Kreator konten Arthada tengah menggelar perayaan ulang tahun ke-22 dengan konsep yang cukup mencuri perhatian.
Bukan sekadar pesta untuk merayakan pertambahan usia, Arthada memilih tema Swag 2016 sekaligus menyiapkan acara dengan anggaran yang tidak sedikit.
Biaya yang dikeluarkan untuk perayaan tersebut bahkan disebut mencapai nyaris Rp639 juta. Nominal tersebut diungkapkan langsung oleh Arthada melalui akun TikTok pribadinya, @arthada.
Pengakuan tersebut kemudian membuat pesta ulang tahunnya ikut menjadi perbincangan di media sosial. Angka hampir Rp639 juta tentu bukan nominal kecil untuk sebuah pesta ulang tahun, terlebih ketika acara tersebut juga dikemas dengan konsep yang dibuat secara khusus.
Tak hanya soal biaya, tema yang dipilih Arthada juga menjadi bagian yang menarik perhatian. Ia membawa sebuah tema yang mencoba menghadirkan kembali gaya dan nuansa yang identik dengan satu dekade lalu.
Istilah swag sendiri cukup lekat dengan dunia fashion dan budaya populer. Secara umum, swag digunakan untuk menggambarkan gaya atau cara seseorang menampilkan dirinya dengan kesan keren, percaya diri, dan memiliki karakter.
Dalam tulisan berjudul “Definisi SWAG”, Eka Nursetia menjelaskan bahwa swag berkaitan dengan style atau gaya yang ditampilkan seseorang. Istilah tersebut juga sering dikaitkan dengan gaya penampilan yang memiliki karakter dan kesan percaya diri.
Seiring perkembangannya, swag juga banyak diasosiasikan dengan gaya streetwear, sneakers, aksesori, hingga pengaruh musik hip-hop. Gaya tersebut sempat menjadi bagian dari tren anak muda dan budaya populer yang berkembang melalui musik, fashion, media sosial, serta berbagai figur publik.
Konsep itulah yang kemudian dibawa Arthada dalam pesta ulang tahunnya. Dengan menyebut tema Swag 2016, ia menghadirkan nuansa gaya yang mengingatkan pada tren sekitar satu dekade lalu. Pemilihan tahun 2016 juga membuat konsep pesta tersebut terasa berbeda.
Alih-alih menggunakan tema ulang tahun yang sedang populer saat ini, Arthada justru memilih kembali ke sebuah era yang pernah memiliki karakter fashion dan budaya populer tersendiri.
Perayaan ulang tahun ke-22 tersebut menjadi semakin menarik karena konsep Swag 2016 dipadukan dengan biaya yang fantastis. Nominal tersebut tentu menjadi salah satu bagian yang paling mudah menarik perhatian publik.
Apalagi, pesta ulang tahun seorang kreator konten kini tidak hanya menjadi acara pribadi, tetapi juga dapat berubah menjadi bagian dari konten yang dibagikan kepada jutaan pengguna media sosial.
Melalui media sosial, berbagai momen dalam sebuah pesta dapat dengan cepat menyebar dan menjadi bahan perbincangan. Hal tersebut pula yang membuat perayaan ulang tahun Arthada mendapatkan perhatian lebih luas.
Konsep yang dipilih juga membuat pesta tersebut tidak terasa seperti perayaan ulang tahun biasa. Tema Swag 2016 memberikan identitas tersendiri, terutama bagi mereka yang masih mengingat tren fashion dan budaya populer pada era tersebut.
Pemilihan tema Swag 2016 juga bisa dilihat sebagai bentuk nostalgia terhadap gaya yang pernah populer. Tahun 2016 menjadi salah satu periode ketika media sosial semakin kuat memengaruhi cara anak muda mengikuti tren fashion dan budaya populer.
Gaya berpakaian yang terinspirasi dari streetwear dan hip-hop banyak mendapat tempat di kalangan anak muda. Sneakers, pakaian kasual, aksesori, serta tampilan yang lebih berani menjadi bagian dari tren yang berkembang pada masa tersebut.
Kini, nuansa tersebut kembali digunakan sebagai konsep pesta ulang tahun. Arthada membawa kembali karakter gaya tersebut ke dalam perayaan usia 22 tahun dengan kemasan yang lebih personal.
Perpaduan antara pesta dengan anggaran fantastis dan konsep yang membawa kembali gaya satu dekade lalu membuat birthday party Arthada menjadi salah satu momen yang ramai dibicarakan di media sosial.
Bagi Arthada, pesta tersebut menjadi cara untuk merayakan pertambahan usia sekaligus menghadirkan kembali gaya yang pernah menjadi bagian dari budaya populer.
Baca Juga
-
Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!
-
Dari Kepedulian Warga Menuju Kemandirian Desa: Jejak Kang Edai Membangun Kemiren
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
Bukan Lembek! Ini Alasan Kenapa Gen Z Paling Jujur soal Kesehatan Mental
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
Artikel Terkait
-
Gara-Gara Diomelin Ibu di Dapur, The Sabron Family Sukses Beli Rumah di Usia Belasan!
-
Dompet Dhuafa Hadirkan Ruang Mimpi, Dampingi Anak Yatim Berani Wujudkan Cita-cita
-
Berawal dari Keterbatasan, Wiraswasta Asal Situbondo Ini Sukses Jadi Bintang eFootball Nasional
-
Tren 2026 is the New 2016: Mengapa Gen Z dan Milenial Merindukan Kesederhanaan Media Sosial?
-
Resmi Jadi Raja Gol, Mampukah Messi Lewati Rekor 16 Gol Miroslav Klose di Piala Dunia 2026?
Entertainment
-
Kena Skandal, Gun-il Resmi Keluar dari Xdinary Heroes dan JYP Entertainment
-
Film Baru Makoto Shinkai Resmi Dapat Mitra Distribusi untuk Pasar Indonesia
-
Cha Eun Woo Pertimbangkan Drama Baru dari Semesta Bon Appetit, Your Majesty
-
Iko Uwais Terpilih Jadi Juri Jackie Chan International Action Film Week
-
V BTS Ungkap Alami Gangguan Pendengaran, Makin Buruk saat Jalani Wamil
Terkini
-
Review Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya: Dari Duka Menuju Kesadaran
-
Silent Skill Gap: Bahaya Lupa Cara Mikir Akibat AI
-
The End of Oak Street: Perjalanan Melintasi Waktu Dibalut Sensasi Teror Dinosaurus
-
Review Film Hai Jawani Toh Ishq Hona Hai: Sajian Komedi Masala Khas India!
-
Kultur Palugada di Dunia Kerja: Bekerja Lintas Bidang, Berkarier Tanpa Arah