Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Tampilan close-up berbagai buku di rak yang memperlihatkan berbagai judul dan genre. (Pexels/Min An)
Fairus Farizki

Punya wawasan luas lewat buku-buku keren seperti Sapiens, The Psychology of Money, sampai Atomic Habits memang sudah jadi gaya keren baru di tongkrongan anak muda zaman sekarang. Tapi masalahnya, tidak semua orang punya banyak waktu luang melahap ratusan halaman tebal di tengah padatnya jam kerja. Untungnya, sekarang ada jalan pintas yang asyik bagi pejuang literasi yang super sibuk.

Kehadiran platform ringkasan buku seperti “F15 Library” atau “Ringkas Paham” itu ibarat ojek online yang siap mengantar kita secara cepat dan praktis. Bayangkan, modal duduk manis 15 menit saja, kita sudah bisa mengantongi garis besar dari ribuan buku mumpuni. Tentu saja, para pembaca yang bijak tahu betul kalau ringkasan ini adalah pintu masuk yang asyik untuk menghemat waktu dan menyaring buku mana saja yang paling layak dibeli versi aslinya.

Jadi, tidak perlu merasa terbebani kalau belum sempat tamat membaca satu buku utuh. Memanfaatkan ringkasan kilat adalah ikhtiar cerdas anak muda zaman sekarang biar wawasan tetap melompat tinggi dan obrolan di meja kafe makin hidup serta penuh manfaat!

Kabar baiknya, data Perpusnas mencatat rapor minat baca kita sebenarnya makin kinclong dari tahun ke tahun. Di tengah kesibukan harian yang padat, kehadiran ringkasan buku jelas jadi dewa penolong yang sangat masuk akal buat mencuri-curi waktu belajar. Kita kan tidak selalu punya kemewahan waktu sepuluh jam untuk menamatkan satu buku tebal demi mendapat intisari gagasannya.

Tapi ya mari kita bawa santai saja, tidak usah sampai terjebak menjadikannya ajang kejar setoran angka. Mengaku sudah "membaca" 100 buku setahun padahal semuanya versi kilat 15 menitan itu memang keren secara administrasi skor di atas kertas. Namun biar makin afdal, angka-angka estetik itu tentu bakal jauh lebih bermakna kalau dibarengi dengan pemahaman mendalam yang beneran meresap ke dalam kepala kita sehari-hari.

Kata pakar otak Maryanne Wolf di bukunya berjudul Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World (2018), sirkuit membaca di kepala kita itu mirip otot yang butuh dilatih biar makin kuat. Kalau kita keseringan melahap informasi kilat yang serba instan, daya konsentrasi, empati, dan cara berpikir kritis kita bisa ikut menyusut. Nah, proses membaca mendalam alias deep reading memang butuh waktu luang agar kita bisa meresapi gagasan dan menimbang maknanya pelan-pelan.

Ringkasan buku punya cara kerja yang berbeda karena cuma menyuguhkan sari pati alias hasil perasan gagasannya saja. Kita memang langsung dapat intinya, tapi petualangan seru menuju kesimpulan itu dipangkas habis. Padahal, di tengah petualangan membaca itulah tempat paling asyik buat kita "ngobrol" bareng penulis, mencocokkan teori dengan pengalaman sendiri, lalu melahirkan pemahaman baru yang mantap.

Makanya menurut hemat saya, kehadiran ringkasan buku ini sama sekali tidak perlu dimusuhi. Posisikan saja mereka sebagai peta penunjuk jalan, bukan tujuan akhir petualangan kita. Jadikan ringkasan sebagai alat penyaring bacaan, lalu buka buku aslinya saat gagasannya beneran bikin kita penasaran setengah mati. Mengantongi 100 ringkasan sebulan memang terdengar mentereng di tongkrongan, tapi menamatkan satu buku utuh sampai bisa mengubah cara kita melihat dunia itu nilainya jauh lebih juara. Literasi keren itu bukan soal lomba kejar setoran angka, kawan!

Ujung-ujungnya, buku itu bukan mi instan yang tiga menit langsung matang. Ada gagasan berbobot yang memang perlu dimasak pelan-pelan biar bumbunya meresap sempurna ke dalam kepala. Kehadiran ringkasan boleh saja membantu menyalakan kompor pemantik semangat kita. Namun untuk urusan mencerna nutrisi ilmunya, tetap kita sendiri yang mesti memasak dan mengunyahnya dengan riang gembira.