Belakangan, publik kembali dibuat mengernyit oleh istilah-istilah kebijakan yang terdengar unik dari Presiden Prabowo. Salah satunya adalah gagasan mengganti genteng rumah rakyat dengan seng secara nasional. Istilah ini cepat viral, tetapi juga cepat memunculkan tanda tanya. Apalagi ketika penjelasan kebijakannya terdengar belum sepenuhnya utuh.
Di satu sisi, keinginan membenahi rumah rakyat terdengar mulia. Negara memang seharusnya hadir dalam urusan hunian yang layak. Namun, ketika gagasan disampaikan dalam bentuk slogan besar, publik wajar bertanya apa urgensinya. Terlebih ketika persoalan dasar masih menumpuk di banyak sektor.
Deretan Istilah Besar dan Keinginan Cepat
Gentengisasi bukan satu-satunya istilah yang mencuri perhatian. Kita sebelumnya mengenal berbagai program dengan nama besar dan janji cepat terasa. Istilah-istilah ini terdengar visioner, tetapi sering minim penjelasan teknis. Akibatnya, kebijakan tampak seperti ide spontan, bukan rencana matang.
Dalam politik, istilah memang penting untuk membangun imajinasi publik. Namun, kebijakan bukan sekadar soal imajinasi, melainkan eksekusi. Ketika istilah lebih dulu ramai daripada kajian, risiko kebingungan pun muncul. Di sinilah publik mulai bersikap skeptis.
Apa yang Sebenarnya Ingin Dicapai?
Jika ditarik lebih dalam, keinginan mengganti genteng bisa dibaca sebagai upaya standardisasi hunian. Seng dianggap lebih ringan, tahan lama, dan cepat dipasang. Dari sudut pandang efisiensi, gagasan ini terdengar logis. Namun, logika teknis tidak selalu sejalan dengan realitas sosial.
Indonesia memiliki kondisi iklim, budaya, dan ekonomi yang beragam. Genteng tanah liat bukan sekadar atap, melainkan bagian dari adaptasi lokal. Mengganti semuanya secara seragam berpotensi menimbulkan masalah baru. Di titik ini, kebijakan butuh lebih dari sekadar niat baik.
Apakah Semudah Itu Direalisasikan?
Mengganti jutaan genteng bukan perkara sederhana. Ada soal biaya, distribusi, tenaga kerja, hingga dampak lingkungan. Belum lagi pertanyaan siapa yang menanggung biaya dan bagaimana mekanismenya. Tanpa penjelasan detail, program ini terasa seperti lompat jauh tanpa awalan.
Pengalaman program sebelumnya juga memberi pelajaran. Program Makan Bergizi Gratis misalnya, menuai kritik karena output yang belum merata dan kualitas yang dipertanyakan. Jika program yang menyentuh kebutuhan harian saja masih bermasalah, wajar publik ragu pada program yang lebih kompleks. Skeptisisme ini bukan sinisme, melainkan refleksi.
Hal-Hal Dasar yang Kerap Terlewat
Daripada terus melahirkan istilah baru, mungkin negara perlu menoleh ke masalah yang lebih mendasar. Beberapa di antaranya adalah:
- Akses pangan bergizi yang konsisten dan berkualitas.
- Pendidikan dasar yang benar-benar gratis tanpa biaya tersembunyi.
- Layanan kesehatan primer yang mudah dijangkau.
- Perbaikan rumah tidak layak huni yang berbasis kebutuhan lokal.
Hal-hal ini mungkin terdengar biasa, tetapi dampaknya nyata.
Antara Gagasan Besar dan Prioritas Nyata
Tidak ada yang salah dengan visi besar. Namun, visi perlu bertumpu pada fondasi yang kuat. Ketika kebutuhan dasar belum tuntas, gagasan besar justru berisiko terlihat mengawang. Publik bukan menolak perubahan, mereka hanya ingin perubahan yang masuk akal.
Fokus pada hal dasar bukan berarti anti-inovasi. Justru dari dasar yang kuat, inovasi bisa tumbuh lebih sehat. Negara tidak kekurangan ide, yang sering kali kurang adalah konsistensi. Di situlah kepercayaan publik dipertaruhkan.
Penutup
Gentengisasi Nasional mungkin lahir dari niat baik. Namun, niat baik perlu dibarengi kejelasan, prioritas, dan evaluasi program sebelumnya. Daripada sibuk melahirkan istilah yang membingungkan, mungkin negara perlu menuntaskan pekerjaan rumah yang lama tertunda. Sebab, kebijakan yang baik bukan yang terdengar besar, melainkan yang benar-benar terasa.
Baca Juga
-
Mengulas The Psychology of Money: Pelajaran yang Jarang Diajarkan di Sekolah
-
7 Ide Outfit ala Yuki Kato untuk Kamu yang Ingin Solo Traveling
-
Menakar Keadilan bagi Rakyat Kecil: Mengapa Permintaan Maaf Aparat Saja Tidak Cukup?
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
His Last Bow: Penutup Apik Sherlock Holmes dengan Ide yang Cemerlang
Artikel Terkait
-
Moody's Tebar Peringatan Dini buat Prabowo: Kebijakan Ugal-ugalan!
-
Prabowo Gagas Gerakan Gentengisasi, Ini Plus Minus Genteng Tanah Liat vs Baja Ringan
-
Kritik Kebijakan Luar Negeri Prabowo, Orator Kamisan Sebut RI Alami Kemunduran Diplomasi
-
Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?
-
Prabowo Resmi Lantik Hakim MK Adies Kadir dan Wamenkeu Juda Agung di Istana Negara
News
-
Di Balik Kasus Epstein: Rahasia Gelap di Balik Jas Mahal Para Elite
-
IIMS 2026 Siap Digelar di Indonesia, Anak Muda Cari Kendaraan Sesuai Gaya
-
Tas Siaga Bencana: Kunci Kesiapsiagaan Inklusif untuk Disabilitas dan Keluarga
-
Tidak Terdata, Tidak Terlindungi: Mengapa Disabilitas Kerap Tertinggal dalam Penanganan Bencana?
-
Membangun Lingkungan Kerja Aman: Mengenal Prinsip Look, Listen, Link dalam Psychological First Aids
Terkini
-
Bahas soal Hak Asuh Anak, Pihak Inara Rusli Ungkit Kasus Lama Virgoun
-
Anime Gundam GQuuuuuuX Raih Special Prize di Ajang Nihon SF Taisho Awards
-
Buku Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya: Trauma itu Sakit!
-
Berpeluang Membela Timnas Indonesia, Luke Vickery Berikan Kode Positif?
-
Tao Eks EXO Raup 30 Miliar Won dalam 3 Bulan dari Bisnis Pembalut