Bahkan, ada yang memilih untuk tidak bercerita sama sekali. Anggapan bahwa orang tua adalah rumah pertama mulai bergeser.
Sebagian anak merasa setiap kali mencoba curhat, ceritanya belum selesai sudah lebih dulu disela. Kalimat belum tuntas, tetapi nasihat sudah datang. Dari situ muncul rasa enggan. Jika setiap cerita berakhir dengan interupsi, lama-kelamaan muncul pertanyaan dalam hati: untuk apa melanjutkan?
Ketika Cerita Belum Selesai, Nasihat Sudah Datang
Tidak sedikit anak yang datang kepada orang tua hanya untuk berkeluh kesah. Niatnya sederhana. Mereka ingin mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Cerita dipotong dan nasihat langsung diberikan. Bahkan dalam beberapa situasi, responsnya berupa amarah.
Dalam kondisi seperti ini, anak merasa tidak benar-benar didengarkan. Mereka seolah tidak diberi kesempatan menuntaskan isi hati. Padahal, yang dibutuhkan saat itu bukan solusi. Mereka hanya ingin ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa dihakimi.
Di sisi lain, orang tua sebenarnya sedang berusaha membantu. Mereka ingin memberi jalan keluar agar masalah tidak berlarut. Niatnya baik. Hanya saja, caranya sering terasa terlalu cepat. Anak belum selesai berbicara, tetapi orang tua sudah sibuk memperbaiki.
Protes yang Berujung Label Durhaka
Masalah menjadi lebih rumit ketika anak mencoba bersuara. Kalimat sederhana seperti, “Tolong dengarkan dulu, ceritanya belum selesai,” kadang justru memicu respons yang tidak menyenangkan. Orang tua dapat melihatnya sebagai bentuk pembangkangan. Bahkan, ada yang langsung memberi label durhaka.
Budaya hierarki dalam keluarga ikut berperan. Anak ditempatkan pada posisi yang harus patuh. Pendapat dianggap sebagai perlawanan. Dalam situasi seperti itu, ruang untuk berkomunikasi yang sehat menjadi sulit dicapai.
Dampaknya cukup jelas. Anak mulai merasa orang tua bukan lagi tempat aman untuk bercerita. Pilihan paling aman adalah diam. Mereka menahan cerita untuk menghindari konflik. Dalam hal ini, diamnya mereka bukan berarti tidak peduli, tetapi cara untuk bertahan.
Generasi yang Lebih Sadar tentang Kesehatan Mental
Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan zaman. Generasi sekarang tumbuh dengan paparan informasi yang luas. Media sosial memperkenalkan istilah seperti validasi, batasan diri, dan trauma. Percakapan tentang kesehatan mental menjadi lebih terbuka.
Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup di masa ketika isu seperti ini jarang dibahas. Wajar jika ada perbedaan cara pandang. Anak menjadi lebih sadar akan pentingnya komunikasi yang setara, sementara orang tua tetap berpegang pada pola yang mereka anggap benar sejak dulu.
Perbedaan ini bukan berarti anak merasa lebih pintar. Mereka hanya memiliki bahasa baru untuk menjelaskan perasaan. Sayangnya, bahasa tersebut tidak selalu dipahami lintas generasi. Dari sinilah jarak komunikasi muncul. Bukan karena tidak saling menyayangi, tetapi karena tidak saling mengerti.
Mencari Titik Temu
Untuk menengahi situasi ini, kedua pihak perlu saling memahami. Orang tua perlu menyadari bahwa keinginan anak untuk didengarkan adalah kebutuhan emosional yang wajar. Mendengar sepenuhnya tidak mengurangi wibawanya sebagai orang dewasa.
Di sisi lain, anak juga perlu memahami bahwa orang tua dibentuk oleh zaman yang berbeda. Cara mereka berkomunikasi dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang tidak sama. Ada pola yang sulit diubah dalam waktu singkat.
Komunikasi yang sehat lahir dari kesediaan untuk saling menahan diri. Duduk bersama lalu berbicara dengan kepala dingin. Mendengarkan tanpa menyela. Dengan begitu, anak mendapat kesempatan menyampaikan isi hati. Orang tua pun bisa memahami masalah secara utuh sebelum memberi nasihat.
Perlu diketahui, sebagian besar orang tua selalu menginginkan yang terbaik. Mereka tidak ingin anaknya tersesat atau terluka. Niat itu memang terlihat tulus. Namun, niat baik tetap membutuhkan cara yang tepat. Terkadang yang dibutuhkan anak bukan jawaban, melainkan seseorang yang mampu memahaminya tanpa ada niat menghakimi. Mungkin yang kita cari bukanlah orang tua yang sempurna, melainkan ruang di mana cerita bisa didengar seutuhnya.
Baca Juga
-
Saat Curhat ke AI Jadi Kebiasaan Baru: Apakah Ini Wujud Kesepian di Era Digital?
-
Viral Diskusi Buku Jelek di X: Bisakah Selera Diadili?
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Antara Emosi dan Algoritma: Mengapa FYP Dipenuhi Lagu Galau?
-
Sisi Lain Hobi Membaca: Antara Kesehatan Mental dan Kelelahan Emosional
Artikel Terkait
-
Gen Halilintar Kalah, Gubernur Kaltim dan Istri 'Noni Belanda' Punya 13 Anak
-
Meriam Bellina - Ikang Fawzi Perankan Orang Tua dengan Ujian Berat di Film "Titip Bunda di Surga-Mu"
-
Studi Global: Kedekatan dengan Hewan Bantu Anak Perempuan Lebih Kreatif dan Percaya Diri
-
MBG dan Pergeseran Peran Psikologis Orang Tua
-
Nama Anak Ketiga Lesti Kejora dan Rizky Billar Belum Juga Diumumkan, Ini Sedikit Bocorannya
Kolom
-
Dopamin Jam 3 Pagi: Ketika Setan Dibelenggu, Tapi Doomscrolling Terus Melaju
-
Membunuh Literasi, Membunuh Demokrasi: Saat Akses Bacaan Dicekik Negara
-
Misi Glow Up Lebaran: Antara Kejar Tayang Kulit Bening dan Dompet yang Kering
-
MBG dan Pergeseran Peran Psikologis Orang Tua
-
Tutorial Jadi Generasi Sandwich: Kenyang Makan Hati, Dompet Diet Ketat
Terkini
-
Di Antara Seteguk Air dan Sebutir Kurma
-
Cari HP Budget 5 Jutaan? Ini 5 HP Spek Flagship Paling Masuk Akal
-
Sinopsis Ladies on Top, Drama Romcom Jepang Dibintangi Shida Kohaku
-
Opornya Hangat, Tapi Kok Hati Dingin? Rahasia di Balik Rasa Hampa Saat Bulan Suci
-
Ulasan Buku Anya's Ghost,Persahabatan Beracun dari Alam Baka