M. Reza Sulaiman
gejala campak pada anak dan bayi (shutterstock)

Indonesia tengah menghadapi situasi darurat kesehatan anak. Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per Februari 2026 menempatkan Indonesia di urutan kedua sebagai negara dengan kasus campak tertinggi di dunia, tepat di bawah Yaman dan di atas India.

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat lonjakan kasus yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, terdapat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 di antaranya terkonfirmasi positif dan menyebabkan 69 kematian. Memasuki minggu ketujuh tahun 2026, angka ini terus bertambah dengan 8.224 kasus suspek, 572 terkonfirmasi, dan 4 kematian.

Merespons kondisi yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) ini, Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa situasi ini membutuhkan penanganan luar biasa dari seluruh elemen masyarakat.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi,” tegas dr. Piprim di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Dampak Pandemi dan Anjloknya Cakupan Imunisasi

Lonjakan kasus ini tidak lepas dari efek domino pandemi COVID-19. Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), menjelaskan bahwa disrupsi layanan kesehatan selama pandemi menciptakan "kantong-kantong kerentanan" di berbagai daerah.

Hingga tahun 2024, cakupan imunisasi campak rubela dosis kedua (MR2) hanya mencapai 82,3 persen. Angka ini jauh di bawah target nasional sebesar 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

“Banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasinya. Yang perlu dipahami adalah bahwa imunisasi campak rubela aman dan efektif. Isu-isu tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasar secara ilmiah,” jelas Prof. Hartono. Ia memastikan bahwa vaksin MR yang digunakan telah lulus evaluasi ketat BPOM.

Enam Langkah Strategis IDAI

Untuk meredam penyebaran virus yang sangat menular ini, IDAI mengeluarkan enam rekomendasi strategis:

  1. Kejar Imunisasi: Segera lengkapi imunisasi campak rubela bagi anak berusia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun.
  2. Tingkatkan Surveilans: Memperkuat sistem pelaporan penyakit campak dan rubela (measles-case based surveillance) oleh dokter dan fasilitas kesehatan ke dinas kesehatan setempat.
  3. Perkuat Kapasitas Laboratorium: Meningkatkan ketersediaan laboratorium diagnostik untuk deteksi dini dan konfirmasi kasus.
  4. Tata Laksana Suportif & Pemberian Vitamin A: Mengingat belum ada antivirus spesifik untuk campak, perawatan difokuskan pada pemenuhan cairan, nutrisi, dan pemberian vitamin A yang terbukti menurunkan angka kematian hingga 50 persen.
  5. Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit: Pasien campak harus dirawat di ruang isolasi airborne dengan ventilasi baik untuk mencegah penularan silang. Pasien menularkan virus sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul.
  6. Edukasi Massal: Mendorong dokter anak dan tenaga kesehatan untuk aktif mengedukasi masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial, mengenai bahaya komplikasi campak seperti pneumonia dan ensefalitis (radang otak).

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A(K), Subsp.IPT(K), juga mengingatkan pentingnya isolasi mandiri di rumah selama periode infeksius guna mencegah penyebaran di lingkungan sekitar.

Sebagai penutup, dr. Piprim kembali mengingatkan bahwa kematian akibat campak adalah tragedi yang sebenarnya sangat bisa dicegah.

"Pemerintah telah menyediakan vaksin, tenaga kesehatan siap melayani, sekarang tinggal kesadaran dan kepedulian kita bersama sebagai bangsa. Jangan tunda imunisasi, jangan abaikan gejala, dan jangan ragu membawa anak ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya.