Ada kebiasaan menarik ketika lagu-lagu Pamungkas mulai terdengar. Begitu musiknya pelan, liriknya murung, dan ada sedikit aroma patah hati, kepala kita lekas membawa lagu itu ke ruang percintaan. Seolah-olah semua kegelisahan manusia usia dua puluhan pasti berujung pada mantan.
“Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan” sebenarnya membuka ruang tafsir yang lebih luas. Single yang dirilis Pamungkas pada 8 April 2026 ini berdurasi 4 menit 40 detik dan ditulis sekaligus dikomposeri olehnya. Di Spotify, lagu tersebut kini telah diputar puluhan juta kali. Video lirik resminya di kanal YouTube Pamungkas juga telah menembus jutaan penayangan.
Secara sederhana, lagu ini memang terdengar seperti percakapan dua orang yang terus berhadapan dengan konflik. Ada amarah, luka lama, usaha memahami, lalu pertanyaan tentang berapa kali seseorang masih sanggup memaafkan. Pembacaan paling mudah tentu membawa kita kepada hubungan romantis yang kelelahan menghadapi pertengkaran berulang.
Namun, bagaimana kalau percakapan itu sebenarnya berlangsung di ruang keluarga? Kalimat “berapa kali kita akan saling memaafkan” terasa berbeda ketika didengar sebagai suara seorang anak kepada orang tuanya. Hubungan semacam ini memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada hubungan asmara. Ada masa ketika orang tua menjadi seluruh dunia seorang anak, lalu perlahan anak tumbuh, memiliki nilai hidup sendiri, memilih jalan pendidikan, pekerjaan, pasangan, bahkan cara memandang kehidupan.
Di titik itulah gesekan dan konflik antar generasi sering muncul. Orang tua membawa pengalaman zamannya. Anak membawa dunia yang berubah lebih cepat. Keduanya bisa merasa paling tahu, paling benar, atau paling terluka. Masalahnya, dalam keluarga, seseorang tidak selalu bisa sekadar mengatakan, “Kita selesai sampai di sini saja.”
Lirik tentang “janji untuk saling mengerti” menjadi menarik dalam konteks tersebut. Bagi pasangan, ia dapat berarti usaha mempertahankan hubungan. Bagi anak dan orang tua, ia dapat berarti proses menerima kenyataan bahwa dua manusia yang saling menyayangi tetap memiliki batas pemahaman masing-masing.
Ada sesuatu yang cukup dewasa dalam menerima orang tua sebagai manusia biasa. Mereka bisa salah bicara, salah mengambil keputusan, membawa luka dari masa lalu, atau gagal memahami dunia yang sedang dijalani anaknya. Pada saat yang sama, anak juga dapat melukai orang tua lewat pilihan dan sikapnya sendiri.
Karena itu, memaafkan dalam hubungan orang tua-anak tidak selalu berarti menghapus kesalahan. Kadang ia berarti menerima bahwa masa lalu memang tidak dapat diperbaiki. Yang bisa dilakukan adalah mengubah cara kita membawa masa lalu tersebut ke hari ini.
Aransemen lagu yang tenang dan intim memperkuat pembacaan semacam itu. Musiknya tidak terasa seperti pertengkaran yang sedang meledak. Ia lebih menyerupai ruang setelah pertengkaran selesai, ketika seseorang akhirnya duduk sendirian dan bertanya kepada dirinya sendiri: masihkah ada yang perlu dipertahankan dari hubungan ini?
Bagi anak muda yang sedang memasuki fase dewasa, pertanyaan semacam itu terasa dekat. Kita mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan cuma soal meninggalkan rumah, mendapatkan pekerjaan, atau mampu membayar kebutuhan sendiri. Ada pekerjaan emosional yang lebih sunyi, yakni belajar berdamai dengan manusia yang dahulu kita anggap sempurna.
Mungkin di situlah “Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan” menemukan maknanya yang lain. Ia dapat menjadi soundtrack bagi anak yang sedang belajar memahami ayah dan ibunya, tanpa harus menganggap seluruh luka masa lalu selesai dalam satu malam.
Sebab kedewasaan kadang bukan tentang berhenti terluka. Ia tentang mengetahui kapan harus memaafkan, kapan perlu menjaga batas, dan kapan akhirnya bisa melihat orang tua sebagai manusia yang juga sedang belajar menjadi manusia.
Dan mungkin, setelah semua pertengkaran itu, pertanyaan “berapa kali kita akan saling memaafkan?” tidak lagi terdengar sebagai kelelahan. Ia terdengar seperti sebuah permintaan sederhana bahwa kalau masih ada ruang untuk saling memahami, mari kita coba sekali lagi.
Tag
Baca Juga
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Ulasan Film Perfect Days: Ketika Kedamaian Ditemukan dalam Rutinitas
-
Mengapa Anak Zaman Now Ingin Jadi YouTuber ketimbang Astronot?
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
Artikel Terkait
-
Kupas Lirik 'Dunia yang Nanti', Ternyata Bukan Cuma Lagu Kaum 'Just Friend'
-
4 Lagu Friendzone untuk Mengungkapkan Perasaan Korban Just Friends, Cocok di Instagram Story
-
Liriknya Dinilai Melecehkan Perempuan, Lagu Milik Love Chaos Tuai Kecaman
-
Belajar Menerima Cinta Lewat Lagu Ketika Cinta Bertasbih Melly Goeslaw
-
Menilik Sisi Rapuh Stray Kids Lewat Lagu Sorry, I Love You, Bikin Nyesek!
Ulasan
-
Laura: Perjuangan, Keteguhan, dan Keberanian Melawan Hubungan Toksik
-
Menyusuri Duka dan Kehilangan Melalui Novel The Year of Magical Thinking
-
Review Arab Maklum 3: Drama Keluarga yang Mengocok Perut
-
Drama A Bloody Lucky Day, Mimpi Buruk Sopir Taksi dan Penumpang Terakhir
-
Review Film Resident Evil: Sebuah Adaptasi Terbaik dari Waralaba Gim Horor
Terkini
-
Mendang-mending 2.0: Saat Gen Z Mulai Berani Bilang Tidak pada Racun Belanja
-
Netflix Rilis Trailer Steps, Angkat Sisi Lain Saudari Tiri Cinderella
-
Bahaya Kalimat 'Mumpung Gajian' yang Bisa Bikin Dompet Cepat Menipis
-
Sinopsis Daayra, Film Kriminal Kareena Kapoor dan Prithviraj Sukumaran
-
Buku Fiksi vs Self-Improvement: Mana yang Lebih Mengasah Empati?