M. Reza Sulaiman | Jessica Dewi Larasati
Ilustrasi seseorang yang membandingkan bentuk tubuhnya dengan standar tubuh ideal di media sosial. (Sumber: Pinterest)
Jessica Dewi Larasati

Media sosial saat ini menjadi salah satu sumber utama informasi dan hiburan bagi masyarakat, terutama generasi muda. Namun, di balik manfaatnya, media sosial juga menghadirkan berbagai standar kecantikan yang sering kali sulit dicapai. Foto dan video yang menampilkan tubuh ideal terus bermunculan di berbagai platform, mulai dari Instagram hingga TikTok. Akibatnya, banyak pengguna merasa bahwa tubuh mereka belum cukup baik dibandingkan dengan apa yang mereka lihat setiap hari di media sosial.

Menurut penelitian Fardouly dan Vartanian (2016), paparan konten visual di media sosial dapat mendorong seseorang untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain. Sekitar 58% hingga 93% pengguna media sosial, khususnya remaja dan dewasa muda, dilaporkan sering membandingkan bentuk tubuh mereka dengan orang lain. Kebiasaan membandingkan diri ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara seseorang menilai tubuhnya sendiri.

Di TikTok, misalnya, tren penurunan berat badan, rutinitas olahraga, dan pola makan tertentu sering kali mendapatkan perhatian besar. Bagi sebagian orang, konten tersebut memang dapat menjadi motivasi untuk hidup lebih sehat. Namun, bagi individu yang rentan, paparan semacam ini juga dapat memicu ketidakpuasan terhadap tubuh dan meningkatkan risiko gangguan makan.

Selain itu, banyak influencer menggunakan filter kecantikan dan pengeditan foto yang membuat penampilan terlihat lebih sempurna. Kulit tampak mulus, tubuh terlihat lebih ramping, dan tidak adanya kekurangan. Sayangnya, tidak semua pengguna menyadari bahwa apa yang mereka lihat sering kali merupakan hasil rekayasa digital. Akibatnya, standar kecantikan yang terbentuk menjadi tidak realistis dan sulit dicapai oleh kebanyakan orang.

Media massa dan media sosial juga turut memperkuat anggapan bahwa tubuh langsing identik dengan kecantikan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Perempuan dengan tubuh ideal sering digambarkan memiliki kehidupan yang lebih baik, lebih menarik, dan lebih percaya diri. Hal-hal semacam ini secara tidak langsung memengaruhi cara masyarakat memandang dirinya sendiri.

Ketidakpuasan Tubuh dan Tren Diet Ketat

Berdasarkan kondisi tersebut, hal ini dapat memunculkan body dissatisfaction, yaitu perasaan tidak puas atau penilaian negatif terhadap bentuk tubuh sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami ketidakpuasan tubuh karena lebih sering menerima komentar dan tekanan terkait penampilannya dibandingkan laki-laki. Di Indonesia, sekitar 38% hingga 48,4% perempuan dewasa muda dilaporkan mengalami ketidakpuasan terhadap tubuhnya. Angka ini menunjukkan bahwa masalah citra tubuh bukanlah persoalan yang bisa dianggap sepele.

Ketika seseorang merasa tubuhnya tidak sesuai dengan standar yang dianggap ideal, berbagai upaya sering dilakukan untuk mengubah penampilannya. Salah satu cara yang paling umum adalah menjalani diet ketat. Diet ketat biasanya dilakukan dengan mengurangi asupan kalori secara drastis atau membatasi jenis makanan tertentu demi mendapatkan hasil yang cepat.

Fenomena ini semakin marak di tengah banyaknya konten yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat. Beberapa contoh diet ekstrem yang cukup populer antara lain water fasting, diet detoks, diet mono-food, hingga diet defisit kalori yang berlebihan. Meski terdengar menjanjikan, cara-cara tersebut tidak selalu aman jika dilakukan tanpa pengawasan ahli.

Dari sisi kesehatan fisik, diet ketat dapat menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi penting, kehilangan massa otot, mudah lelah, dan menurunnya daya tahan tubuh. Dalam jangka panjang, terlalu membatasi pola makan juga dapat meningkatkan risiko gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, diet ketat juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Keinginan untuk terus mencapai tubuh ideal sering kali membuat seseorang merasa cemas terhadap berat badannya, takut untuk makan, hingga terobsesi dengan angka timbangan. Ketika target yang diharapkan tidak tercapai, perasaan seperti kecewa, rendah diri, bahkan depresi dapat muncul. Pada akhirnya, seseorang justru semakin tidak puas dengan dirinya sendiri.

Perspektif Psikologi Kesehatan

Mengejar kesehatan tentu merupakan hal yang baik. Namun, kesehatan seharusnya tidak hanya diukur dari angka berat badan atau bentuk tubuh semata. Setiap orang memiliki bentuk tubuh, kondisi genetik, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Karena itu, penting untuk membangun penerimaan diri (self-acceptance), menggunakan media sosial secara lebih bijak, serta memahami bahwa tidak semua standar ideal yang ditampilkan di media sosial mencerminkan kenyataan.

Dalam perspektif psikologi kesehatan, perilaku diet tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan biologis untuk menjaga berat badan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Paparan media sosial yang terus-menerus menampilkan standar tubuh ideal dapat membentuk keyakinan bahwa tubuh langsing merupakan syarat untuk dianggap menarik, sukses, dan diterima oleh lingkungan.

Keyakinan tersebut kemudian memengaruhi cara individu menilai dirinya sendiri dan dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap tubuh (body dissatisfaction). Ketika ketidakpuasan ini semakin kuat, individu cenderung melakukan berbagai upaya untuk mengubah penampilannya, termasuk menjalani diet ketat tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi kesehatan. Oleh karena itu, psikologi kesehatan memandang pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental, serta mendorong individu untuk menerapkan pola hidup sehat yang didasarkan pada kebutuhan tubuh, bukan hanya untuk memenuhi standar ideal yang dibentuk oleh lingkungan sosial.

Pada akhirnya, standar tubuh ideal akan terus berubah dalam mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Namun, kesehatan fisik dan mental adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar memenuhi ekspektasi atau penilaian di media sosial.

Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, alangkah lebih baik jika kita belajar menghargai dan menerima tubuh sebagai sesuatu yang perlu dirawat. Sebab, tubuh yang sehat tidak selalu harus mengikuti standar ideal yang diciptakan media sosial, melainkan tubuh yang mampu berfungsi dengan baik serta membuat kita merasa nyaman dan percaya diri dengan diri sendiri.

Baca Juga