Pramoedya Ananta Toer pernah berkata "Orang boleh pandai setinggi langit, Tapi selama ia tidak menulis maka ia hilang didalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Dari perkataan tersebut memiliki makna yang luar biasa dan penting untuk kita ketahui bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Menulis bukanlah pekerjaan yang harus diremehkan karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Apa maksudnya menulis untuk keabadian?. Maksudnya adalah penulis yang selama ini kamu kenal akan dikenal dan dikenang abadi oleh pembaca dan banyak orang.
Manusia memang akan meninggal dunia tetapi tulisan tak akan pernah hilang atau sirna sampai kapanpun. Meskipun penulisnya meninggal dunia tetapi dia akan dikenang abadi karena tulisan-tulisannya.
Setidaknya, penulis yang telah tiada akan dikenal sebagai penulis dan sosoknya akan dilihat dari tulisan-tulisannya. Apa yang sudah digoreskan oleh penulis dalam tulisannya, itulah ciri-ciri, karakter dan jiwa dari penulis tersebut.
Oleh karena itu, penulis itu akan abadi dibandingkan orang yang bukan penulis. Jika kamu rindu atau kangen pada seorang penulis maka baca tulisannya. Akan tetapi, jika kamu rindu atau kangen pada orang yang bukan penulis, pasti kamu tidak tahu bagaimana meluapkan rasa kangen tersebut.
Jadi, penulis maupun menulis adalah pekerjaan yang baik, mulia dan akan dikenang. Siapa saja yang mungkin menganggap remeh atau sepele dengan seorang penulis karena tak bisa membawa kekayaan dan kehidupan yang lebih dari cukup, alangkah baiknya tidak lagi beranggapan demikian.
Menjadi seorang penulis bukanlah hal yang gampang dan tidak banyak orang yang bisa menulis dan produktif menulis. Sebab itu, menjadi penulis adalah pekerjaan yang sulit.
Layak juga pekerjaan sebagai penulis ini dianugerahi sebagai pekerjaan yang abadi. Dia tak akan mati diterpa badai dan ombak tetapi akan hidup selama-lamanya karena tulisan-tulisannya yang menginspirasi.
Khusus bagi masyarakat luas harapannya mengerti makna penting menulis untuk keabadian tersebut. Hanya menjadi penulislah gelar keabadian tersebut disematkan.
Oleh karena itu, yuk, semangat untuk menulis dan belajarlah menulis demi sebuah keabadian. Ketika kita telah tiada, tapi akan dikenang abadi melalui goresan tulisan-tulisan kita.
Baca Juga
-
Tutorial Move On Setelah Mudik Supaya Bisa Kerja Lagi dengan Efektif
-
Mengapa Keputusan Negara Gagal Jika Tanpa Diskusi Publik? Menelisik Kasus BOP dan MBG
-
Menyelamatkan Akal Sehat: Penggunaan AI Berguna atau Bahaya?
-
Apa Untungnya Perang? Analisis Kerugian Tak Terhingga dari Konflik Global Saat Ini
-
Di Balik Larangan Medsos untuk Remaja: Ada Bahaya Konten Kekerasan, Hoaks, dan Bullying Online
Artikel Terkait
Hobi
-
Misi Erick Thohir Perkuat Citra Sepak Bola Nasional Lewat FIFA Series 2026
-
FIFA Series 2026: Supporter Timnas Indonesia Diminta Beri Dukungan Maksimal
-
Elkan Baggott Tiba di Jakarta, Comeback 'Anak Lanang' Bakal Jadi Pembeda?
-
Double Podium di MotoGP Brasil 2026, Jorge Martin Telah Kembali!
-
5 Tim Ini Pernah Ngerasain Jadi Juara yang Tak Dianggap: Ada Senegal dan Juventus!
Terkini
-
Ramadan Berlalu, Lebaran Usai: Bagaimana Merawat Makna Fitri di Tengah Kesibukan Sehari-hari
-
Lenovo Legion Y700 2026: Tablet Mungil yang Bikin HP Gaming Kamu Kena Mental!
-
Secuil Kebahagiaan, Soal Adrian dan Minuman Oplosan dari Kak Lita
-
Jeno NCT Mendadak Hapus Selfie: Mata Elang Netizen Temukan Vape?
-
Jebakan 'Aji Mumpung' Lebaran: Saat Harga Ikan Bakar Setara Fine Dining