Sudah sekitar satu tahun lebih pandemi belum juga angkat kaki dari negeri ini. Dia masih lekat dan menghantui aktivitas keseharian sebagian orang—sebagian yang lain nampaknya telah merasa B aja.
Salah satu hal yang terus digaungkan untuk memutus rantai penyebaran virus adalah saling menjaga jarak. Dengan saling menjaga jarak, diharapkan kesehatan tiap individu bisa tetap terjaga sehingga mereka bisa menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya.
Bicara soal kesehatan, mayoritas orang hanya memaknainya dengan kesehatan lahiriah. Padahal selain kesehatan lahiriah, kesehatan batiniah juga penting dan harus dijaga sebagaimana kesehatan lahiriah dijaga. Guna mempermudah penyebutan (sekaligus penulisan), saya akan mengganti ‘kesehatan batiniah' dengan ‘kewarasan'.
Sepakat atau tidak, faktanya kewarasan menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan ibadah. Bagi orang yang hendak melaksanakan sholat, zakat, puasa, haji, atau ibadah lainnya pasti disyaratkan berakal sehat (waras).
Ini menjadi indikasi bahwa kewarasan memiliki peran sentral dalam kehidupan manusia. Tanpa kewarasan, ibadah seseorang tidak bisa dianggap sebagai ibadah. Oleh sebab itu, mau tidak mau setiap individu mesti menjaga kewarasannya. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kewarasan kita?.
Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kewarasan adalah dengan menjaga jarak terhadap media sosial. Ya, media sosial!
Disadari atau tidak, mereka sering kali mendistraksi segala kegiatan kita. Saya sebut media sosial dengan ‘mereka' karena yang saya maksud meliputi Facebook, Twitter, Instagram, Telegram, dan kawan-kawan.
Entah bagaimana mereka seolah selalu memantrai kita supaya kita tak bisa berpaling dari mereka. Jujur, tak jarang saya menyesal gara-gara terlalu asyik scroll Instagram, eh...tiba-tiba paket data udah kesedot banyak. Haduuuh!!!
Tak hanya itu. Kadang saat saya hendak mengerjakan tugas, tahu-tahu ada notifikasi like. Otomatis tangan saya menyentuhnya dan saya pun lantas larut dalam dunia maya. Saat saya lihat jam, eh...tiba-tiba udah malam aja, baterai HP juga tinggal sedikit.
Imbasnya, tugas saya terbengkalai karena saya telah kehilangan mood mengerjakannya. Hal tersebut terus terulang hingga H-1 pengumpulan tugas. Pada waktu itulah penyesalan tingkat tertinggi saya muncul, “Kenapa nggak ngerjakan dari kemarin-kemarin sih!!!?”.
Kembali pada persoalan menjaga kewarasan. Disadari atau tidak, nyatanya kita sering membandingkan diri kita dengan diri orang lain melalui media sosial. Ada yang bikin status liburan, kita berujar, “Kok hidup dia enak, ya!? Kapan aku bisa liburan juga!?”
Ada yang bikin status makan di restoran, kita berujar seperti sebelumnya pula. Intinya, setiap orang membuat status yang tampak penuh kebahagiaan, kita akan merasa iri dan berpikir bahwa hidup kita tak seberuntung mereka. Itu namanya kufur nikmat.
Padahal apa yang dijadikan story oleh orang-orang, apa yang mereka upload di media sosial, itu ya...hal-hal yang menurut mereka bagus dan pantas dibagikan ke publik. Maksudnya, apa yang mereka share tersebut bukan keseluruhan yang mereka alami.
Bisa jadi mereka posting foto bersama dengan caption “Indahnya kebersamaan", tapi yang terjadi sesungguhnya adalah mereka sibuk dengan gadget masing-masing saat berkumpul. Kita hanya melihat sebagian, bukan keseluruhan. Jadi, tak perlulah kita ada rasa iri terhadap hidup orang lain.
Selain itu, membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain di media sosial akan membuat kita semakin tertekan. Ingat! Ibu kita selalu membandingkan kita dengan anak tetangga yang menurutnya lebih 'wow'.
Oleh sebab itu, jangan mengambil alih tugas rutin ibu kita tersebut. Sebab, bila kita mengambil alih tugas rutin tersebut, yang ada bukan kita berbakti pada ibu, justru kita yang tambah stress karena merasa ketinggalan dari orang lain (anak tetangga).
Dengan demikian, untuk menjaga diri tetap waras, mari kita sedikit menjaga jarak dengan media sosial. Supaya kita tahu dan sadar bahwa hidup kita sangat layak disyukuri (dan tak perlu dibandingkan dengan hidup orang lain yang ditampilkan di media sosial).
Baca Juga
-
Menggugat Sekolah yang 'Tak' Bersalah
-
Film Encanto: Tak Ada Keluarga yang Benar-benar Sempurna
-
Doctor Strange MoM: Menyelamatkan Dunia Bukan Perkara yang Membahagiakan
-
Privilese Spider-Man dan Batman serta Korelasinya dengan Konsep Berbuat Baik
-
Imam Al Ghazali dan Tuduhan Soal Penyebab Kejumudan Berpikir
Artikel Terkait
-
5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat
-
Lebaran dan Media Sosial, Medium Silaturahmi di Era Digital
-
Lebih Mahal dari Xiaomi 15: Light Phone 3 Sajikan Fitur agar Orang Bisa Pensiun dari Media Sosial
-
Rincian Isi PP Tunas, Aturan Baru Prabowo untuk Batasi Anak Main Medsos
-
Tren Girl Canon Events: Sarana Refleksi Perjalanan Hidup Perempuan
Health
-
Mengenal Metode Mild Stimulation Dalam Program Bayi Tabung, Harapan Baru Bagi Pasangan
-
Kenali Tongue Tie pada Bayi, Tidak Semua Perlu Diinsisi
-
Jangan Sepelekan Cedera Olahraga, Penting untuk Menangani secara Optimal Sejak Dini
-
3 Tips agar Tetap Bugar saat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan
-
Intermittent Fasting vs. Keto, Mana yang Lebih Efektif untuk Panjang Umur?
Terkini
-
Anime Solo Leveling: Teori di Balik Sung Jin-Woo Mampu Mengerti Bahasa Monster
-
3 Rekomendasi Film tentang Kakak Beradik yang Mengharukan, Bikin Nangis!
-
Review Surga di Telapak Kaki Bapak: Drama Keluarga Spesial Lebaran
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Dari Chic Hingga Edgy, Ini 4 Ide Outfit Hangout ala Beomgyu TXT