Momen pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner beberapa waktu lalu tidak hanya menarik perhatian karena suasana haru dan romantisnya. Ada satu sosok kecil yang ikut menjadi sorotan publik: Kamari Sky Wassink.
Di tengah acara yang panjang, ramai, dan penuh orang, situasi tersebut biasanya cukup menantang untuk balita. Namun, Kamari justru terlihat tenang, kooperatif, dan minim drama. Ia mengikuti prosesi dengan nyaman, bahkan beberapa kali tampil santai mendampingi sang ibu. Momen itu membuat banyak warganet bertanya-tanya: bagaimana seorang balita bisa tampak begitu anteng di tengah acara besar?
Jawaban yang kemudian ramai diperbincangkan adalah pola makan Kamari yang disebut minim atau tanpa gula tambahan sejak kecil. Jennifer sendiri pernah mengungkap bahwa Kamari tidak diperkenalkan pada makanan manis pada usia sangat dini dan lebih banyak mengonsumsi makanan alami.
Lalu, muncul asumsi yang cepat menyebar: anak tenang berarti karena tidak makan gula.
Namun, apakah sesederhana itu?
Mitos Lama Bernama Sugar Rush
Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa gula membuat anak langsung hiperaktif. Setelah makan kue, minum minuman manis, atau pulang dari pesta ulang tahun, anak terlihat lebih aktif dan sulit diam. Fenomena ini dikenal sebagai sugar rush.
Masalahnya, penelitian ilmiah belum menemukan bukti kuat bahwa konsumsi gula secara langsung menyebabkan anak menjadi hiperaktif.
Sejumlah studi yang membandingkan kelompok anak dengan konsumsi gula dan pemanis buatan menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang terlihat sering kali tidak berbeda secara signifikan.
Menariknya, dalam beberapa penelitian lain, orang tua yang percaya anaknya baru mengonsumsi gula cenderung menilai anak menjadi lebih aktif bahkan ketika sebenarnya anak tersebut tidak mengonsumsi gula sama sekali.
Artinya, ekspektasi orang dewasa kadang ikut membentuk persepsi.
Selain itu, makanan manis biasanya hadir bersamaan dengan suasana yang memang membuat anak lebih bersemangat: pesta, liburan, bermain bersama teman, atau lingkungan yang lebih bebas dari aturan harian.
Membatasi Gula Tetap Ada Manfaatnya
Meski sugar rush masih diperdebatkan, bukan berarti pembatasan gula tidak berguna.
Justru di sinilah sering terjadi salah paham.
Membatasi gula tambahan tetap dianjurkan dalam pola makan anak karena berkaitan dengan kestabilan energi, kualitas tidur, kesehatan gigi, dan pembentukan pola makan jangka panjang.
Gula sederhana diserap tubuh dengan cepat. Setelah kadar gula darah naik, tubuh akan mengeluarkan insulin untuk menurunkannya kembali.
Pada sebagian anak, perubahan energi yang terlalu cepat ini bisa diikuti rasa lelah mendadak, mudah lapar, perubahan suasana hati, atau menjadi lebih sensitif.
Fenomena ini lebih dekat dengan konsep sugar crash daripada sugar rush.
Pada balita yang belum mampu mengungkapkan rasa tidak nyaman dengan kata-kata, kondisi tersebut kadang muncul dalam bentuk rewel, mudah frustrasi, atau tantrum.
Karena itu, pola makan yang lebih stabil, misalnya lebih banyak real food, cukup protein, buah, sayur, dan minim gula tambahan, tetap punya manfaat terhadap kenyamanan anak sehari-hari.
Anak Kalem Tidak Dibentuk dalam Satu Piring Makan
Yang sering terlupakan dari diskusi ini adalah satu hal: perilaku anak tidak pernah dibentuk oleh satu faktor saja.
Anak yang tampak tenang bukan otomatis karena tidak makan gula.
Dalam psikologi perkembangan, ada konsep temperamen bawaan. Ada anak yang memang sejak lahir lebih adaptif, mudah tenang, dan nyaman di lingkungan baru. Ada juga yang lebih sensitif terhadap suara, perubahan suasana, atau kehadiran orang asing.
Selain temperamen, rutinitas juga sangat berpengaruh. Balita sangat bergantung pada pola tidur, jadwal makan, dan rasa aman yang konsisten.
Acara besar seperti pernikahan sering menjadi "jebakan" karena jam tidur berubah, anak kelelahan, atau terlalu banyak stimulasi.
Anak yang tetap nyaman di acara panjang sering kali bukan karena kebetulan, melainkan karena kebutuhan dasarnya sudah dipenuhi lebih dulu.
Rasa Aman Juga Menentukan Perilaku Anak
Ada satu faktor yang sering tidak terlihat di kamera: hubungan emosional.
Anak kecil membaca situasi lewat ekspresi orang dewasa.
Ketika orang tua terlihat tenang, hadir, dan responsif, anak lebih mudah merasa aman. Sebaliknya, jika lingkungan terasa tegang atau terburu-buru, anak juga lebih mudah menunjukkan reaksi emosional.
Karena itu, membandingkan satu anak dengan anak lain sering kali tidak adil.
Kamari mungkin punya kombinasi banyak hal: pola makan yang terjaga, rutinitas yang baik, temperamen yang sesuai, serta lingkungan pengasuhan yang membuatnya nyaman.
Jadi, Perlukah Anak Bebas Gula?
Jawaban singkatnya: tidak harus ekstrem.
Yang lebih penting adalah mengurangi gula tambahan berlebihan dan membangun hubungan sehat dengan makanan sejak kecil. Anak tetap boleh menikmati rasa manis, tetapi tidak perlu menjadi pusat pola makannya.
Pada akhirnya, anak yang tenang bukan hasil dari satu larangan makanan. Yang membentuk mereka jauh lebih kompleks: tidur yang cukup, pola makan seimbang, rasa aman, rutinitas, dan orang dewasa yang hadir secara konsisten.
Mungkin itu pelajaran yang lebih menarik dari viralnya Kamari, bahwa pengasuhan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar urusan gula.
Baca Juga
-
Efek Domino Kenaikan Avtur: Ancaman Nyata Mahalnya Tiket Pesawat bagi Pariwisata
-
Diam-Diam Mengintai, Infeksi TORCH Bisa Berdampak Sejak Dini pada Janin
-
Memahami Bencana Karhutla di Kawi-Butak: Saat Eksotisme Alam Berubah Jadi Tantangan Berbahaya
-
Anak Sering Minta Jajan? 6 Cara Cerdas Ubah Permintaannya Jadi Pelajaran Uang
-
Tubuh Sudah Kasih Tanda! Awas Serangan Jantung yang Sering Bersembunyi di Balik "Masuk Angin"
Artikel Terkait
-
Heboh Jennifer Coppen Tenggak Alkohol di Pernikahan, Eks Pegawai Hotel Ungkap Fakta Mengejutkan
-
Jennifer Coppen Punya Bisnis Apa Saja? Viral Bagi-Bagi Souvenir Pernikahan Mewah
-
Habis Berapa Miliar? Intip Isi Souvenir Mewah Pernikahan Jennifer Coppen
-
Beda Silsilah Keluarga Jennifer Coppen dan Justin Hubner yang Sah Menikah
-
Jennifer Coppen Jadi Sorotan, Apa Pahala Mengajak Orang Masuk Islam?
Entertainment
-
Banjir Kritik Netizen, Drama The Scandal Dinilai Terlalu Fokus pada Adegan Intim
-
Sinopsis Doctor X: Dokter Jenius Melawan Mafia Rumah Sakit, Rilis 9 Oktober
-
Sinopsis 3mm Love, Film Korea-Jepang Dibintangi Kim Ji An dan Kurokawa Soya
-
Reuni Usai 10 Tahun, Yoo Yeon Seok dan Seo Hyun Jin Tampil Tegang di The Perfect Lie
-
Sinopsis Doubt: 15-nenme no Fukushuu, Drama Thriller Dibintangi Nimura Sawa
Terkini
-
Review Neagley: Drama Aksi Khas Reacher dengan Sentuhan Lebih Emosional
-
5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
-
Dari Viral Culture ke Real-Life Culture: Eranya Gen Z Cari Pengalaman Nyata
-
Seperti Pelukan Hangat! 5 Pilihan Parfum Warm Vanilla yang Lembut di Hidung
-
Bebas Bruntusan! 4 Acne Cleansing Balm Angkat Makeup Waterproof hingga Pori