Anak ayam warna-warni memang mudah membuat orang berhenti. Kuning, merah, hijau, biru, bahkan ungu bergerombol di dalam kardus. Tubuh kecilnya bergerak ke sana kemari. Bagi anak-anak, pemandangan seperti itu tentu menggemaskan. Harganya pun murah, hanya sekitar Rp5.000 seekor.
Saya pernah membelinya. Bukan hanya anak ayam warna-warni, saya juga pernah membeli anak burung emprit yang diberi warna beragam. Waktu itu alasannya sederhana: lucu. Tidak terpikir macam-macam. Namanya juga anak ayam, paling dipelihara sebentar di rumah.
Ternyata pengalaman saya tidak sekali itu saja. Beberapa kali membeli anak ayam warna-warni, beberapa ekor justru tidak bertahan lama. Ada yang beberapa hari kemudian mulai lemas, sakit seperti demam, lalu mati. Berkali-kali mengalami hal yang sama akhirnya membuat saya bertanya-tanya. Mengapa anak ayam yang baru dibeli dan masih begitu kecil ini begitu mudah sakit dan mati?
Dari pengalaman kecil tersebut, saya mulai melihat anak ayam warna-warni dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar hewan kecil yang lucu karena bulunya berwarna-warni, tetapi juga sebagai hewan yang sejak awal sudah melalui proses pewarnaan sebelum sampai ke tangan pembeli.
Anak ayam tersebut bukan jenis ayam dengan bulu merah, biru, atau hijau sejak lahir. Mereka merupakan anak ayam yang masih sangat muda. Sebagian berasal dari anak ayam jantan ras petelur yang tidak bisa menghasilkan telur dan dinilai kurang menguntungkan untuk dipelihara sebagai ayam pedaging. Agar lebih menarik dan punya nilai jual, anak ayam itu kemudian diberi warna.
Tidak heran jika anak ayam warna-warni sering tidak bertahan lama. Mereka masih sangat muda dan kondisi tubuhnya memang rentan. Proses pewarnaan juga bisa menjadi masalah ketika menggunakan bahan yang tidak aman untuk hewan. Anak ayam yang tubuhnya dibasahi pewarna kemudian harus dikeringkan, sementara mereka belum mampu mengatur suhu tubuh dengan baik sehingga mudah kedinginan dan stres. Setelah dijual, masalahnya bisa berlanjut karena tidak semua pembeli tahu bahwa anak ayam membutuhkan tempat yang hangat, terutama pada minggu-minggu pertama. Tanpa penghangat yang cukup, makanan, minuman, dan perawatan yang tepat, anak ayam yang sejak awal sudah lemah semakin mudah sakit. Jadi, kematian mereka tidak bisa begitu saja dianggap karena anak ayam memang “gampang mati”; cara pewarnaan, kondisi tubuh, proses penjualan, sampai perawatan setelah dibeli semuanya perlu diperhatikan.
Penjual sengaja membuat anak ayam tampil berbeda karena penampilan itu punya nilai jual. Semakin mencolok warnanya, semakin mudah anak-anak tertarik. Anak ayam yang seharusnya dilihat sebagai makhluk hidup akhirnya diperlakukan seperti barang dagangan yang perlu dibuat semenarik mungkin agar cepat berpindah tangan.
Kalau bahan pewarna yang digunakan aman dan prosesnya tidak mengganggu kondisi anak ayam, tentu ada hal yang bisa dipertimbangkan. Tetapi ketika pewarna yang digunakan tidak ditujukan untuk hewan, lalu tubuh anak ayam harus bersentuhan langsung dengan bahan tersebut, penjual tidak seharusnya menutup mata terhadap risikonya.
Yang lebih mengganggu adalah anak ayam itu sendiri tidak punya pilihan. Mereka tidak bisa menolak ketika dicelup, disemprot, dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam kardus. Semua keputusan ada di tangan manusia. Karena itu, alasan “yang penting laku” rasanya terlalu mudah dipakai untuk membenarkan cara berjualan seperti ini.
Penjual memang berhak mencari keuntungan. Tetapi mencari keuntungan bukan berarti semua cara boleh dilakukan. Apalagi yang dijadikan alat untuk menarik pembeli adalah tubuh hewan yang masih sangat kecil dan rentan.
Pembeli pun sering kali tidak diberi gambaran bahwa anak ayam membutuhkan perawatan. Karena harganya hanya beberapa ribu rupiah, hewan ini mudah dianggap seperti mainan murah. Dibawa pulang karena lucu, dimainkan sebentar, lalu ketika mati atau bosan, diganti dengan yang baru.
Karena itu, penjual seharusnya tidak hanya memikirkan bagaimana anak ayam terlihat menarik sebelum dibeli. Cara memperlakukan hewan selama proses pewarnaan, kondisi setelah pewarnaan, sampai informasi perawatan kepada pembeli juga layak diperhatikan.
Sebab kalau seluruh proses itu dilakukan hanya supaya anak ayam lebih cepat laku, ada pertanyaan yang sulit dihindari: seberapa jauh keuntungan boleh dikejar ketika yang dijadikan modal untuk menarik pembeli adalah tubuh makhluk hidup? Bagi pembeli, mungkin hanya lima ribu rupiah. Bagi penjual, mungkin hanya satu ekor dari sekian banyak dagangan. Tetapi bagi anak ayam itu, tubuhnya adalah satu-satunya yang ia punya.
Baca Juga
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Sound Horeg dan Pertanyaan yang Belum Usai: Pantaskah Ia Disebut Budaya?
-
Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
-
Dari Marie Curie hingga Dinosaurus: Bagaimana Buku Ini Membuka Pintu Dunia Sains untuk Anak-Anak?
Artikel Terkait
-
Kenali Karakter Shio Ayam Pria vs Wanita : Siapa yang Lebih Mendominasi dan Keras Kepala?
-
MBG Ikut Dongkrak Harga Pangan, Pedagang Pasar Mulai Tertekan
-
Uang Belanja Aman, Harga Telur Ayam Hanya Rp25.000/Kg
-
Dari Gerobak Kaki Lima ke Marketplace, Begini Perjalanan Cireng Taklukkan Selera Zaman Now
-
Crazy Toys Warehouse Sale Hadir, Satukan Tiga Generasi dalam Nostalgia
Kolom
-
Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
-
Menjeda Rutinitas Sejenak, Menemukan Kebahagiaan Sederhana di Tempat Camping
-
Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?
-
Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
Terkini
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
-
Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah
-
Review Film It's My Time: Seni Menghargai Masa Tua dengan Cara yang Indah