M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Potret musisi asal Jepang, Otoha saat press conferece di acara MMAJ 2026, Sabtu, (30/5/26) (Dok. Pribadi/ Vicka Rumanti)
Vicka Rumanti

Hubungan antara penikmat budaya pop di Indonesia dengan para kreator dan musisi internasional di media sosial sering kali hanya terasa seperti sekumpulan angka digital yang abstrak. Namun, kini hubungan tersebut telah bergeser ke arah yang jauh lebih interaktif, terutama antara para penggemar anime lokal dengan kreator asal Jepang.

Tidak lagi sekadar mengonsumsi karya secara pasif, para penggemar kini aktif membangun komunikasi dua arah melalui berbagai platform digital. Menariknya, aktivitas ini tidak hanya berhenti sebagai pelipur lara di kolom komentar, melainkan menjadi alasan utama bagi para artis global untuk merancang perjalanan mereka menuju pasar Indonesia.

Dari sini, ruang digital bertransformasi menjadi jembatan awal yang meruntuhkan sekat antarnegara sebelum interaksi fisik itu benar-benar terjadi.

Album Last Planet sebagai Medium Bercerita

Pengalaman berharga ini dirasakan langsung oleh artis penampil asal Jepang, Otoha. Ia mengaku sangat menantikan momen tatap muka untuk membagikan kisah hidupnya melalui musik. Dalam acara konferensi pers Merah Merah Anime Jepang 2026 pada Sabtu (20/5/2026) di Gandaria City Mall, ia memaparkan bagaimana album terbarunya menjadi medium bertukar cerita yang kini bisa dinikmati bersama secara langsung.

"Jadi, album terbaru saya judulnya Last Planet, dan tur ini judulnya Our Planet. Ini adalah album pertama yang bisa saya rilis. Saya sendiri bisa menceritakan story kehidupan saya selama ini di dalam album tersebut. Semoga momen-momen ini bisa kita bagikan ke teman-teman fans dari Jepang maupun Indonesia untuk menikmati life story saya," jelas Otoha.

Menepis Keraguan di Dunia Maya

Sebelum menginjakkan kaki di Tanah Air, Otoha mengaku sempat tidak percaya dengan popularitasnya di Indonesia. Jarak geografis dan perbedaan bahasa sering memicu keraguan apakah ramainya dukungan di dunia maya benar-benar mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Ia pun secara jujur mengungkapkan kebimbangan psikologis yang sempat dialaminya sebelum datang langsung ke Jakarta.

"Ini kali pertama dalam hidup saya datang ke Indonesia. Kadang, ada yang komen dari teman-teman Indonesia lewat media sosial, itu selalu terasa dan saya sangat senang sekali. Namun, saya sendiri agak ragu, ‘Ini beneran nggak sih dukungan dari Indonesia?’ Jadi, hari ini saya datang dan bisa memastikannya. Apakah beneran ada fans di Indonesia atau tidak. Saya sangat-sangat menantikan performance di sini,” ungkapnya antusias.

Fenomena transisi dari layar ke realitas ini memperlihatkan bentuk pertukaran budaya modern yang sangat dinamis. Kehadiran musisi terkemuka asal Jepang ke Indonesia bukan lagi sekadar agenda tur rutin, melainkan sebuah bentuk apresiasi dan jawaban langsung atas riuhnya dukungan digital yang selama ini mereka terima.