Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati World Mental Health Day, sebuah momen untuk mengingatkan kita bahwa kesehatan jiwa adalah bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Pada tahun ini, World Federation for Mental Health (WFMH) mengusung tema “Access to Services: Mental Health in Catastrophes and Emergencies”.
Demi memperingati hari tersebut, dr. Andri, SpKJ, FAPM, Psikiater di RS EMC Alam Sutera, turut membagikan pemikirannya.
Ketika Pikiran Cemas 'Menjelma' Jadi Sakit Fisik
Menurut dr. Andri, tema tahun ini sangat relevan dengan kondisi di lapangan. Dalam praktiknya, ternyata banyak pasien yang datang dengan keluhan fisik seperti sesak napas, nyeri dada, ataupun kelelahan kronis.
Anehnya, setelah diperiksa, hasil pemeriksaan fisik mereka sepenuhnya normal.
“Itulah wajah gangguan psikosomatik. Saat pikiran yang cemas menerjemahkan tekanan batin menjadi keluhan tubuh," terang dr Andri, kepada Suara.com.
Kecemasan, terutama yang terjadi pada situasi bencana atau krisis, adalah reaksi yang wajar dan manusiawi. Tubuh kita memang dirancang untuk waspada terhadap ancaman. Tetapi, bila kewaspadaan itu berlangsung secara terus-menerus tanpa adanya jeda, sistem tubuh akan kelelahan.
Karena itu, tubuh memberikan reaksi melalui berbagai gejala, mulai dari gangguan tidur, jantung berdebar, pusing, hingga rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan secara medis.
Fakta Pahit: Kesehatan Mental Sering Jadi 'Anak Tiri'
Berdasarkan data dari WHO, satu dari lima orang yang tinggal di wilayah konflik atau terdampak bencana mengalami gangguan mental seperti depresi atau stres pascatrauma. Meskipun begitu, hampir semua orang akan merasakan stres psikologis sementara, yang jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi gangguan kronis.
Namun, sangat disayangkan, pada beberapa situasi darurat, akses terhadap layanan kesehatan mental bisa dibilang sangat terbatas. Bantuan psikologis seringkali datang paling akhir, tertinggal jauh di belakang distribusi makanan atau obat-obatan.
Padahal, dukungan psikososial dini adalah kunci untuk mencegah trauma yang berkepanjangan.
Stigma: Musuh Terbesar di Indonesia
Di negara kita, tantangan lain juga muncul, terutama dari stigma sosial. Masih banyak orang yang menganggap masalah kesehatan mental sebagai hal yang sepele. Sebagian bahkan masih menganggap gangguan psikis sebagai "kelemahan iman" atau sekadar "masalah pribadi".
“Padahal, semakin lama dibiarkan, kecemasan kronis dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih kompleks, bahkan menurunkan daya tahan tubuh,” ujar dr. Andri.
Jiwa Juga Butuh Pertolongan Pertama
Pada dasarnya, manusia membutuhkan rasa aman, ketenangan, koneksi sosial, dan harapan untuk bisa menghadapi tekanan hidup. Kita semua butuh waktu untuk sembuh dari keadaan dan luka. Tubuh mungkin bisa diselamatkan dalam sehari, tapi jiwa membutuhkan proses yang jauh lebih lama untuk dipulihkan.
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa hak atas kesehatan jiwa adalah hak asasi manusia.
Di tengah dunia yang semakin cemas, satu hal yang pasti: “Tidak ada ketahanan nasional tanpa ketenangan batin warganya,” tulis dr. Andri.
(Flovian Aiko)
Baca Juga
-
Sering Dianggap Cerewet, Ini 5 Pesan Cinta di Balik Kisah Masa Lalu Orang Tua
-
Sosok yang Selalu Duduk di Kursi Kosong
-
Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda
-
Mengatasi Kulit Dehidrasi: 5 Pilihan Moisturizing Cream untuk Dry Skin
-
Sinopsis Sayonara Noir, Drama Jepang Dibintangi Eiko Koike dan Kana Kita
Artikel Terkait
-
Apa Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025? Ini Maknanya
-
10 Oktober 2025 Hari Apa? Simak Daftar Peringatan Penting Hari Ini
-
Sayang Teman tapi Capek: Kenalan Sama 'Friendship Burnout' yang Bikin Kita Ingin Menghilang
-
Generasi Sadar Mental Health, Tapi Kenapa Masih Takut Cari Bantuan Psikolog?
-
Quarter-Life Crisis Mengintai Anak Muda: Saat Usia 20-an Terasa Lebih Berat dari yang Dibayangkan
Health
-
Viral Podcast Raditya Dika: Bongkar Rahasia Bertahan Hidup dari Gigitan Ular
-
Bahaya Tersembunyi di Balik Kemudi: Mengenal dan Mencegah Ancaman Microsleep
-
Membedah Fenomena Bedtime Procrastination: Ketika 'Lima Menit Lagi' Merampas Waktu Tidur
-
"Anak Saya Sehat, Perlu Vaksin?" Ini Alasan Mengapa Anggapan Itu Bisa Berbahaya
-
Ancaman Tersembunyi Social Smoking: Dari Ikut-Ikutan Bisa Menuju Ketergantungan Loh!
Terkini
-
Sering Dianggap Cerewet, Ini 5 Pesan Cinta di Balik Kisah Masa Lalu Orang Tua
-
Sosok yang Selalu Duduk di Kursi Kosong
-
Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda
-
Mengatasi Kulit Dehidrasi: 5 Pilihan Moisturizing Cream untuk Dry Skin
-
Sinopsis Sayonara Noir, Drama Jepang Dibintangi Eiko Koike dan Kana Kita