M. Reza Sulaiman | Ken Hitana
Cover Buku Cantik Itu Luka (Gramedia Pustaka Utama)
Ken Hitana

Ketika membicarakan Dewi Ayu dalam Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, kita mungkin akan langsung mengingat sosoknya sebagai seorang pelacur. Namun, apakah status tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana Dewi Ayu melihat dirinya sendiri?

Dari luar, Dewi Ayu terlihat menikmati perannya di masyarakat sebagai seorang pelacur. Namun, ia diam-diam selalu mengutuk dan tidak menerima takdirnya begitu saja. Di tengah berbagai situasi yang membatasi pilihannya, ia tetap memiliki keinginan, keputusan, dan caranya sendiri untuk menentukan kehidupan yang ingin dijalani.

Menariknya, Dewi Ayu tidak selalu melawan dengan cara yang terang-terangan. Justru, sikapnya dalam mengambil keputusan dan mempertahankan kehendaknya sendiri menjadi bentuk perlawanan yang lebih samar.

Memegang Kendali dengan Posisi Pelacur yang Paling Dicari

Ilustrasi Perempuan (unsplash/Alexander Krivitskiy)

Dewi Ayu memang menjalani kehidupan sebagai pelacur, tetapi status tersebut tidak lantas membuatnya menyerahkan seluruh kendali atas hidupnya. Profesinya sebagai pelacur lantas tak membuatnya menerima bahwa dirinya bisa hidup di bawah kendali laki-laki.

Karena kecantikannya, ia justru menjadi pelacur incaran laki-laki di Halimunda. Statusnya ini tak membuatnya terbang. Ia memanfaatkan pujian ini untuk memilih siapa yang akan ia 'temani'. Bahkan, ia dapat memilih laki-laki dengan posisi dan kekuasaan tinggi, seperti Shodancho, lalu membangun hubungan dengan cara yang membuat laki-laki tersebut justru tunduk pada kehendaknya.

Dewi Ayu Tak Pernah Merasa Menjadi Korban

Ilustrasi Mengepalkan Tangan (unsplash/Brooke Lark)

Dewi Ayu yang sudah sejak belia menjadi seorang pelacur dan rela menyerahkan tubuhnya untuk banyak laki-laki. Dari sudut pandang pembaca, keadaan tersebut mungkin membuatnya terlihat seperti sosok yang patut dikasihani.

Namun, Dewi Ayu tidak pernah berpikir demikian. Ia menjadikan profesinya ini murni sebagai transaksi bisnis tanpa menggunakan perasaan lebih. Ia tidak mencampurkan perasaan dengan pekerjaannya dan tidak membiarkan laki-laki yang datang kepadanya menentukan nilai dirinya.

Justru, Dewi Ayu memahami bagaimana keinginan dan ego para laki-laki tersebut dapat menjadi sesuatu yang bisa ia kendalikan. Ia tahu bahwa mereka datang karena menginginkan tubuhnya, sehingga ia tidak selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang berada di posisi paling lemah.

Doa dan Harapan untuk Anak Keempatnya, Si Cantik

Ilustrasi Anak Perempuan (unsplash/Anita Jankovic)

Siapapun pasti ingin memiliki anak yang rupawan. Tapi, hal ini sepertinya tidak berlaku bagi Dewi Ayu setelah melahirkan 3 putri cantik, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Saat hamil anak keempat, Dewi Ayu berdoa agar anak di kandungannya itu terlahir buruk rupa. Dikabulkan Tuhan, anak keempatnya lahir dengan wajah buruk rupa yang ia beri nama Si Cantik.

Bukan berarti ia tak menyayangi putri bungsunya. Justru ia sengaja ingin memutus nasib dan tragedi seperti yang dialami ibu dan kakak-kakaknya. Dewi Ayu mengerti bahwa kecantikan kadang menjadi sebuah kutukan bagi seorang perempuan. Lewat Si Cantik, Dewi Ayu seolah menolak anggapan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang hanya bisa 'dinikmati' dari seorang perempuan.

Di tengah dunia Dewi Ayu yang dikelilingi laki-laki hidung belang, ia tak serta merta menerima takdirnya sebagai pelacur. Yang membuat saya takjub adalah bagaimana Dewi Ayu tetap mempertahankan kendali dan harga dirinya di saat ia tengah 'dipakai' oleh banyak lelaki. Agak ironis, bukan? Saya juga melihat perwujudan Si Cantik sebagai upaya Dewi Ayu untuk melawan dengan nyata.