M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Ilustrasi gambar FOMO (Pexels/cottonbro studio)
Juandi Manullang

FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas, khawatir atau takut ketinggalan dari aktivitas, tren, atau pengalaman baru yang dialami orang lain. FOMO saat ini sering kali menjadi perbincangan publik terutama netizen. Setiap kali saya melihat komentar-komentar netizen di salah satu postingan maupun story para selebgram maupun brand-brand baru atau pelaku usaha lain, sering sekali kata FOMO selalu dipakai.

Memang, kata FOMO ini bagaikan budaya ikut-ikutan oleh orang lain hanya karena sedang viral, tren maupun populer di Indonesia. Seperti sebuah makanan, bila sedang banyak penggemar karena makanan itu enak dan ramai pembeli, maka membuat orang lain pun menirunya. Begitu juga bila ada barang-barang mewah, unik, dan menarik sedang populer, maka orang lain punya keinginan untuk memilikinya.

Semakin Mempopulerkan Makanan Maupun Barang bagi Banyak Orang

Saat ini budaya FOMO mampu mempopulerkan banyak hal. Salah satunya makanan, barang, maupun tempat wisata. Bisa kita lihat bagaimana satu orang memposting maupun mempromosikan sebuah makanan enak di sebuah media sosial sehingga menarik banyak orang mencobanya, bahkan memperjualbelikan makanan tersebut sebagai bagian dari peningkatan ekonomi.

Di era sekarang, dapat kita lihat secara jelas bagaimana sebuah makanan memiliki outlet yang banyak hampir di semua daerah. Kita bisa melihat banyak pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah meniru makanan tersebut sebagai dagangannya sendiri. Tentu saja, hal tersebut dapat mempopulerkan makanan Indonesia ke banyak daerah maupun mancanegara. Bukan itu saja, pelaku usaha tadi pun membuka toko penjualan yang mirip dengan cita rasa makanan tersebut sehingga menjadikan sumber pendapatan.

Alhasil, ekonomi masyarakat pun tumbuh karena budaya FOMO tersebut. Begitu pula dengan sebuah barang atau benda yang dihasilkan begitu unik, misal tas, gelang, gantungan kunci, boneka, dan lain sebagainya yang begitu populer sehingga mengajak masyarakat untuk menirunya dan akhirnya meningkatkan pendapatan.

Dari hasil tersebut, dapat kita katakan kalau FOMO itu memiliki manfaat positif. Tidak hanya mempopulerkan produk hasil tangan anak Indonesia, tetapi juga menciptakan perekonomian masyarakat yang lebih baik.

Jangan Hanya Sekadar Ikut-ikutan Tren Saja

FOMO jangan membuat kita sekadar ikut-ikutan saja. Atau dengan kata lain, hanya sekadar tidak mau kalah dengan style atau gaya orang lain namun membuat kita terpuruk. Ibarat seperti ini: jangan sampai karena orang lain membeli handphone maupun tas yang lagi tren sehingga kita pun membeli barang yang sama agar tidak dikatakan ketinggalan.

Kita harus ingat pendapatan kita disesuaikan dengan pengeluaran. Jangan sampai karena ikut-ikutan membeli barang yang sedang tren namun ekonomi terpuruk. Begitu pula ketika kita melihat usaha orang lain dalam bidang kuliner begitu menjanjikan, namun karena budaya ikut-ikutan—sedangkan kita tidak mempunyai keahlian dalam bidang usaha tersebut—kita nekat membuka usaha yang akhirnya bangkrut karena tidak punya skill dan kemampuan, sehingga memperburuk ekonomi sendiri.

Oleh karenanya FOMO jangan hanya sekadar ikut-ikutan tren saja, tetapi harus benar-benar diminati dan dijiwai setiap apa yang sudah kita mulai. FOMO bisa saja memberi keuntungan, tetapi bisa juga memberi sebuah kerugian. Maka, kita harus memilih untuk mempersiapkan diri sebagai orang yang tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi memiliki niat yang kuat, ulet, dan bersemangat dengan apa yang sudah dimulai.

Kita bersyukur bila setiap orang karena FOMO membuat ekonominya semakin meningkat, tidak lagi terpuruk, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Setiap orang berhak untuk mempopulerkan sesuatu dan ikut masuk ke dalamnya. FOMO bisa memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi banyak orang. Kita pun harus bisa bersifat FOMO namun benar-benar mampu untuk melanjutkannya dengan sepenuh hati dan kesungguhan.