Media sosial telah mengubah cara kita memandang manusia. Seseorang yang muncul di layar ponsel sering kali tidak lagi diperlakukan sebagai individu yang memiliki perasaan, melainkan sebagai objek yang bebas dinilai, dihakimi, bahkan dihina. Entah ia seorang artis, atlet, jurnalis, kreator konten, politisi, atau sekadar orang biasa yang videonya viral, publik kerap merasa memiliki hak penuh untuk mengomentari setiap aspek kehidupannya.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan ketika batas antara kritik dan perundungan menjadi kabur. Dalih kebebasan berpendapat sering digunakan untuk membenarkan komentar yang sebenarnya tidak lagi membahas gagasan atau tindakan, melainkan menyerang fisik, keluarga, kondisi mental, hingga kehidupan pribadi seseorang. Yang lebih ironis, komentar seperti itu kerap dianggap sebagai hiburan. Semakin pedas, semakin banyak yang menyukai dan membagikannya.
Padahal, ada satu kenyataan sederhana yang sering kita lupakan. Orang-orang yang kita lihat di layar juga manusia biasa.
Mereka memiliki hati yang bisa terluka, keluarga yang ikut membaca komentar, dan kehidupan di luar sorotan kamera. Senyum yang terlihat di depan publik belum tentu menggambarkan kondisi batin mereka. Banyak figur publik yang belakangan mengaku mengalami kecemasan, depresi, bahkan memilih mengundurkan diri dari dunia yang membesarkan namanya karena tidak sanggup menghadapi tekanan komentar di dunia maya.
Masalahnya bukan semata karena internet membuat orang lebih berani berbicara. Yang lebih berbahaya adalah internet menciptakan ilusi jarak. Ketika seseorang hanya tampil sebagai foto profil atau video berdurasi satu menit, empati kita perlahan memudar. Kita lupa bahwa di balik akun itu ada manusia yang akan membaca setiap kalimat yang kita tulis.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai online disinhibition effect, yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih agresif atau tidak terkendali ketika berinteraksi secara daring dibandingkan saat bertatap muka. Kalimat yang mungkin tidak akan pernah diucapkan langsung kepada seseorang justru dengan mudah diketik dan dikirim hanya dalam hitungan detik.
Akibatnya, ruang digital dipenuhi budaya menghakimi. Kesalahan kecil diperbesar menjadi skandal. Potongan video tanpa konteks dijadikan dasar untuk menyerang karakter seseorang. Bahkan tidak sedikit orang yang menikmati "cancel culture", seolah menghancurkan reputasi orang lain adalah bentuk keadilan sosial.
Tentu, bukan berarti figur publik kebal terhadap kritik. Kritik tetap penting dalam masyarakat demokratis. Namun, kritik yang sehat selalu berfokus pada tindakan, kebijakan, atau pernyataan, bukan pada penghinaan yang merendahkan martabat seseorang. Ada perbedaan yang jelas antara meminta pertanggungjawaban dan menjadikan seseorang sasaran kebencian massal.
Lebih jauh lagi, budaya saling menghormati bukan hanya bermanfaat bagi orang yang menerima, tetapi juga bagi kualitas ruang publik kita sendiri. Ketika diskusi dipenuhi caci maki, yang hilang bukan hanya perasaan seseorang, melainkan juga kesempatan untuk berdialog secara dewasa. Percakapan berubah menjadi kompetisi mencari komentar paling kasar demi perhatian dan validasi.
Padahal, menghormati orang lain tidak membutuhkan biaya. Tidak ada harga yang harus dibayar untuk memilih kata-kata yang lebih santun. Tidak ada kerugian ketika kita menahan diri agar tidak ikut menyebarkan hinaan atau ejekan. Sebaliknya, sedikit empati dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Sebelum menekan tombol "kirim", ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika orang itu berdiri tepat di depan saya? Jika jawabannya tidak, mungkin komentar tersebut memang tidak layak ditulis.
Pada akhirnya, teknologi telah membuat dunia semakin terhubung, tetapi jangan sampai kemudahan itu menghilangkan kemanusiaan kita. Layar hanyalah perantara, bukan penghapus rasa. Di balik jutaan piksel yang kita lihat setiap hari, ada manusia yang sama-sama ingin dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan hormat.
Empati bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa kita masih mampu melihat manusia sebagai manusia. Sebab, rasa hormat adalah salah satu bentuk kebaikan yang paling sederhana sekaligus paling murah. Semua orang mampu memberikannya, tetapi tidak semua orang memilih melakukannya.
Baca Juga
-
Hutan Hilang, Sawit Tumbuh: Bisakah Ini Disebut Berkelanjutan?
-
Berita Buruk Bukan Sekadar Kabar: Di Balik Layar Ada Orang yang Menderita
-
Tugas Guru Itu Mengajar, Bukan Menjadi Petugas Pemeriksa MBG
-
BPS vs Bank Dunia: Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Bisa Berbeda Jauh?
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?
Artikel Terkait
Kolom
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
-
Gajian Tiap Bulan, tapi Takut Kehabisan Uang: Inikah Realitas Dunia Kerja?
-
Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Terkini
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Relatable! Ini Alasan Novel Harga Teman Cocok Dibaca Pejuang Quarter-Life Crisis
-
Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif