M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Ilustrasi buah Parijoto (rri.co.id/pinterest)
Atalie June Artanti

Dari sekian banyak buah lokal Indonesia, ada satu nama yang mungkin belum terlalu akrab di telinga banyak orang: parijoto. Ukurannya kecil, tumbuh bergerombol, warnanya ungu kemerahan, dan sekilas mirip anggur liar. Namun di balik tampilannya yang sederhana, buah ini menyimpan cerita panjang mulai dari tradisi masyarakat, klaim manfaat kesehatan, hingga peluang ekonomi yang mulai berkembang.

Bagi masyarakat di sekitar lereng Gunung Muria, Jawa Tengah, parijoto bukan buah baru. Tanaman dengan nama ilmiah Medinilla speciosa ini sudah lama tumbuh di kawasan pegunungan dan dimanfaatkan secara turun-temurun.

Yang membuatnya menarik, parijoto tidak hanya dikenal sebagai buah konsumsi biasa. Ada kepercayaan yang sudah cukup lama hidup di masyarakat bahwa buah ini berkaitan dengan kesuburan dan program kehamilan. Bahkan berkembang cerita bahwa ibu hamil yang mengonsumsi parijoto akan melahirkan anak yang sehat dan berparas rupawan.

Di tengah perkembangan ilmu kesehatan modern, kepercayaan semacam ini tentu menarik untuk dilihat dengan lebih bijak: mana yang merupakan warisan budaya, dan mana yang memang mulai mendapat dukungan dari penelitian.

Dari Cerita Turun-Temurun ke Dunia Penelitian

Popularitas parijoto belakangan tidak hanya datang dari cerita masyarakat. Sejumlah peneliti dan akademisi mulai tertarik menelusuri kandungan yang dimiliki buah ini.

Parijoto diketahui mengandung senyawa seperti flavonoid, tanin, saponin, dan antosianin yakni pigmen yang memberi warna ungu pada buah sekaligus dikenal sebagai antioksidan.

Antioksidan sendiri berperan membantu tubuh menghadapi paparan radikal bebas yang berasal dari polusi, asap rokok, hingga proses metabolisme harian.

Karena kandungan tersebut, muncul berbagai klaim manfaat kesehatan yang dikaitkan dengan parijoto. Mulai dari membantu menjaga daya tahan tubuh, mendukung kesehatan jantung, sampai dikaitkan dengan kesehatan reproduksi.

Namun penting dipahami, sebagian besar temuan tersebut masih berasal dari penelitian awal dan belum cukup untuk menjadikan parijoto sebagai terapi medis.

Artinya, buah ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat bukan pengganti pengobatan.

Mengapa Parijoto Sering Dikaitkan dengan Promil?

Salah satu alasan nama parijoto sering dicari adalah kaitannya dengan program hamil.

Secara ilmiah, hubungan ini biasanya dijelaskan melalui peran antioksidan. Dalam sejumlah penelitian umum mengenai nutrisi dan fertilitas, asupan kaya antioksidan memang dikaitkan dengan lingkungan tubuh yang lebih baik bagi fungsi reproduksi.

Pada perempuan, antioksidan membantu melindungi sel dari stres oksidatif. Pada laki-laki, antioksidan juga sering dikaitkan dengan kualitas sperma yang lebih baik.

Tetapi, itu bukan berarti makan parijoto otomatis meningkatkan peluang kehamilan.

Kehamilan tetap dipengaruhi banyak faktor: kondisi kesehatan, hormon, usia, pola hidup, hingga pemeriksaan medis yang tepat.

Karena itu, jika ingin mencoba mengonsumsi parijoto saat promil, sebaiknya tetap menjadikannya pelengkap pola hidup sehat, bukan menggantungkan harapan sepenuhnya pada satu jenis buah.

Tidak Lagi Sekadar Buah Hutan

Menariknya, perjalanan parijoto sekarang mulai berubah.

Jika dulu hanya dipetik dan dikonsumsi langsung, kini berbagai inovasi mulai bermunculan. Ada yang mengolahnya menjadi teh herbal, selai, manisan, minuman, hingga produk UMKM bernilai jual lebih tinggi.

Beberapa kampus bahkan ikut mengembangkan produk berbasis parijoto agar buah lokal ini memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

Perubahan ini menunjukkan bahwa kekayaan hayati Indonesia sebenarnya menyimpan peluang besar jika dikembangkan secara berkelanjutan.

Di kawasan Muria sendiri, parijoto perlahan tidak hanya menjadi identitas lokal, tetapi juga sumber penghidupan baru bagi masyarakat sekitar.

Kecil Ukurannya, Besar Potensinya

Di tengah tren masyarakat yang mulai kembali melirik pangan lokal dan bahan alami, parijoto hadir sebagai pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak tanaman yang belum sepenuhnya dikenal.

Meski begitu, antusiasme tetap perlu dibarengi sikap kritis. Tidak semua yang viral otomatis terbukti secara medis. Tidak semua yang tradisional berarti tanpa risiko. Konsumsi tetap perlu dalam batas wajar dan menyesuaikan kondisi kesehatan masing-masing.

Namun satu hal yang menarik dari parijoto adalah cerita di baliknya.

Buah kecil dari lereng gunung ini menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini tumbuh diam-diam di alam bisa berubah menjadi simbol pelestarian, inovasi, dan kebanggaan daerah.

Dan mungkin, itu manfaat terbesar yang selama ini jarang dibicarakan.