Nama Dilan selama ini identik dengan sosok remaja SMA yang santai, penuh gombalan, dan dekat dengan kisah cinta manis ala anak muda. Namun lewat Dilan ITB 1997, suasana yang dihadirkan terasa cukup berbeda dibanding film-film sebelumnya.
Film ini membawa Dilan ke fase kehidupan yang lebih dewasa saat dirinya menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1997. Nuansa kampus, dinamika pertemanan mahasiswa, hingga situasi sosial akhir 90-an membuat cerita terasa lebih tenang dan reflektif.
Jika dulu penonton terbiasa melihat Dilan dengan obrolan ringan dan tingkah jahil khas anak SMA, kini karakternya terlihat lebih banyak menghadapi konflik batin. Romansa masih menjadi bagian penting cerita, tetapi pendekatannya terasa lebih realistis dan tidak lagi semanis kisah cinta masa sekolah.
Atmosfer Bandung era 90-an juga menjadi salah satu daya tarik yang cukup kuat di film ini. Jalanan kota, suasana kampus, hingga gaya visualnya menghadirkan rasa nostalgia yang berbeda, terutama bagi penonton yang tumbuh bersama franchise Dilan sejak awal.
Hal yang paling ramai dibicarakan tentu kehadiran Ariel NOAH sebagai Dilan versi dewasa. Pergantian pemeran ini sempat memunculkan pro dan kontra di media sosial karena karakter Dilan sebelumnya sudah sangat melekat dengan sosok remaja SMA.
Meski begitu, banyak juga penonton yang penasaran melihat bagaimana Ariel membawa sisi Dilan yang lebih matang dan emosional. Karakternya kini terasa lebih tenang, tetapi tetap menyimpan sisi puitis yang menjadi ciri khas Dilan sejak dulu.
Menariknya, film ini juga disebut menghadirkan sisi Dilan yang lebih aktif dalam dunia kampus dan suasana sosial menjelang reformasi. Hal itu membuat cerita terasa lebih luas dibanding film sebelumnya yang lebih fokus pada romansa remaja.
Selain menjadi pemeran utama, Ariel NOAH juga ikut mengisi soundtrack film. Nuansa musik yang digunakan terasa cukup mendukung atmosfer nostalgia dan emosional yang dibangun sepanjang cerita.
Film ini juga menghadirkan Raline Shah dan Niken Anjani yang ikut membawa warna baru dalam perjalanan hidup Dilan. Hubungan Dilan dengan Ancika disebut menjadi salah satu bagian penting yang membuat sisi emosional film terasa lebih dewasa dan kompleks.
Meski begitu, Dilan ITB 1997 tampaknya tetap mempertahankan elemen nostalgia yang menjadi ciri khas franchise ini. Penonton lama kemungkinan masih akan menemukan sisi Dilan yang ikonik, hanya saja kini dibalut dengan suasana yang lebih matang, melankolis, dan dekat dengan realita kehidupan setelah masa SMA.
Bagi yang mengikuti perjalanan Dilan sejak awal, film ini terasa seperti melihat karakter yang ikut tumbuh bersama penontonnya. Karena itulah vibe Dilan ITB 1997 terasa berbeda bukan hanya dari ceritanya, tetapi juga dari cara film ini menggambarkan fase hidup yang perlahan mulai berubah.
Baca Juga
-
Realme C100 Bisa Tahan Seharian Lebih, Ada Faktor Lain di Balik 8000 mAh
-
Sung Kang ke Indonesia, The Elite Showcase 2026 Jadi Nostalgia Tokyo Drift?
-
Wow! Yamaha XMAX Disulap Jadi Motor Cyberpunk dari Serial Tokyo Override
-
Bukan Vespa, Scomadi Technica 200i Hadir dengan Gaya Adventure Klasik Retro
-
Bosan Desain TWS Itu-itu Aja? Realme Buds T500 Pro Bawa Desain Kotak Permen
Artikel Terkait
Entertainment
-
Kyoto Animation Garap Film Anime The Credits Roll Into The Sea, Tayang 2027
-
Kisah Dante Berlanjut, Devil May Cry Season 2 Tayang 12 Mei di Netflix
-
Makin Meroket, Byeon Woo Seok Resmi Jadi Brand Ambassador BVLGARI
-
Rilis di Netflix, Straight to Hell Kuak Sisi Lain Peramal Terkenal Sedunia
-
7 Film Netflix yang Wajib Kamu Tonton Mei 2026: Awas, Ada yang Bikin Susah Tidur!
Terkini
-
Realme C100 Bisa Tahan Seharian Lebih, Ada Faktor Lain di Balik 8000 mAh
-
Membaca Realitas Pekerja Kota Besar dari Lagu Hatchu!! Karya Salma Salsabil
-
GIVERS: Menjembatani Ketimpangan, Membawa Senyum Melalui Surplus Pangan
-
Sung Kang ke Indonesia, The Elite Showcase 2026 Jadi Nostalgia Tokyo Drift?
-
Huawei Nova 15 Max Rilis: Usung Baterai 8500 mAh dengan Layar Super Terang