Indonesia masih menghadapi dua persoalan yang berjalan beriringan: tingginya limbah makanan dan ketimpangan akses pangan bagi masyarakat rentan. Di tengah kondisi tersebut, banyak makanan layak konsumsi berakhir terbuang, sementara sebagian masyarakat masih kesulitan mendapatkan makanan yang cukup.
Berangkat dari keresahan itu, Food Cycle Indonesia hadir sebagai jembatan antara surplus makanan dan masyarakat yang membutuhkan. Komunitas ini didirikan oleh Herman Andrianto dan Astrid Paramita yang melihat persoalan food waste bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Dengan latar belakang teknik pangan dan industri hospitality, keduanya mencoba membangun gerakan penyelamatan pangan berbasis solidaritas sosial.
Nilai-Nilai yang Tertanam
Di sisi industri, surplus makanan sering terjadi akibat produksi berlebih, acara yang menyisakan konsumsi, hingga distribusi yang tidak terserap maksimal. Sementara di sisi lain, masih banyak masyarakat ekonomi rentan yang belum mendapatkan akses makanan layak setiap hari.
Bagi Food Cycle Indonesia, setiap makanan yang masih layak konsumsi memiliki nilai yang harus diselamatkan. Karena itu, makanan yang berpotensi terbuang dikumpulkan dan didistribusikan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan melalui jaringan relawan dan lembaga sosial.
Di balik proses logistik tersebut, Food Cycle Indonesia juga menanamkan nilai kemanusiaan dan spiritualitas kepada para staf dan relawan. Organisasi ini memiliki filosofi “GIVERS”, akronim dari God, Integrity, Perseverance, Excellent Collaboration, dan Selfless, yang menjadi dasar dalam menjalankan misi sosial mereka.
Business Development dan Marketing Food Cycle Indonesia, Kukuh Napaki, mengatakan setiap bantuan yang diberikan dipandang sebagai bentuk pelayanan, bukan sekadar aktivitas distribusi makanan.
“Kita menanamkan nilai-nilai ke tim dan volunteer yang join, bahwa kita memberikan bantuan semata-mata bukan karena kita punya, tapi karena perantara dari Tuhan,” ujar Kukuh.
Menurutnya, makanan berlebih seharusnya tidak berakhir menjadi limbah ketika masih dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Prinsip tersebut tercermin dalam jargon komunitas mereka, yakni “makanan berlebih harusnya jadi sedekah, bukan jadi limbah”.
Dalam praktiknya, Food Cycle Indonesia juga bekerja sama dengan berbagai lembaga sosial dan komunitas lokal untuk memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran. Koordinasi tersebut dinilai penting agar distribusi pangan dapat menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Bagi komunitas ini, kisah masyarakat yang terbantu menjadi motivasi utama untuk terus menjalankan gerakan penyelamatan pangan. Food Cycle Indonesia berharap kesadaran mengenai pentingnya mengurangi food waste dan berbagi pangan dapat semakin meluas di tengah masyarakat.
Penulis: Vicka Rumanti
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
News
-
Menjaga Nostalgia, Merangkul Semua: Upaya Orutaku Club Agar Tetap Inklusif
-
Pelajar SMP Indonesia Juara ESD Symposium di Malaysia, Kalahkan Peserta SMA dari Berbagai Negara
-
Transformasi Manajemen Masjid: Dosen UNY Latih Takmir di Klaten Bangun Ekosistem yang Solutif
-
Kisah di Balik Angka 8%: Saat Suara Driver Ojol Akhirnya Didengar Istana
-
Nonton Pee Nak 5: Siap-siap Ketawa di Antara Jump Scare yang Bikin Jantungan!
Terkini
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
5 Moisturizer untuk Base Makeup, Bikin Riasan Lebih Nempel dan Flawless
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
-
First Look Film Werwulf, Aaron Taylor-Johnson Jadi Manusia Serigala
-
10 Lagu Piala Dunia Terbaik Sepanjang Massa, Nomor Dua Masih Favorit Dunia