Kedekatan batin antara orangtua dan anak tidak dapat dipungkiri Kedekatan ini dapat ke arah positif maupun negatif. Sebagai orangtua, terkadang tidak sengaja telah melukai hati sang buah hati.
Oleh karena itu, orangtua perlu hati-hati dalam berucap dan bertindak dengan anak. Keluargalah yang akan menjadi pembentuk karakter utama bagi seorang anak. Pola asuh yang dipilih orangtua harus tepat.
Hal ini karena mempengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter anak hingga ia dewasa kelak. Sebagian besar orangtua tidak peduli terhadap cara berbicara dan bertindak kepada anak hingga ia merasa tertekan.
Rasa tertekan tersebut dapat mengganggu psikologis seorang anak hingga mengalami depresi. Berikut ini sudah ada penyebab anak mengalami depresi karena orangtua, antara lain:
1. Selalu membandingkan
Dikutip dari Orami, anak yang terus-menerus dibandingkan orangtuanya, akan merasa dirinya tidak penting. Anak akan berpikir jika ia tidak mampu menjadi sosok yang orangtua inginkan.
Bahkan, menganggap keberadaannya menjadi tidak berarti. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada masa kanak-kanak namun berlangsung sampai dewasa.
2. orangtua plin plan dan mendominasi
Sikap plin plan atau labil dari orangtua dapat membuat anak semakin bingung. Hal tersebut juga akan membuat anak tidak dapat membuat keputusan sendiri.
Bahkan, anak tidak konsisten dalam mengambil keputusan. Hal lainnya anak akan memiliki emosional dan identitas yang lemah sehingga memicu timbulnya depresi.
Selain itu, orangtua yang terlalu mendominasi akan membuat anak selalu bergantung pada keputusan keduanya, tidak dapat mandiri. Bahkan, anak tidak dapat mengatasi masalahnya sendiri karena selalu mendapatkan komando dari orangtua.
3. Bertengkar di depan anak dan selalu marah
Dikutip dari Alodokter, anak yang sering menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya akan membentuk perasaan tidak aman, serta memengarhui hubungan orangtua dan anak. Anak-anak yang memiliki trauma tersebut akan mengalami gangguan dalam kontrol emosi dan perhatian.
Anak juga memiliki hati yang sensitif. Selalu memarahinya tidak membuatnya mengerti apa yang orangtua inginkan. orangtua harus menasehati anak secara lembut.
Selain itu, orangtua juga harus beritahu alasan mengapa tidak boleh dan solusi apa yang diberikan kepada anak. Selalu memarahi anak, akan membuat anak berpikir bahwa yang ia lakukan selalu salah.
4. Menaruh harapan tinggi dan kasar pada anak
Dilansir dari Halodoc, orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun, dorongan tersebut dapat bergeser menjadi sesuatu yang negatif. Dorongan ini dapat berubah menjadi tekanan bagi sang anak.
Sementara itu, tidak jarang orangtua menghukum anaknya dengan tindakan fisik. Hal ini justru akan membuat ketakutan dan trauma yang mendalam bagi anak.
Ini juga tidak hanya meninggalkan luka fisik bagi anak, tetapi meninggalkan luka batin pula.Tanda-tanda anak yang mengalami depresi diantaranya sakit, pola makan dan tidur yang berubah, tidak berenergi atau lesu, dan suasana hati yang murung.
Sebelum semua tanda tersebut terjadi, maka orangtua harus sudah tahu akar dari penyebabnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya sebagai orangtua harus menghindari penyebab terjadinya depresi pada anak. Sebagai orangtua juga hendaknya mawas diri dan menentukan parenting terbaik untuk anak.
Video yang mungkin Anda lewatkan.
Baca Juga
-
4 Cara Meminta Maaf dengan Elegan Ketika Melakukan Kesalahan Pada Pasangan
-
4 Trik Ampuh Bikin Pasangan Selalu Nyaman Bersamamu, Jangan Overprotektif!
-
3 Cara Bijak yang Bisa Kamu Terapkan saat Menghadapi Pasangan Berselingkuh
-
4 Tips Ampuh Mengatasi Serangan Panik pada Diri Sendiri
-
3 Tips Berpacaran dengan Rekan Kerja di Kantor
Artikel Terkait
-
Seni Curhat ke Orang Tua: Baru Ngomong "A", Eh Nasihatnya Sudah Sampai "Z"
-
Gen Halilintar Kalah, Gubernur Kaltim dan Istri 'Noni Belanda' Punya 13 Anak
-
Hukum Memakai Uang THR Anak Menurut Islam, Bolehkah?
-
Studi Global: Kedekatan dengan Hewan Bantu Anak Perempuan Lebih Kreatif dan Percaya Diri
-
MBG dan Pergeseran Peran Psikologis Orang Tua
Health
-
Rahasia Sehat Saat Puasa: Penjelasan Medis Fungsi Mental dan Vitalitas
-
Ngopi saat Sahur, Efektifkah untuk Menjaga Energi Selama Puasa?
-
Hindari Mi Instan, Pilih Telur Dadar Sayur Agar Puasa Tetap Berenergi
-
Bahaya di Balik Keharuman: Mengapa Vape Tetap Menjadi Racun bagi Tubuh?
-
Olahraga Saat Puasa: Mitos, Fakta, dan Panduan dari dr. Tirta
Terkini
-
The Citizen: Luka Imigran Muslim 2001 dan Wajah Amerika di Era Trump
-
Ulasan Novel Animal Farm, Ketika Kesetaraan Hanya Menjadi Ilusi
-
Min Hee Jin Siap Lepas Rp300 Miliar Demi Satukan Kembali 5 Anggota NewJeans
-
Hustle Culture vs Slow Living: Haruskah Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat?
-
Disney+ Dilaporkan Susun Jadwal Tayang Knock-Off, Kim Soo Hyun Comeback?