Dr Gabor Mate, terapis Kanada dan penulis "The Myth of Normal" mendiagnosis Pangeran Harry dengan gangguan ADD atau Attention Deficit Disorder dalam sesi wawancara langsung yang diunggah dalam kanal YouTube The Royal Family Channel (7/3/2023).
“Suka atau tidak suka, saya telah mendiagnosis Anda dengan Attention Deficit Disorder (ADD),” kata Gabor Maté pada Harry.
“Anda bisa setuju atau tidak setuju. Saya tidak melihatnya sebagai penyakit. Saya melihatnya sebagai respons normal terhadap stres yang tidak normal,” tambahnya.
Lalu, apa sebenarnya ADD dan bagaimana gejala serta penyebab yang memicu gangguan ini? Berikut penjelasan singkatnya.
Pengertian umum ADD
Attention Deficit Disorder (ADD) atau secara terjemahan diartikan sebagai gangguan kekurangan perhatian adalah suatu kondisi kesehatan mental yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memperhatikan, mengontrol impuls, dan mempertahankan tingkat konsentrasi yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari. Kondisi ini biasanya muncul pada masa anak-anak dan dapat terus berlanjut hingga usia dewasa.
Penyebab ADD
Penyebab ADD masih belum sepenuhnya dipahami, tapi faktor-faktor genetik dan lingkungan diduga memainkan peran penting. Faktor genetik diduga berperan sebanyak 40-60% dalam terjadinya ADD karena kondisi ini sering ditemukan pada keluarga dengan riwayat ADD atau Attention Deficit atau Hyperactivity Disorder (ADHD).
Beberapa studi menunjukkan bahwa gangguan pada neurotransmiter di otak, seperti dopamin dan norepinefrin, juga dapat menjadi penyebab ADD. Bahkan disebutkan ada penurunan aktivitas otak di area premotor cortex dan prefrontal cortex yang berpengaruh pada aktivitas motorik dan kemampuan memberi perhatian.
Di sisi lain, lingkungan juga berperan dalam terjadinya ADD. Beberapa faktor lingkungan yang dapat meningkatkan risiko ADD adalah pola asuh yang buruk, paparan zat kimia toksik, dan keluarga yang tidak stabil.
Pola asuh yang buruk seperti kurangnya perhatian dan dukungan dari orangtua, kekerasan atau pelecehan seksual, dan trauma psikologis lainnya, juga dapat memicu terjadinya ADD.
Keluarga yang tidak stabil, seperti anak yang orangtuanya bercerai atau keluarga yang sering berpindah-pindah tempat tinggal, juga dapat meningkatkan risiko ADD. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak stabil dapat mempengaruhi perkembangan otak dan mengganggu fungsi kognitif, seperti kemampuan memperhatikan dan berkonsentrasi.
Paparan zat kimia toksik seperti pestisida dan merkuri, yang ditemukan pada makanan dan lingkungan, ternyata juga dapat mempengaruhi perkembangan otak dan memicu terjadinya ADD.
Gejala ADD
Bicara gejala yang muncul, ada sederet tanda khas dari penderita ADD yang bisa dikenali. Gejala ADD biasanya terlihat pada anak-anak yang sulit berkonsentrasi, tidak dapat memperhatikan detail, sering lupa atau kehilangan barang-barang penting, mudah terganggu oleh hal-hal sekitar, tidak dapat duduk diam, serta sulit menyelesaikan tugas-tugas atau aktivitas yang memerlukan fokus dan perhatian yang lebih lama.
Pada orang dewasa, gejala ADD bisa berubah menjadi kesulitan dalam mengatur emosi, mudah merasa bosan, sulit mengambil keputusan, sulit memulai atau menyelesaikan pekerjaan, serta memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan.
Dalam kasus tertentu, penderita ADD bahkan cenderung menghindari tugas atau pekerjaan yang membutuhkan fokus yang berkepanjangan. Pada akhirnya, mereka jadi sering merasa kesulitan untuk mengelola pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Pengobatan ADD
Meski belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan ADD secara total, tapi terapi perilaku dan pengobatan dengan obat-obatan tertentu dibawah pengawasan dokter dapat membantu mengatasi gejala yang dialami.
Terapi perilaku meliputi terapi kognitif, terapi keluarga, dan terapi dukungan sosial, sementara pengobatan obat-obatan meliputi stimulan dan non-stimulan, yang membantu meningkatkan kualitas hidup penderita.
Baca Juga
-
Paylater dan Gaya Hidup Gen Z: Solusi Praktis atau Jebakan Finansial?
-
Fresh Graduate dan Realita Dunia Kerja: Ekspektasi Tinggi, Kenyataan Beda
-
Realita Tidak Estetik Dunia Kerja yang Abu-Abu: Antara Passion dan Tagihan
-
Perempuan Berkarier di Tengah Tekanan Sosial: Sukses atau 'Terlalu Sibuk'?
-
Dulu Rajin, Sekarang "Cuek": Inilah Alasan Mengapa Banyak Pekerja Mulai Jaga Jarak
Artikel Terkait
-
Waspada! Selain Terjerat Masalah Hukum, Berikut 5 Bahaya Menggunakan Narkotika
-
Depresi? Atau Punya Masalah Kesehatan Mental Lainnya? Jogging Solusinya
-
Keluar dari Jerat Hubungan Toxic: Bagaimana Mencapai Kembali Kendali atas Hidupmu
-
Anak Pangeran Harry Kini Punya Gelar Kerajaan Pangeran dan Putri
-
Alasan Pangeran Harry Sangat Lengket dengan Meghan Markle Terungkap: Dia Menyelamatkan Hidup Saya
Health
-
Saatnya Kembali ke Akar: Membangun Imunitas dengan Kekayaan Pangan Lokal
-
Jebakan Industri Gula Manis: Saat Bahagia Dijual dalam Gelas Plastik
-
Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari
-
Beda Kelas! Saat Steven Wongso Jadikan Obesitas Bahan Hinaan, Ade Rai Justru Bongkar Bahayanya
-
Jantung dan Stroke Kini Mengincar Usia 20-an, Ini Cara Simpel Mencegahnya
Terkini
-
Bikin Penonton Ikut Sedih, Begini Sisi Tragis Yoon Yi Rang di Perfect Crown
-
Samsung Kini Jual HP Refurbished Resmi, Harga Flagship Jadi Makin Worth It!
-
Etika Berkomunikasi bagi Pemandu Acara: Pelajaran dari Panggung LCC Kalbar
-
Menanti Taji BPKP: Saat Prabowo Mulai Bersih-Bersih Rumah Birokrasi
-
Manga GIGANT Karya Hiroya Oku Resmi Diadaptasi jadi Film Anime Layar Lebar