Serba-serbi K-Pop memang selalu menarik perhatian dari segala sisinya. Setiap hal unik yang dilakukan para idol K-Pop dapat dengan mudah diterima dan turut disenangi para penggemar di mana pun berada. Salah satu contohnya adalah interaksi para idola K-Pop ini dengan anjing peliharaan mereka.
Sebut saja nama-nama populer seperti Vivi dan Monsieur milik Sehun EXO, Tannie (Yeontan) milik V BTS, serta Kai dan Kuma milik Jennie BLACKPINK. Ketiganya sering terlihat kompak membagikan postingan foto maupun video bersama anjing peliharaannya di akun instagram masing-masing.
Setiap postingan tersebut selalu dihujani jutaan like dan ribuan komentar para penggemar dengan ungkapan yang unik dan menarik. Sebab, mereka selalu membuat fans merasa iri atas kedekatan keduanya. Lantas apa yang membuat jenis anjing pomeraian ini begitu disukai, simak fakta berikut ini.
Anjing Ras Spitz Populer
Jenis anjing Pomeranian atau disebut mini pom memang sudah populer di kalangan pencinta anjing. Ia tergolong anjing spitz yang berasal dari wilayah Pomerania, Eropa Utara yang kemudian menjadi namanya menjadi besar di daerah Jerman dan Norwegia hingga seluruh belahan dunia. Sejumlah tokoh jaman dahulu seperti Teolog Martin Luther, Michelangelo, Mozart hingga Isaac Newton pernah memiliki anjing pomeranian ini.
Memiliki Fisik Menggemaskan
Dengan tinggi 7 hingga 12 inchi dan berat 3 hingga 7 pon tentu sangat menggemaskan bukan? Anjing ini sangat mudah untuk dibawa ke mana-mana. Contohnya Vivy dan Monsieur yang sering dibawa Sehun ke lokasi syuting. Bahkan keduanya pernah berkesempatan tampil masing-masing pada MV dengan Sehun EXO.
Selain itu, keunggulan fisiknya adalah memiliki bulu tebal dan bertekstur juga beraneka ragam warna. Anjing pomeranian memiliki warna dasar seperti umumnya putih, hitam, coklat. Namun, pada kasus tertentu dapat juga bercampur menjadi satu pola dari beberapa warna. Seperti Tannie V BTS yang berwarna hitam putih, tetapi juga memiliki corak coklat pada bulu putihnya.
Penurut dan Bertingkah Lucu
Sikap penurut anjing peliharaan juga dimiliki pomeranian. Ia mudah untuk diatur dan diajak bermain oleh pemiliknya. Bahkan Jennie Blackpink sering memakaikan outfit pada Kai dan Kuma jika akan dibawa untuk menemaninya pemotretan.
Memiliki Tingkat Kesehatan yang Baik
Pada dasarnya, kesehatan pomeranian berada di tingkat yang baik. Namun, seperti peliharaan lainnya, kita perlu mewaspadai gangguan kesehatan yang rentan diderita para hewan seperti alergi, masalah mata, mulut, dyplasia, epilepsi dan lain-lain. Tentu hal ini dapat dihindari dengan cara perawatan yang tepat, selalu ajak bermain, menjaga mood dan kontrol kesehatan serta pemberian vaksin pada anjing peliharaan. Menurut laporan pettoto, vaksin yang disarankan pada anjing peliharaan saat ini pada umumnya adalah rabies, Canine Parvovirus, Canine Distemper, Canine Adenovirus bahkan Covid-19.
Bagaimana, tertarik memelihara anjing pomeranian seperti idola K-Pop bias kamu? Yuk cari dari sekarang.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
-
KiiiKiii Debut dengan Album UNCUT GEM, Ini Pesan dari Lagu Utama BTG
-
Cara Mudah Dapat Hadiah Eksklusif Event BABYMONSTER PUBG, Simak Baik-baik!
-
Bertajuk 'PopPop' NCT Wish Umumkan Comeback Album Baru pada Bulan April
-
Di Balik Euforia K-Pop: Ketika Pemujaan Idola Menjadi Pelarian dari Kesepian
-
Ayu Ting Ting Blak-blakan soal Video Dancenya yang Di-repost Jennie BLACKPINK!
Hobi
-
Mengejutkan! Maarten Paes Kritik Taktik dari Patrick Kluivert di Timnas Indonesia
-
Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik, Ini Harapan Besar Erick Thohir
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
Persija Jakarta Incar Posisi Empat Besar, Madura United akan Jadi Korban?
-
Kandaskan CAHN FC, PSM Buka Kans Akhiri Titel Juara Bertahan Puluhan Tahun Wakil Singapura
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?