"Anak saya sehat, jadi tidak perlu divaksin."
Pernyataan seperti ini mungkin masih sering kita dengar di lingkungan sekitar. Sebagian orang tua menganggap bahwa selama anak terlihat sehat dan aktif, imunisasi bukanlah sesuatu yang mendesak untuk dilakukan. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa campak hanyalah penyakit biasa yang akan sembuh dengan sendirinya sehingga vaksinasi dianggap tidak terlalu penting.
Padahal, menurut World Health Organization (2024), campak merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus dan menyebar melalui percikan saluran pernapasan dari orang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, ensefalitis, bahkan kematian, terutama pada anak-anak yang belum memiliki kekebalan.
Ancaman campak hingga kini masih menjadi perhatian dunia. WHO melaporkan bahwa sekitar 10,3 juta kasus campak terjadi secara global pada tahun 2023, meningkat sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini salah satunya berkaitan dengan masih rendahnya cakupan imunisasi di berbagai negara (WHO, 2024).
Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa masih ada orang tua yang memilih untuk tidak memberikan imunisasi campak kepada anaknya meskipun manfaat vaksin telah banyak diketahui?
Perspektif Psikologi Kesehatan
Dari perspektif psikologi kesehatan, keputusan seseorang untuk melakukan atau mengabaikan perilaku kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh keyakinan dan persepsi yang dimilikinya.
Salah satu teori yang banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku kesehatan adalah Health Belief Model (HBM) yang dikembangkan oleh Irwin M. Rosenstock pada tahun 1974. Teori ini menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk melakukan tindakan kesehatan dipengaruhi oleh persepsi kerentanan (perceived susceptibility), persepsi keparahan (perceived severity), persepsi manfaat (perceived benefits), persepsi hambatan (perceived barriers), isyarat untuk bertindak (cue to action), dan keyakinan diri (self-efficacy).
Perceived Susceptibility (Persepsi Kerentanan)
Sebagian orang tua merasa anak mereka tidak berisiko terkena campak karena terlihat sehat dan jarang sakit. Padahal, anak yang belum memiliki kekebalan tetap dapat tertular ketika terpapar virus campak. Menurut Rosenstock (1974), individu yang merasa dirinya tidak rentan terhadap suatu penyakit cenderung memiliki motivasi yang lebih rendah untuk melakukan tindakan pencegahan.
Perceived Severity (Persepsi Keparahan)
Masih banyak masyarakat yang menganggap campak sebagai penyakit biasa yang akan sembuh dengan sendirinya. Akibatnya, risiko komplikasi serius sering kali diabaikan. Dalam Health Belief Model, persepsi mengenai tingkat keparahan penyakit menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan seseorang dalam menjaga kesehatannya (Champion & Skinner, 2008).
Perceived Benefits (Persepsi Manfaat)
Keputusan untuk melakukan imunisasi juga dipengaruhi oleh keyakinan terhadap manfaat vaksin. Orang tua yang percaya bahwa vaksin mampu melindungi anak dari campak dan menurunkan risiko komplikasi cenderung lebih patuh terhadap jadwal imunisasi. Sebaliknya, ketika manfaat vaksin diragukan, kemungkinan untuk menunda atau menolak imunisasi menjadi lebih besar.
Perceived Barriers (Persepsi Hambatan)
Meskipun mengetahui manfaat vaksin, sebagian orang tua masih menghadapi berbagai hambatan, seperti kekhawatiran terhadap efek samping vaksin, informasi yang tidak akurat di media sosial, hingga pengaruh lingkungan sekitar. Menurut Eve Dubé, Caroline Laberge, Maryse Guay, Paul Bramadat, Réal Roy, dan Julie A. Bettinger (2013), keraguan terhadap vaksin merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, budaya, dan kepercayaan terhadap sumber informasi.
Cue to Action (Isyarat untuk Bertindak)
Banyak orang tua baru terdorong melakukan imunisasi setelah memperoleh informasi dari tenaga kesehatan, sekolah, atau ketika muncul pemberitaan mengenai meningkatnya kasus campak. Faktor-faktor tersebut berperan sebagai pemicu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kesehatan.
Self-Efficacy (Keyakinan Diri)
Di era digital, masyarakat memperoleh informasi kesehatan dari berbagai sumber yang belum tentu dapat dipercaya. Tidak sedikit orang tua yang merasa bingung menentukan informasi mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Menurut Albert Bandura (1997), keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mengambil keputusan yang tepat akan memengaruhi perilaku yang ditampilkan, termasuk dalam keputusan terkait imunisasi.
Upaya Pencegahan dan Edukasi
Keputusan orang tua untuk memberikan imunisasi pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh keyakinan terhadap manfaat vaksin dan kepercayaan terhadap informasi yang diterima. Menurut penelitian Dubé et al. (2013), membangun kepercayaan masyarakat merupakan salah satu strategi penting dalam mengatasi keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy).
Oleh karena itu, edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan informasi yang mudah dipahami, didukung bukti ilmiah, serta disampaikan oleh sumber yang kredibel. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui pentingnya imunisasi, tetapi juga memiliki keyakinan untuk mengambil keputusan kesehatan yang tepat bagi anak mereka.
Kasus campak yang masih ditemukan hingga saat ini menunjukkan bahwa keputusan imunisasi tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh cara seseorang memandang risiko penyakit, manfaat vaksin, serta informasi yang diterimanya. Melalui perspektif Health Belief Model, dapat dipahami bahwa keraguan terhadap imunisasi sering kali berakar pada persepsi dan keyakinan yang dimiliki individu.
Oleh karena itu, selain meningkatkan akses terhadap vaksin, membangun kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan yang akurat juga menjadi langkah penting dalam melindungi anak-anak dari ancaman campak yang sebenarnya dapat dicegah.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Demi Wujudkan Mimpi Road Trip ke Turki Bareng Anak, Pasutri Ini Sampai Jual Rumah dan Mobil
-
Demi Jalan-Jalan Lepas Penat, Ibu di Bantul Tega Lakban Mulut dan Kaki Balitanya di Kontrakan
-
Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian
-
Outdoor Kini Jadi Gaya Hidup, Indofest 2026 Catat Antusiasme Anak Muda 'Main' ke Alam
-
Cukup Sekali Cerita! Pemerintah Janji Respons 1x24 Jam Laporan Kekerasan Perempuan dan Anak
Health
-
Ancaman Tersembunyi Social Smoking: Dari Ikut-Ikutan Bisa Menuju Ketergantungan Loh!
-
Cintai Tubuhmu: Mengapa Kesehatan Mental Jauh Lebih Penting daripada Angka di Timbangan
-
Saat 'Diterima Teman' Lebih Penting dari Kesehatan: Membedah Psikologi Remaja Pengguna Vape
-
Radiasi di Balik TWS: Seberapa Aman Dipakai Setiap Hari?
-
Saatnya Kembali ke Akar: Membangun Imunitas dengan Kekayaan Pangan Lokal
Terkini
-
Kenapa Gen Z Makin Jarang Memasak? Ini Dampak Tersembunyi di Baliknya
-
Woody dan Buzz Kini Bisa Dipakai di Kaki, Kolaborasi Adidas x Toy Story 5!
-
Pakai AI untuk Lambang Negara, BRIN Terjebak Kesalahan Fatal yang Tak Termaafkan?
-
Masakan Sering Terbuang, Meal Planning Jadi Solusi Tepat?
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?