Anak ketiga sutradara Hanung Bramantyo dan artis Zaskia Adya Mecca, Bhai Kaba dikabarkan mengidap penyakit bronkitis. Hanung sendiri yang menyampaikan kabar terkait putra ketiganya tersebut melalui akun Instagram pribadinya @hanungbramantyo pada Rabu, (15/2/2023).
"Setelah diagnosa dokter, @bhaikaba terkena bronkitis. Sampai jam 2 pagi ini, saturasi tak kunjung naik. Kaba lalu dipindahkan ke ICU agar mudah dimonitor. God, help us. Help Kaba," tulis Hanung dalam unggahannya.
Terlepas dari situasi yang dialami Bhai Kaba, penyakit bronkitis sendiri sayangnya sering disalahpahami oleh orang awam. Hanya karena organ yang diserang adalah paru-paru, orang sering salah mengartikan dengan kondisi penyakit pnemonia dan TBC.
Kesalahan ini bisa berujung fatal jika orang awam merasa paham dan memberi penanganan yang kurang tepat. Oleh sebab itu, agar tidak terus terjadi kesalahan diagnosa dan penyebutan penyakit, ada baiknya untuk mengenali perbedaan antara bronkitis, pnemonia, dan TBC.
Berdasar lansiran klikdokter.com, berikut penjelasan lengkap ketiga penyakit yang sama-sama menyerang paru-paru ini. Mulai dari perbedaan gejala yang khas sampai penanganan yang tepat.
1. Bronkitis
Penyakit ini menyerang area bronkial pada paru-paru yang berfungsi untuk membawa oksigen. Padahal dinding pada bronkial menghasilkan lendir yang dapat melindungi saluran napas dari kuman atau partikel asing lainnya.
Kebiasaan merokok atau menghirup asap rokok menjadi salah satu penyebab bronkitis yang paling umum. Gejala bronkitis yang cukup mudah dikenali diantaranya sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat atau berair, nyeri perut atau dada akibat terus batuk, mudah lelah, demam dengan suhu tidak terlalu tinggi, dan terkadang disertai menggigil atau meriang.
BACA JUGA: Kiki Kanoe Minta Yadi Sembako Ungkap 'Borok' Ressa Herlambang: Jangan Baik-baiknya Doang!
Khusus penyakit bronkitis yang masuk kategori kronis, penderita dapat merasakan napas yang sesak akibat adanya radang pada saluran udara. Bahkan dalam beberapa kasus muncul gejala batuk disertai darah atau lendir berwarna gelap dan kental.
Pengobatan bronkitis sendiri bergantung dari keparahan gejala yang dialami. Jika ringan, biasanya akan mereda dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Namun, jika gejalanya berat, dokter akan meresepkan antibiotik, bronkodilator, atau kortikosteroid.
2. Pneumonia
Berbeda dengan bronkitis yang menyerang area bronkial, pneumonia terjadi karena muncul peradangan yang menyebabkan alveolus atau kantung udara terisi cairan. Kondisi ini muncul akibat infeksi bakteri atau virus hingga menyebabkan kinerja paru-paru memburuk.
Gejala pnemonia yang umumnya terlihat meliputi beberapa tanda khas, yaitu :
⢠Demam, diikuti dengan nyeri di kepala dan tubuh yang menggigil.
⢠Batuk, baik disertai dahak dimana cairannya mengandung nanah berwarna kekuningan atau malah tanpa dahak.
⢠Nyeri dada saat bernapas hingga napas jadi pendek-pendek.
⢠Nyeri otot dan sendi.
Penanganan pneumonia sendiri biasanya melalui pemberian antibiotik selama waktu tertentu untuk membunuh kuman penyebab pneumonia. Namun, pengobatan ini harus di bawah pengawasan tenaga media.
BACA JUGA: Ameena Terjatuh saat Pemotretan, Sikap Atta Halilintar Menjadi Sorotan
3. TBC
TBC disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui droplet lewat batuk dan bersin. Bukan sekadar menyerang saluran napas, TBC bahkan termasuk ke dalam penyakit yang bisa mengancam nyawa. Jadi, saat muncul gejalanya wajib segera diberi penanganan dengan segera.
Tanda-tanda dari TBC yang aktif diantaranya mengalami batuk selama tiga minggu atau lebih, ada batuk darah, nyeri dada, nyeri ketika batuk atau bernapas, penurunan berat badan yang drastis, dan kelelahan.
Pengobatan TBC biasanya dilakukan lewat pemberian obat tuberkulosis selama 6 sampai 9 bulan. Catatan penting dari pengobatan TBC sendiri adalah kedisiplinan. Penderita penyakit ini harus minum obat sesuai aturan dan tidak boleh terputus. Hal ini berkaitan dengan resistensi kuman terhadap obat tuberkulosis. Jika terputus, maka harus diulang lagi dari awal.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Lebaran Era Baru: Hentikan Pertanyaan Basa-basi Perusak Makna Silaturahmi
-
Tradisi THR Lebaran saat Ekonomi Sulit: Antara Berbagi dan Tuntutan Sosial
-
Lebaran dan Tradisi: Antara Rindu, Ritual, dan Makna yang Selalu Kembali
-
Budaya Hampers Jelang Lebaran: Antara Silaturahmi, Gengsi, dan Tekanan Sosial
-
Stop Jadi Teman yang Paling Nyebelin: Kenali 5 Attitude Komunikasi yang Merusak Hubungan
Artikel Terkait
-
Sisi Positif Umpatan Gita Savitri dan Urgensinya
-
Kekerasan Pada Anak dan Perempuan di Gorontalo Utara Masih Sangat Tinggi
-
Presiden Jokowi Jadi Saksi, Air Mata Iriana Jokowi Tak Terbendung Saksikan Adik Bungsunya Menikah
-
Semakin Cantik di Usia 40 Tahun, Intip 8 Potret Terbaru Anya Dwinov yang Masih Betah Jadi Seorang Jomblo
-
Momen Romantis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Rayakan Ulang Tahun di Bali, Outfitnya Jadi Sorotan!
Health
-
Bikin Wangi dan Terasa Lembut di Kulit, Bedak Bayi Berisiko Ganggu Paru-paru Nanti
-
Habis Sahur Tidur Lagi? Ternyata Buat Pola Tidur dan Metabolisme Berantakan
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
-
Bebas Lemas Sampai Lebaran: Rahasia Menu Sahur Rendah Gula ala Ibu Cerdas!
-
Jangan Asal Es Buah! Ini Cara Buka Puasa yang Benar Menurut Dokter Tirta
Terkini
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
-
Seiyu Awards 2026 Umumkan Pemenang, VA Denji Chainsaw Man Bawa Pulang Piala
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia