M. Reza Sulaiman | Wildan Dzaky
Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari (Dokumen Pribadi)
Wildan Dzaky

Ahmad Tohari membangun salah satu novel terbesar yang pernah lahir dari tanah Indonesia sebuah karya yang berbicara tentang cinta yang tidak bisa digenggam, tradisi yang membelenggu sekaligus memberi makna, dan kekuasaan yang menghancurkan tanpa merasa bersalah.

Ronggeng Dukuh Paruk pertama kali terbit pada 1982, kemudian berkembang menjadi sebuah trilogi bersama Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986). Ketiganya kemudian disatukan dan tetap hidup hingga hari ini diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, diadaptasi ke layar lebar, dan terus dibaca oleh generasi demi generasi pembaca yang menemukan dalam halamannya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Untuk memahami Ronggeng Dukuh Paruk, kita perlu mengenal dulu siapa yang menulisnya.

Ahmad Tohari lahir tahun 1948 di Tinggarjaya, Banyumas, Jawa Tengah. Ia bukan lulusan fakultas sastra. Ia tidak menghabiskan masa mudanya di Jakarta. Ia tumbuh di desa, di antara sawah, calung, dan kehidupan rakyat kecil yang seringkali tidak terlihat oleh sastra Indonesia mainstream saat itu.

Dari situlah kekuatannya. Ahmad Tohari menulis bukan tentang kehidupan yang ia bayangkan, melainkan tentang kehidupan yang ia kenal dengan seluruh tubuhnya bau tanah habis hujan, gemuruh lesung, dan keheningan malam desa yang menyimpan banyak rahasia.

Ronggeng Dukuh Paruk adalah distilasi dari semua itu. Dan Srintil adalah jantungnya.

Dukuh Paruk: Desa yang Bukan Sekadar Latar

Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Sebelum berbicara tentang tokoh-tokohnya, kita perlu berhenti sejenak di Dukuh Paruk itu sendiri.

Dukuh Paruk bukan sekadar nama tempat. Ia adalah semesta tersendiri desa terpencil yang terisolasi secara geografis maupun mental, yang hidupnya berpusat pada satu kebanggaan tunggal: ronggeng. Warganya miskin, tidak berpendidikan, dan hampir tidak memiliki akses ke dunia luar. Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki desa-desa lain: tradisi ronggeng yang mereka yakini sebagai anugerah sakral dari nenek moyang mereka, Ki Secamenggala.

Ahmad Tohari melukis Dukuh Paruk dengan rasa cinta yang tidak sentimentil. Ia tidak memperindahnya. Kemiskinan, kebodohan, dan keterbatasannya ditampilkan apa adanya. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang berdenyut sebuah kehidupan yang mungkin sempit, tetapi terasa utuh dan bermakna bagi mereka yang hidup di dalamnya.

Dan ketika dunia luar akhirnya masuk ke Dukuh Paruk dengan janji-janjinya, politiknya, dan kekerasan tersiratnya kehancuran pun tidak bisa dihindari.

Ronggeng: Antara Seni, Spiritualitas, dan Eksploitasi

Untuk benar-benar menyelami novel ini, kita perlu memahami apa itu ronggeng dalam konteks budaya yang Ahmad Tohari gambarkan.

Ronggeng bukan sekadar penari. Ia adalah figur sakral dalam kepercayaan masyarakat Dukuh Paruk perantara antara dunia manusia dan dunia roh, pembawa kesuburan dan keselamatan bagi desa. Kehadirannya memberi desa kebanggaan yang tidak bisa digantikan oleh kekayaan atau kekuasaan.

Namun di balik aura sakral itu, terdapat kenyataan yang jauh lebih kompleks dan tidak selalu nyaman untuk ditatap.

Ritual Bukak Klambu

Salah satu momen paling kontroversial sekaligus paling penting dalam novel ini adalah ritual bukak klambu: sebuah upacara di mana keperawanan seorang calon ronggeng "dilepaskan" kepada laki-laki yang mampu membayar paling mahal, sebagai bagian dari proses inisiasi.

Ahmad Tohari tidak melukiskan ritual ini dengan sensasionalisme murahan. Ia melukiskannya dengan kesedihan yang dalam. Sebab ini bukan tentang seksualitas semata ini tentang bagaimana sebuah tradisi, betapapun sakralnya bagi para pelakunya, pada satu sisi beroperasi sebagai mekanisme yang merenggut pilihan dari tubuh seorang perempuan muda.

Srintil tidak menolak. Ia telah menginternalisasi takdir ini sebagai keindahan, sebagai kehormatan. Dan di sinilah Ahmad Tohari menghadirkan ironi yang paling dalam: yang paling kejam bukan selalu yang dilakukan dengan kekerasan, tetapi yang dilakukan dengan keyakinan.

Perempuan dalam Jepit Tradisi

Srintil adalah representasi dari dilema perempuan dalam tradisi patriarkal, ia dipuja sekaligus diperlakukan sebagai komoditas, dimuliakan sekaligus tidak diberi pilihan atas tubuhnya sendiri.

Namun Tohari cukup bijak untuk tidak menjadikan Srintil sebagai korban pasif. Srintil memiliki kecerdasan, humor, ambisi, dan keinginan-keinginannya sendiri. Ia bukan boneka. Justru itulah yang membuat nasibnya terasa begitu memilukan seorang perempuan yang begitu hidup, begitu penuh, tetapi terus-menerus dibentuk oleh kekuatan yang berada di luar kendalinya.

Ketika Politik Masuk ke Desa yang Tidak Tahu Apa-apa

Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Jika separuh pertama novel ini adalah tentang cinta dan tradisi, separuh keduanya dan di sinilah trilogi ini mencapai dimensi tragedinya yang paling besar adalah tentang kekuasaan politik yang menghancurkan yang tidak berdaya.

Latar waktu novel ini merentang ke era 1960-an, menuju dan sesudah peristiwa 1965 yang mengubah wajah Indonesia selamanya. Dan Dukuh Paruk, yang selama ini hidup dalam dunianya sendiri yang terasing, tiba-tiba terseret masuk ke dalam vorteks sejarah yang tidak mereka pilih dan tidak mereka mengerti.

Salah satu keistimewaan Ronggeng Dukuh Paruk yang sering disebut para pembaca dan kritikus adalah prosanya yang luar biasa.

Ahmad Tohari menulis dengan bahasa yang berakar kuat di tanah Banyumas. Ia menggunakan ungkapan-ungkapan lokal, deskripsi alam yang terperinci dan presisi, dan irama kalimat yang seolah-olah mencerminkan detak gamelan yang mengiringi tarian ronggeng itu sendiri.

Ketika ia menggambarkan malam di Dukuh Paruk, kita bisa mencium bau ilalang basah. Ketika ia menggambarkan Srintil menari, kita hampir bisa mendengar gemerincing genta di pergelangan kakinya. Ketika ia menggambarkan kehancuran, diam-nya terasa lebih berat dari teriakan.

Lebih dari empat dekade setelah terbit, Ronggeng Dukuh Paruk tidak kehilangan satu pun gigitannya. Ini karena pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan bukan pertanyaan yang sudah terjawab:

Tentang perempuan dan tradisi: Sampai hari ini, banyak perempuan yang hidup di persimpangan antara keinginan pribadi dan tekanan tradisi tradisi keluarga, tradisi agama, tradisi budaya. Dilema Srintil terasa asing dalam konteks pedesaan Jawa 1960-an, tetapi mekanismenya terasa sangat akrab.

Tentang yang tidak berdaya berhadapan dengan kekuasaan: Tragedi Dukuh Paruk adalah versi mikro dari tragedi yang terus berulang: orang-orang kecil yang hidupnya porak-poranda oleh keputusan yang dibuat di tempat yang sangat jauh dari mereka, oleh orang-orang yang tidak pernah tahu nama mereka.

Tentang cinta yang tidak bisa digenggam: Rasus dan Srintil adalah pasangan yang mewakili semua cinta yang tahu harus ke mana tetapi tidak tahu bagaimana caranya sampai. Bukankah kita semua pernah, dalam satu atau lain bentuk, merasakan hal yang sama?

Srintil tidak menang. Tetapi ia tidak mudah pula dikalahkan. Dan itulah yang membuatnya abadi

Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Pada akhirnya, Ronggeng Dukuh Paruk adalah tentang apa yang terjadi ketika tiga kekuatan besar cinta, tradisi, dan kekuasaan bertemu dalam tubuh dan jiwa satu perempuan yang tidak punya cukup kekuatan untuk melawan semuanya.

Ahmad Tohari menulis novel ini bukan untuk memberikan jawaban, melainkan untuk mengajukan pertanyaan yang benar. Pertanyaan tentang apa yang kita wariskan, apa yang kita korbankan atas nama tradisi, siapa yang harus membayar harga dari keputusan-keputusan besar yang dibuat tanpa melibatkan mereka.

Membaca Ronggeng Dukuh Paruk adalah pengalaman yang tidak meninggalkanmu di tempat yang sama. Ia menggesermu sedikit, atau mungkin jauh dari tempat di mana kamu berdiri sebelumnya. Dan sastra yang mampu melakukan itu adalah sastra yang hidup.

Baca Juga