Berbuka dengan air es, es buah, lalu langsung makan besar memang terasa nikmat setelah seharian menahan lapar dan haus. Sensasi segar dan manisnya seolah jadi hadiah paling ditunggu saat azan Magrib berkumandang.
Namun kebiasaan tersebut tak selalu ramah bagi tubuh. Lonjakan gula dalam jumlah besar saat perut kosong bisa membuat energi naik cepat lalu turun drastis.
Akibatnya, tubuh justru terasa lemas, mengantuk, bahkan tidak nyaman setelah makan. Pola tersebut berlawanan dengan tujuan puasa yang seharusnya melatih kontrol diri, termasuk dalam urusan konsumsi.
Dalam kanal YouTube Tirta PengPengPeng, dr. Tirta menyoroti kebiasaan berbuka yang dinilai kurang tepat. Ia menyarankan agar proses berbuka dilakukan secara bertahap supaya tubuh punya waktu beradaptasi.
“Kalau enggak ada buah, batalinnya pakai apa? Kurma plus air mineral sudah cukup, magriban dulu baru makan berat,” ujarnya.
Tiga butir kurma disebut cukup untuk mengembalikan energi awal tubuh. Kandungan kalorinya berkisar 170 hingga 210 kalori, hampir setara sepiring nasi porsi sedang.
Setelah itu, satu gelas air putih sekitar 300 mililiter dinilai cukup membantu proses rehidrasi. Makan berat bisa dilakukan setelah salat Magrib agar sistem pencernaan tidak kaget menerima asupan dalam jumlah besar.
Ia juga mengkritisi kebiasaan menambahkan sirup pada buah potong saat berbuka. Tambahan gula dinilai membuat asupan kalori melonjak tanpa disadari.
“Buah potong boleh, tapi jangan dikasih sirup itu sugar bomb,” katanya.
Minuman dingin pun sering disalahkan sebagai penyebab perut kembung saat berbuka. Namun yang lebih berisiko justru konsumsi cairan berlebihan dalam waktu singkat.
“Air dingin itu kalau diminum saat perut kosong rentan meningkatkan risiko brain freeze. Air biasa aja,” jelasnya.
Ia turut menyinggung anggapan bahwa puasa otomatis menjadi proses detoksifikasi tubuh. Manfaat tersebut hanya bisa dirasakan jika pola makan saat malam tetap terkontrol dan tidak berlebihan.
“Puasa itu bisa membantu detoksifikasi tubuh kalau puasanya dilakukan dengan benar dan makanmu enggak berlebihan,” ujarnya.
Di tengah tren konten takjil yang viral selama Ramadan, disiplin saat berbuka menjadi tantangan tersendiri. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum untuk membangun pola makan yang lebih sadar dan terukur.
Baca Juga
-
Forza Ferrari! Tifosi Punya Harapan, Tes Bahrain Tunjukkan Potensi SF-26
-
3 HP Terbaik Februari 2026, dari Entry Level 1 Juta sampai Flagship 10 Juta
-
Teman Berjalan Jadikan Ramadan Ruang Tumbuhkan Empati dan Kebersamaan
-
Kulit Gampang Merah, Jerawat Makin Parah? Polusi dan Gaya Hidup Jadi Pemicu
-
Mengenal Kirab Sultan Jogja, Simbol Kedekatan Pemimpin dan Warga
Artikel Terkait
-
4 Cleanser Terbaik untuk Kulit Kering dan Jaga Skin Barrier Kuat saat Puasa
-
Tips Aman Buka Puasa Sambil Mengemudi Mobil Tanpa Bahaya
-
Sihir Kain Katun dan Tidur Siang yang Tak Terpatahkan di Bulan Ramadan
-
Apa Salah Satu Syarat Sah Puasa? Ini Jawabannya
-
Inspirasi Menu Buka Puasa: Tenya Tempura Tendon, Renyah dengan Cita Rasa Jepang Asli di Central Park
Health
-
Campak Bukan Teman Kencan, Jangan Diajak Jalan-Jalan ke Tempat Umum!
-
Kulit Gampang Merah, Jerawat Makin Parah? Polusi dan Gaya Hidup Jadi Pemicu
-
False Awakening: Saat Merasa Sudah Bangun Tidur tapi Malah Kena Prank Otak Sendiri
-
Rahasia Sehat Saat Puasa: Penjelasan Medis Fungsi Mental dan Vitalitas
-
Ngopi saat Sahur, Efektifkah untuk Menjaga Energi Selama Puasa?
Terkini
-
Belajar Sabar Lewat Klakson dan Bayang Gedung Megah: Surat Cinta Seorang Perantau untuk Jakarta
-
Park Ji Hoon Siap Jadi Prajurit Koki di Drama The Legend of Kitchen Soldier
-
Ramuan Cinta di Sepiring Spaghetti Bolognese dalam Novel Amo Ravierre
-
NgabubuRun: Puasa Lancar, Tubuh Tetap Bugar
-
Dari Tanah Wajo ke Belanda: Perjalanan Cinta Lintas Milenium di Novel Lontara