Lintang Siltya Utami | Fairus Farizki
Ilustrasi koin, dompet usang, dan beras, yang melambangkan kesulitan ekonomi. (Pexels/Marta Branco)
Fairus Farizki

Financial freedom sekarang sering dipasarkan mirip paket premium: umur 25 sudah punya rumah, investasi gemuk, dan pagi-pagi tinggal ngopi santai memandangi saldo. Padahal buat pejuang karier dari bawah, awal bulan justru jadi ritual seru menghitung mundur hari menuju gajian berikutnya dengan penuh semangat.

Saya jadi teringat paparan Andina Ratri, CFP dari Bank Jago di Gen Z Impact Fest tentang lima anak tangga keuangan: survival, paycheck to paycheck, financial resilience, financial control, dan financial freedom. Mendengar itu, batin saya langsung menyadari kenyataan bahwa diri saya ternyata masih sibuk mengantri di pintu gerbang yang paling pertama.

Di level survival dan paycheck to paycheck, sebenarnya gaji alhamdulillah ada tapi langsung ludes diserap kebutuhan dasar. Gaji bulanan di fase ini datangnya mirip tamu kondangan: baru kelihatan batang hidungnya buat salaman, sedetik kemudian sudah pamit undur diri membawa amplop kosong. Barulah di atasnya ada zona resilience yang punya dana darurat, zona control yang sudah rapi berinvestasi, hingga puncaknya si bebas finansial ini—dimana sampai tua nanti uang di tabungan kita tidak akan habis.

Ajaibnya, media sosial sering memoles anak tangga terakhir seolah gampang diloncati semua orang sambil merem. Nasihat para suhu di linimasa terdengar sangat renyah: tinggal kurangi jajan kopi, rajin investasi, lalu pensiun muda dengan damai. Kalimat motivasinya memang indah betul untuk disimak, tapi dompet realitas kita yang bertugas menjalankannya di dunia nyata biasanya punya opini yang jauh berbeda!

Data BPS mencatat rata-rata upah buruh nasional kita pada November 2025 berada di angka Rp3,33 juta per bulan. Bagi teman-teman muda, tantangannya bukan cuma nominal gajinya itu saja, tapi daftar pengeluaran rutin dari kosan, makan, transportasi, sampai urusan mendadak yang hobi datang tanpa permisi. Apalagi buat pekerja lepas dan gig worker yang keran pendapatannya kadang pasang-surut, mengelola duit tentu butuh kreativitas ekstra.

Menariknya, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 dari OJK, LPS, dan BPS membocorkan kalau indeks inklusi keuangan anak muda usia 18–25 tahun sudah melompat tinggi sampai 95,69 persen. Artinya, urusan punya rekening, dompet digital, atau pakai layanan keuangan lainnya sudah jago banget. Tapi ya mari dipahami bahwa kalau sudah pintar pakai aplikasi finansial itu bukan jaminan otomatis kalau tabungan darurat kita sudah aman dari badai keuangan.

Makanya, narasi financial freedom yang berseliweran di linimasa perlu kita sikapi dengan santai dan tidak usah dijadikan beban pikiran. Sukses menata masa depan itu bukan cuma soal rajin-rajinan dengerin tips hemat di media sosial. Ada realitas struktur upah, biaya hidup kota besar, hingga urusan berbakti membantu keluarga yang ikut menentukan ritme perjuangan kita. Nikmati saja prosesnya, yang penting pelan-pelan keuangan kita terus bergerak ke arah yang lebih sehat.

Target paling masuk akal untuk saat ini mungkin bukan buru-buru pensiun dini di usia 30 tahun. Bagi kita sesama pejuang karier, kemenangan kecil yang nyata itu sederhana saja: punya tabungan darurat yang aman, jago ngerem pengeluaran, menjauhi hutang konsumtif yang bikin pusing, dan punya napas cadangan saat gajian kantor agak telat.

Financial resilience alias ketahanan finansial ini memang terdengar kurang mentereng dibanding financial freedom. Lagipula, mana ada konten viral di medsos yang bisa pamer tabungan darurat sekeren pamer mobil sport terbaru. Tapi percaya deh, keahlian bertahan saat kehidupan tiba-tiba melempar tagihan dadakan itu jauh lebih berguna ketimbang sibuk bermimpi jadi sultan instan sebelum sempat menyehatkan isi dompet sendiri.

Punya impian bebas finansial itu bagus dan boleh banget disematkan di masa depan. Hanya saja, kita tidak perlu memaksakan diri langsung melompat ke lantai lima kalau anak tangga pertama saja masih berdecit. Membangun pondasi keuangan yang kokoh, hidup asyik sesuai kemampuan, dan bijak mengelola hutang itu justru modal awal paling mantap sebelum gerbang kebebasan finansial beneran terbuka lebar dengan riang gembira!