M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Hidangan Indonesia yang berwarna-warni disajikan dalam mangkuk daun pisang, menangkap esensi masakan tradisional. (Pexels/Fariz Albar)
Atalie June Artanti

Setiap negara memiliki budaya dan kebiasaan yang terbentuk dari sejarah, lingkungan, hingga cara hidup masyarakatnya. Hal yang terasa biasa bagi penduduk lokal, belum tentu dianggap lazim oleh orang dari negara lain.

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki banyak kebiasaan unik. Bahkan, beberapa di antaranya sering membuat wisatawan asing heran karena sulit ditemukan di tempat asal mereka. Mulai dari urusan makan, cara menjaga kesehatan, hingga kebiasaan sehari-hari, semuanya telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia.

Menariknya, kebiasaan-kebiasaan tersebut tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Sebagian diwariskan turun-temurun, sementara yang lain lahir dari kebiasaan sosial yang terus hidup di tengah masyarakat.

Lantas, apa saja kebiasaan orang Indonesia yang dianggap ikonis dan jarang ditemukan di negara lain?

1. Belum Makan Kalau Belum Menyentuh Nasi

Kalimat "sudah makan belum?" di Indonesia sering kali memiliki arti yang berbeda dibandingkan di negara lain. Sebab, bagi banyak orang Indonesia, makan baru dianggap "sah" jika sudah menyantap nasi.

Tak sedikit orang yang mengaku masih lapar meski sudah makan roti, mi, kentang, atau pasta. Alasannya sederhana, belum ada nasi yang masuk ke perut.

Kebiasaan ini tidak lepas dari posisi beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia sejak lama. Indonesia juga termasuk salah satu produsen beras terbesar di dunia sehingga konsumsi nasi menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan banyak negara di Eropa atau Amerika yang menganggap berbagai sumber karbohidrat memiliki fungsi yang sama, masyarakat Indonesia masih menempatkan nasi sebagai simbol makan utama.

2. Masuk Angin? Saatnya Kerokan

Istilah "masuk angin" mungkin terdengar asing bagi banyak orang luar negeri. Namun, hampir semua orang Indonesia memahami kondisi ini, mulai dari badan pegal, perut kembung, hingga meriang.

Salah satu cara tradisional yang paling populer untuk mengatasinya adalah kerokan menggunakan minyak dan koin.

Bagi sebagian masyarakat, setelah kerokan tubuh terasa lebih ringan dan nyaman. Meski begitu, dari sisi medis, manfaat kerokan belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah yang kuat. Kerokan juga tidak disarankan dilakukan terlalu sering karena dapat menyebabkan iritasi kulit hingga memar akibat pecahnya pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit.

Karena itu, jika keluhan tidak kunjung membaik atau disertai gejala serius, pemeriksaan ke tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan yang lebih aman.

3. Makan Pakai Tangan Terasa Lebih Nikmat

Menggunakan sendok dan garpu memang umum dilakukan, tetapi banyak orang Indonesia merasa sensasi makan menjadi lebih nikmat ketika menggunakan tangan.

Tradisi ini banyak dijumpai saat menyantap hidangan seperti nasi padang, ayam goreng, ikan bakar, pecel, hingga lalapan.

Selain memberikan sensasi berbeda, beberapa penelitian menyebut makan menggunakan tangan membuat seseorang lebih sadar terhadap tekstur dan suhu makanan sehingga proses makan berlangsung lebih perlahan.

Tentu saja, kebiasaan ini tetap harus diimbangi dengan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan agar kebersihan tetap terjaga.

4. Daun Pisang Bukan Sekadar Pembungkus

Di berbagai daerah, daun pisang masih sering digunakan sebagai alas maupun pembungkus makanan.

Mulai dari nasi liwet, nasi bakar, gudeg, hingga tradisi makan bersama seperti bancakan atau botram, daun pisang memberikan aroma khas yang dipercaya membuat makanan terasa lebih lezat.

Selain itu, penggunaan daun pisang juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan kemasan sekali pakai berbahan plastik atau styrofoam.

Tak heran jika banyak wisatawan asing menganggap cara penyajian ini sebagai pengalaman kuliner yang unik sekaligus autentik.

5. Makan Rasanya Kurang Lengkap Tanpa Kerupuk

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk bukan sekadar camilan.

Kerupuk sering hadir sebagai pelengkap berbagai hidangan, mulai dari nasi goreng, soto, gado-gado, ketoprak, nasi kuning, hingga pecel.

Perpaduan tekstur renyah dengan rasa gurih dianggap mampu meningkatkan kenikmatan makanan. Bahkan, tak sedikit orang yang merasa ada sesuatu yang kurang jika makan tanpa ditemani kerupuk.

Kebiasaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup membuat banyak wisatawan asing penasaran mengapa makanan utama harus selalu ditemani makanan ringan yang renyah.

6. Gotong Royong Masih Menjadi Budaya

Di banyak negara, membersihkan lingkungan atau memperbaiki fasilitas umum umumnya dilakukan oleh petugas khusus.

Namun di Indonesia, budaya gotong royong masih cukup kuat.

Warga secara sukarela berkumpul membersihkan selokan, memperbaiki jalan lingkungan, membangun fasilitas ibadah, hingga membantu tetangga yang sedang mengadakan hajatan.

Budaya saling membantu tanpa mengharapkan imbalan ini bahkan telah diakui sebagai salah satu nilai sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

7. Senyum dan Basa-Basi Sebelum Masuk Inti Pembicaraan

Orang Indonesia dikenal ramah. Bertemu tetangga, rekan kerja, bahkan orang yang baru dikenal sering diawali dengan senyum, sapaan, atau pertanyaan seperti, "Sudah makan?", "Mau ke mana?", atau "Lagi sibuk apa?"

Bagi masyarakat Indonesia, pertanyaan tersebut bukan bermaksud mencampuri urusan pribadi, melainkan bentuk keramahan dan cara membuka percakapan.

Sebaliknya, sebagian orang asing justru bisa merasa bingung karena menganggap pertanyaan tersebut terlalu personal.

Perbedaan cara berkomunikasi ini menunjukkan bahwa budaya sosial Indonesia masih sangat menjunjung kedekatan antarmanusia.

Keunikan yang Menjadi Identitas Bangsa

Di era globalisasi, berbagai budaya dari luar negeri semakin mudah masuk ke Indonesia. Meski demikian, banyak kebiasaan lokal tetap bertahan karena sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Mulai dari kecintaan terhadap nasi, tradisi kerokan, makan menggunakan tangan, hingga budaya gotong royong menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Indonesia dibentuk oleh nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan tradisi.

Bagi orang Indonesia, kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin terasa biasa. Namun, di mata wisatawan asing, justru hal-hal sederhana itulah yang membuat Indonesia terlihat unik, hangat, dan sulit dilupakan.