“It takes a village to raise a child”, begitulah sebuah pepatah Afrika kuno berkata. Maksud dari kalimat ini adalah butuh satu desa untuk membesarkan seorang anak. Namun kenyataannya, di era modern ini, kota-kota besar sering kali mengikis eksistensi “desa” sehingga menjadikan para ibu baru berjuang dalam ruang domestik yang melelahkan.
Hal tersebut didukung dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan terus mengalami peningkatan signifikan, dari 53,13 persen pada 2020 hingga menyentuh angka 56,63 persen pada 2025. Kenaikan ini memperlihatkan semakin banyaknya perempuan dan ibu baru yang aktif di pasar tenaga kerja, namun di sisi lain harus menghadapi beban ganda di tengah minimnya sistem pendukung.
Realitas itulah yang memicu kegelisahan personal founder Dear Tante, Izza Fidaul untuk menginisiasi sebuah komunitas yang akhirnya lahir pada Juni 2025. Ide ini mengkristal ketika Izza melihat bagaimana kakak iparnya yang merupakan seorang perempuan pekerja, harus menyeimbangkan berbagai peran sekaligus saat melahirkan anak pertama. Sebagai tante baru, Izza menyadari adanya sebuah celah kosong di mana orang-orang dewasa di sekitar anak sebenarnya ingin membantu, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya.
“Kita semua sebenarnya bisa mengambil peran, sekecil apa pun. Bukan untuk menggantikan orang tua, melainkan untuk menjadi bagian dari support system yang membantu ibu merasa tidak sendirian, membantu anak bertumbuh dengan lebih banyak figur dewasa yang peduli, dan pada saat yang sama membuat kita sendiri belajar menjadi manusia yang lebih berempati,” ujar Izza saat berbincang online, ditulis Senin (15/6/2026).
Ruang Aman dalam Keluarga
Dear Tante tidak dirancang untuk menjadi gerakan yang masif secara kuantitas, melainkan sebuah ruang aman yang intim bagi perempuan dan keluarga. Gerakan ini memposisikan diri sebagai wadah inklusif untuk belajar, bertumbuh, dan saling mendukung.
Melalui persona seorang "Tante", komunitas yang berbasis di Surabaya dan Jakarta ini ingin membangun kembali budaya kepedulian yang organik. Tante dipilih karena posisinya yang unik di dalam struktur keluarga. Ia bukan orang tua yang menuntut, tetapi juga bukan orang asing yang berjarak.
Izza menjelaskan filosofi mendalam di balik pemilihan figur ini:
"Banyak dari kita tumbuh dengan figur tante yang bisa diajak bercerita, dimintai pendapat, atau sekadar menjadi teman yang menyenangkan. Dear Tante ingin menghidupkan kembali peran itu: menjadi ruang yang hangat, tidak menghakimi, dan cukup dekat untuk saling mendukung. Pada akhirnya, 'tante' di sini bukan hanya soal hubungan biologis, tetapi juga tentang sikap dan kepedulian terhadap orang-orang di sekitar kita."
Komunitas ini secara aktif mengedukasi anggotanya melalui berbagai program, mulai dari diskusi daring hingga kelas kerajinan tangan dan permainan Reflective Card secara luring. Lewat aksi nyata tersebut, Dear Tante membuktikan bahwa kontribusi sekecil apa pun dari lingkungan sekitar dapat memberikan dampak domino yang besar bagi kesejahteraan mental sebuah keluarga.
Melalui gaya komunikasi yang teduh, Dear Tante kini berkembang menjadi tempat belajar dan bertumbuh bersama. Di sini, setiap anggota diajak untuk saling mendengar tanpa cepat-cepat menghakimi atau sekadar menuntut solusi. Komunitas ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak serba digital, ruang-ruang percakapan yang humanis dan penuh empati untuk saling menguatkan antarperempuan masih sangat dibutuhkan.
Baca Juga
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Bukan Cuma Hobi, Fanatisme Anime Kini Jadi Sektor Bisnis Kreatif Indonesia!
-
Syukuran Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Cetakan ke-100: Ada Extra Chapter dan Bocoran Film!
-
Di Balik Viral Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Ada Psikiater yang Ikut Mengawal Cerita
Artikel Terkait
-
Rasio Wirausaha RI Loyo, Eddy Sambuaga Pimpin KWG Siap Kejar Ketertinggalan
-
Lebih dari Ruang Curhat, Persulungan Hadir sebagai Wadah Belajar dan Bertumbuh bagi Anak Sulung
-
Semangat Kebersamaan dan Interaksi Bermakna Warnai Nadaloka 2026
-
Fandom Mark Lee Salurkan 5 Hewan Qurban untuk 300 Warga Pelosok Jawa Barat
-
Persulungan, Ruang Aman dan Tumbuh bagi Mereka yang Terlahir sebagai Anak Sulung
News
-
KB Gantari dan Ruang Creative Jadi Ruang Anak Tumbuh Kreatif Lewat Bermain
-
Tiga Hal Saja, dan Itu Sudah Lebih Dari Cukup
-
Zuri Hotel Management Gelar Donor Darah Serentak di Berbagai Wilayah Indonesia
-
Meriah! IHR Piala Paku Alam 2026 Hadirkan Balapan Kuda hingga Konser Inul Daratista
-
6 Poin Kritis dr. Tirta di Tengah Carut-Marut Kebijakan: Dari Pertamax hingga Makan Bergizi Gratis
Terkini
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
Baru Mulai 6 Menit, Felix Nmecha Cetak Gol Kilat Jerman di Piala Dunia 2026
-
Qualcomm Snapdragon X2 Elite atau Nvidia RTX Spark, Mana Chip ARM Terbaik untuk Laptop?
-
Rayakan 10 Tahun Debut, NCT Dream Akan Gelar Fan Meeting Agustus Mendatang
-
Saat Stres dan Belanja Mulai Sulit Dipisahkan, Paylater Jadi Pelarian?