Bagi pencinta otomotif, terutama penggemar kultur JDM, Mazda RX-7 VeilSide milik Han di film The Fast and the Furious: Tokyo Drift masih jadi salah satu mobil paling ikonik hingga sekarang. Bahkan meski filmnya sudah rilis sejak 2006, aura mobil ini belum juga pudar.
Nama Han Lue memang lekat dengan mobil berwarna oranye hitam tersebut. Saat suara knalpot meraung dan mobil meluncur sambil drift di jalanan Tokyo, banyak penonton langsung jatuh hati pada RX-7 berbody kit ekstrem itu.
Mobil yang digunakan Han dalam film tersebut berbasis Mazda RX-7 generasi ketiga atau FD3S. Ini merupakan sport car legendaris Jepang yang dikenal memakai mesin rotary 13B-REW twin turbo.
Secara standar, Mazda RX-7 FD punya tenaga sekitar 255 hingga 280 hp, penggerak roda belakang (RWD), serta bobot ringan di kisaran 1,2 ton. Kombinasi itu membuat mobil ini terkenal lincah dan cocok dipakai drifting.
Salah satu hal yang membuat RX-7 begitu terkenal adalah penggunaan mesin rotary. Berbeda dari mesin piston biasa, mesin rotary memakai rotor berbentuk segitiga yang berputar di dalam ruang bakar. Teknologi ini membuat karakter putaran mesin terasa halus, responsif, dan mampu menghasilkan tenaga besar dari kapasitas kecil.
Selain itu, suara khas “Brap Brap Brap!” yang sering dikaitkan dengan RX-7 umumnya muncul dari mesin rotary yang sudah dimodifikasi. Bunyi tersebut biasanya berasal dari setelan bridge port atau peripheral port, yakni modifikasi jalur masuk udara yang membuat aliran udara dan pembakaran menjadi lebih agresif.
Kombinasi mesin rotary, putaran tinggi, dan sistem knalpot performa membuat suara RX-7 terdengar sangat khas. Karena itu, banyak pencinta mobil bisa langsung mengenali suara rotary hanya dari raungan mesinnya.
Namun daya tarik utama mobil Han bukan hanya dari mesin, melainkan body kit VeilSide Fortune yang membuat tampilannya berubah total. VeilSide sendiri merupakan rumah modifikasi ternama asal Jepang yang dikenal sering membuat body kit ekstrem untuk mobil-mobil JDM.
Paket VeilSide Fortune untuk RX-7 mengubah hampir seluruh tampilan mobil. Fender dibuat sangat lebar, bumper depan agresif, side skirt besar, kap mesin baru, hingga buritan yang terlihat seperti mobil futuristis.
Tak sedikit penggemar menyebut RX-7 VeilSide milik Han sebagai salah satu mobil film terbaik sepanjang masa. Sebab, desainnya langsung dikenali bahkan oleh orang yang bukan pencinta otomotif.
Soal harga, body kit VeilSide Fortune asli kini tergolong mahal. Di pasar internasional, kit lengkap bisa dibanderol sekitar Rp350 juta hingga Rp700 juta, tergantung kondisi dan kelengkapan.
Sementara harga Mazda RX-7 FD3S sendiri juga terus naik karena statusnya sebagai mobil kolektor. Unit standar dalam kondisi bagus bisa menyentuh Rp900 juta sampai Rp1,8 miliar.
Jika sudah dimodifikasi rapi dengan body kit VeilSide dan komponen performa lain, nilainya bisa tembus miliaran rupiah. Karena itu, memiliki RX-7 VeilSide ala Han masih jadi mimpi banyak anak JDM.
Lebih dari sekadar mobil, RX-7 VeilSide adalah simbol era emas film balap jalanan. Tak heran, setiap terdengar suara “Brap Brap Brap!”, banyak orang langsung teringat Han dan Tokyo Drift.
Baca Juga
-
Tablet Samsung Murah Tapi Udah Dapet S Pen? Galaxy Tab S10 Lite Jawabannya
-
Tak Banyak yang Tahu, Surat Kartini Justru Pertama Kali Berbahasa Belanda
-
Tampil bak Range Rover, Jaecoo J5 EV Ternyata Dibanderol Rp200 Jutaan
-
Di Balik Rasa Takut Jadi Dewasa: Cerita Idgitaf di Lagu 'Mungkin di Depan Buram'
-
Bocoran HP Lipat Pertama iPhone Hadir Bareng iPhone 18 Pro, Ini Prediksinya
Artikel Terkait
Hobi
-
Gelar Juara Dunia Terbuka, Jorge Martin Tak Menolak Jika Ada Kesempatan
-
Karier Tak Menentu, Bali United Bakal Pinjamkan Jens Raven Musim Depan?
-
Jadwal MotoGP Jerez 2026: Usai Libur Panjang, Tim Mana yang akan Bersinar?
-
Dean Zandbergen dan Skandal Paspoortgate: Mengapa Striker VVV-Venlo Ini Tetap Ingin Bela Indonesia?
-
Marc Marquez Tunda Perpanjangan Kontrak, Ducati Sudah Cari Pengganti?
Terkini
-
Fenomena 'Ah Tapi' dalam Dilema Pilih-Pilih Loker: Realistis atau Gengsi?
-
Saat Teknologi Memburu Manusia: Teror Nanopartikel dalam Novel Prey
-
Lelaki yang Mengajakku Terjun dari Atas Menara
-
Hari Bumi 2026: Refleksi di Tengah Kepungan Kabut dan Ancaman Karhutla
-
Quiet Quitting: Bentuk Perlawanan atau Keputusasaan Atas Beban Kerja?