Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Pernahkah kamu merasakan sakit yang datang bukan karena pukulan, melainkan karena kepercayaan yang dikhianati? Rasa sakit semacam ini sering kali jauh lebih dalam, lebih lama sembuhnya, dan diam-diam mengubah cara seseorang memandang dunia.

Buku Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya: Trauma Itu Sakit Tapi Kamu Tetap Harus Bangkit karya Ida Raihan ini seolah datang untuk memeluk mereka yang pernah atau sedang berada di titik itu.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah benar-benar hidup sendiri. Sejak lahir, kita tumbuh dalam relasi: keluarga, teman, pasangan, komunitas, hingga lingkungan kerja. Semua relasi itu berdiri di atas satu fondasi utama: kepercayaan.

Tanpa kepercayaan, hubungan apa pun akan rapuh, penuh curiga, dan sulit bertahan. Namun justru karena nilainya yang begitu besar, kepercayaan juga menjadi sesuatu yang sangat rentan untuk dilukai.

Kepercayaan biasanya tumbuh perlahan. Ia dibangun dari kebersamaan, dari waktu yang panjang, dari sikap dan perilaku yang konsisten. Kita percaya karena merasa aman, merasa dipahami, dan merasa dijaga.

Tapi ketika kepercayaan itu justru digunakan untuk menyakiti apalagi oleh orang terdekat, dampaknya bisa menghancurkan secara emosional. Sakitnya bukan hanya karena peristiwa yang terjadi, melainkan karena runtuhnya rasa aman yang selama ini kita pegang.

Melalui buku ini, Ida Raihan mengajak pembaca menyadari satu hal penting: kamu tidak sendirian. Sepuluh cerita yang disajikan di dalamnya menggambarkan beragam pengalaman pengkhianatan. Oleh pasangan, keluarga, sahabat, hingga orang-orang yang selama bertahun-tahun dipercaya. Kisah-kisah ini membuka mata bahwa tidak semua orang yang berjalan bersama kita dalam waktu lama akan selalu ada di pihak kita.

Gaya penulisan Ida Raihan lugas, jujur, dan penuh empati. Ia tidak berusaha menggurui, melainkan menemani. Pembaca diajak masuk ke dalam emosi para tokohnya, merasakan luka yang sama, sekaligus menemukan ruang untuk bernapas. Buku ini tidak menyangkal bahwa trauma itu sakit. Sebaliknya, ia mengakui rasa sakit tersebut sebagai sesuatu yang valid dan manusiawi.

Salah satu pesan kuat yang berulang dalam buku ini adalah pentingnya menghargai kepercayaan. Ida Raihan menuliskan sebuah metafora yang tajam: “Kepercayaan itu seperti selembar kertas, sekali kamu remas, kusutnya tidak akan pernah bisa kamu luruskan kembali.”

Kalimat ini menggambarkan bahwa kepercayaan yang rusak tidak selalu bisa kembali seperti semula. Oleh karena itu, kepercayaan bukan sesuatu yang seharusnya diberikan sembarangan, dan juga bukan sesuatu yang pantas disia-siakan.

Namun buku ini tidak berhenti pada luka. Ida Raihan justru menekankan bahwa proses penyembuhan adalah hal yang mungkin meski tidak instan. Ia mengajak pembaca untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.

Dikhianati bukan berarti kita bodoh atau lemah; sering kali itu hanya berarti kita pernah tulus. Memaafkan diri sendiri, menerima kenyataan, dan perlahan melangkah maju menjadi bagian penting dari pemulihan.

Lebih jauh, buku ini juga mengajak refleksi: apakah kita sudah cukup selektif dalam memberi kepercayaan? Dan sebaliknya, apakah kita sendiri sudah menjadi pribadi yang layak dipercaya? Dengan begitu, pembaca tidak hanya diajak menyembuhkan diri, tetapi juga membangun relasi yang lebih sehat ke depannya.

Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya adalah bacaan reflektif bagi siapa pun yang pernah terluka oleh pengkhianatan. Buku ini mengingatkan bahwa trauma memang menyakitkan, tetapi hidup tidak berhenti di sana. Bangkit mungkin pelan, tetapi selalu mungkin.

Identitas Buku

  • Judul: Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya
  • Penulis: Ida Raihan
  • Penerbit: Caesar Media Pustaka
  • ISBN: 978-602-5964-53-4
  • Tahun Terbit: 2023
  • Tebal: 208 Halaman
  • Genre: Motivasi, Self-Help, Pemulihan Emosional