Marshanda beberapa waktu lalu mengaku menjalani terapi ketamin di Amerika Serikat untuk bipolar disorder yang dialaminya sejak remaja. Bipolar disorder adalah gangguan mental yang memiliki tanda perubahan emosi yang parah. Gangguan ini membuat seleb yang akrab disapa Caca itu sering merasa manik (rasa senang tidak terkendali) dan depresi.
Lewat terapi ketamin, ia mengaku lebih baik dan mampu mengendalikan depresinya. Lantas, apa sebetulnya terapi ketamin ini? Menurut Sonya Collins, dalam jurnalnya "Ketamine for Depression: What to know", Ketamin adalah obat yang mulanya digunakan untuk anestesi pada 1960-an.
Cara kerja ketamin bukan memperlambat sistem pernapasan atau detak jantung, sehingga pasien tidak perlu memakai ventilator saat menggunakannya. Inilah yang membuat ketamin sering digunakan di situasi-situasi darurat, seperti pada pasien-pasien yang mencoba untuk bunuh diri.
Disadur dari WebMD, Dokter dan Pendiri Insight Ketamine, Ken Stewart mengatakan seseorang mencoba melompat dari jembatan dan mereka memberinya ketamin di ambulans untuk menenangkannya. Sembilan bulan kemudian, orang itu berkata belum merasa ingin bunuh diri lagi selama ini. Dan ketika akhirnya cukup banyak cerita seperti itu, dokter-dokter kemudian berkata mungkin ada sesuatu di ketamin ini.
Sejak saat itu, ketamin digunakan untuk terapi pada indikasi non-anestesi seperti gangguan mood dan depresi yang kini kian populer di Amerika. Hasil evaluasi menunjukkan terapi ketamin terbukti meredakan gejala depresi. Ia ampuh mengurangi setengah dosis penggunaan obat anti-kecemasan pada pasiennya. Ketamin juga bekerja cepat dengan efek samping yang bisa ditoleransi.
Sekitar 15 ribu pasien telah diobati menggunakan ketamin. Meskipun demikian, ketamin tidak bisa sembarangan digunakan. Ia hanya bisa diberi saat antidepresan (obat depresi) lain tidak bekerja dan harus di bawah pengawasan medis yang ketat. Selain itu, penggunaan ketamin yang berlebihan dan dalam jangka panjang bisa memicu dampak negatif yang membahayakan pasien.
Disadur dari Psycom.net, pada 18 Februari 2021, Dr. Bryan J.Bruno mengatakan meskipun ini bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk mengurangi gejala depresi dengan cepat, mereka belum cukup tahu tentang konsekuensi yang berpotensi negatif, terutama dari penggunaan jangka panjang.
Ia melanjutkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa itu bisa menjadi racun bagi sel-sel otak dan menyebabkan kerusakan kandung kemih, terutama pada dosis yang lebih tinggi. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika kamu memiliki masalah terkait kondisi jiwa, apalagi jika itu memengaruhi keseharian atau kehidupan sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Baca Juga
-
3 Film dan Drama Korea yang Diperankan Jeon Do-Yeon, Ada Kill Boksoon
-
3 Rekomendasi Anime yang Berlatar pada Abad ke-20, Kisahkan tentang Sejarah
-
3 Rekomendasi Anime Bertema Mafia, Salah Satunya Spy x Family
-
3 Rekomendasi Anime Gore Tayang di Netflix, Mana yang Paling Sadis?
-
3 Rekomendasi Film Bertema Bom Atom, Gambarkan Dampak Buruk Perang Nuklir
Artikel Terkait
Health
-
Mengenal Virus Nipah (NiV): Bahaya Buah Terkontaminasi dan Cara Mencegah Infeksinya
-
4 Makanan yang Membantu Meningkatkan Kualitas Tidur
-
Bukan Sekadar Kafein, Biji Kopi Arabika Ternyata Mengandung Zat Antidiabetes Alami
-
Banjir Jakarta: Ancaman Kesehatan Publik yang Tersembunyi di Balik Genangan
-
Pelembap Bisa Bikin Jerawatan? Kenali Bahaya Penggunaan Moisturizer Berlebihan
Terkini
-
Menyoal Istilah "Gentengisasi" dan Prioritas Pembangunan Pemerintah
-
Bahas soal Hak Asuh Anak, Pihak Inara Rusli Ungkit Kasus Lama Virgoun
-
Anime Gundam GQuuuuuuX Raih Special Prize di Ajang Nihon SF Taisho Awards
-
Buku Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya: Trauma itu Sakit!
-
Berpeluang Membela Timnas Indonesia, Luke Vickery Berikan Kode Positif?