Setelah diputus kontrak oleh PSSI sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia pada bulan Oktober 2026 lalu, Patrick Kluivert kini hadir dengan sebuah berita membahagiakan.
Berdasarkan informasi yang dirilis oleh laman Suara.com (17/3/2026), eks penyerang gahar milik klub Barcelona tersebut kini terkonfirmasi mengikat kontrak dengan Timnas Suriname.
Bukan sebagai pelatih, seperti yang telah dijalaninya saat membersamai Timnas Indonesia, kali ini Patrick Kluivert bergabung dengan Timnas Suriname sebagai penasihat teknis tim alias konsultan.
Laman transfermarkt.com menuliskan, jabatan baru dari pelatih yang mendapatkan julukan sebagai "El Bintang Laut" dari para pendukung Timnas Indonesia itu dimulai pada 15 Maret 2026 kemarin, dan belum ditentukan kapan berakhir.
Namun besar kemungkinan, jabatan dari Kluivert tersebut akan diperpanjang jika Timnas Suriname berhasil menggapai tiket lolos putaran final Piala Dunia 2026.
Sekadar menginformasikan, Timnas Suriname sendiri saat ini masih harus berjuang keras untuk bisa menggapai tiket putaran final Piala Dunia 2026 mendatang.
Berdasarkan jadwal yang dirilis oleh laman FIFA, mereka masih harus bertarung melawan Bolivia (26/3/2026) di fase semifinal play-off antar konfederasi, dan kemudian bertarung melawan Irak di partai penentuan terakhir.
Terlepas dari perjalanan Suriname yang masih abu-abu, bergabungnya Kluivert ke tim yang berasal dari zona CONCACAF tersebut tentunya membuat saya pribadi cukup mengernyitkan dahi.
Pasalnya, dengan kedatangan Kluivert, bisa dipastikan Timnas Suriname yang saat ini bermain cukup apik di sepanjang babak kualifikasi, akan mengalami permainan yang melesat tajam.
Sayangnya, bukan hanya melesat tajam ke atas, namun juga berpotensi bakal melesat tajam ke bawah alias terjerembab hebat!
Pemikiran ini tentunya tak memiliki dasar yang kuat. Karena dalam pandangan saya pribadi, meskipun kemampuan Kluivert tak bisa diragukan lagi ketika masih aktif sebagai seorang pemain, namun hal itu berbanding terbalik dengan saat dirinya menjadi pelatih atau orang yang berada di balik layar.
Dalam perjalanan kariernya sebagai "oknum" di balik layar seperti yang terangkum di laman transfermarkt, Kluivert sendiri pernah menjadi asisten pelatih, penasihat strategis, direktur olah raga hingga konsultan.
Namun, sebagian dari pengalaman tersebut berujung dengan pahit. Seperti misal, ketika Kluivert menjadi Direktur Olahraga klub mapan Prancis, Paris Saint Germain, dirinya hanya dipertahankan pihak klub dengan durasi kontrak satu tahun saja.
Pun ketika menjadi asisten pelatih di klub Brisbane Roar. Kluivert yang dikontrak pada tanggal 1 Januari 2010, kembali dilepas oleh klub Australia tersebut pada 30 Juni 2010 setelah menjalani tugasnya hanya dalam rentangan enam bulan saja.
Jadi, ketika Timnas Suriname memutuskan untuk mengontrak Kluivert sebagai konsultan, saya pribadi sangat terkejut. Karena seperti yang telah saya sampaikan, sebagai seorang pelatih atau ketika bekerja di balik layar, Kluivert ini belum benar-benar matang dan masih mentah.
Contoh terpahit yang bisa kita jadikan pelajaran tentu saja ketika dirinya menangani Timnas Indonesia di tahun 2025 lalu.
Ketika era Shin Tae-yong, Pasukan Garuda yang didominasi oleh pemain dengan kualitas rata-rata, berhasil menjadi salah satu kekuatan yang disegani di level benua.
Sementara ketika beralih ke tangan Kluivert, tim yang seharusnya menjadi semakin baik karena mendapatkan tambahan para pemain berkualitas hasil naturalisasi PSSI, justru berubah menjadi tim bapuk meski berisikan kumpulan pemain terbaik untuk tingkat benua.
Jadi, kita tinggal melihat, nantinya hasil kerja Patrick Kluivert ini akan membuat Timnas Suriname ini melesat ke mana.
Melesat ke atas menuju level yang lebih tinggi, atau melesat ke bawah dan menemui kegagalan seperti yang pernah dijalaninya saat bersama Timnas Indonesia di tahun lalu?
Kalau prediksi kalian bagaimana, Sobat Bola Yoursay?
Baca Juga
-
Prancis vs Senegal: Tuntasnya Dendam Kekalahan 24 Tahun yang Sempat Bikin FIFA Ubah Regulasi
-
Piala Dunia 2026: Duel Senegal Vs Prancis dan Sepenggal Kenangan Masa Remaja yang Mengecewakan
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
-
Tiga Poin Australia dan Permainan Pragmatis Ala STY yang Tak Haram Dimainkan di Guliran Piala Dunia
-
Piala Dunia 2026 dan Poin Perdana Qatar yang Sejatinya Tak Begitu Membantu Mereka di Kontestasi
Artikel Terkait
Hobi
-
Bukan Cuma Tebakan! Prediksi 5 Tim Favorit Calon Juara Piala Dunia 2026
-
Prancis vs Senegal: Tuntasnya Dendam Kekalahan 24 Tahun yang Sempat Bikin FIFA Ubah Regulasi
-
Resmi Disetujui DPR, Mengapa PSSI Ngotot Naturalisasi Pemain Liga Amatir?
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
Piala Dunia 2026: Duel Senegal Vs Prancis dan Sepenggal Kenangan Masa Remaja yang Mengecewakan
Terkini
-
Bring it On, Ghost: Horor Komedi Kompleks yang Dieksekusi Seringan Awan
-
Tayang 1 Juli di Netflix, Millie Bobby Brown Siap Kembali di Enola Holmes 3
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Gus Dur dalam Lensa Greg Barton: Potret Utuh Presiden Keempat Indonesia
-
3 Tahun Kabar Terdepan: Merajut Keberagaman, Mengawal Kebenaran