Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Pertandingan antara Timnas Iran melawan Selandia Baru di Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Beberapa hari pasca dimulai, atmosfer Piala Dunia 2026 masih juga belum terasa meriah. Hingga setengah dari grup yang ada, yang berjumlah sampai 12 grup itu, memainkan laga perdana mereka, vibes meriah seperti perhelatan Piala Dunia edisi sebelumnya belum juga nampak, terutama dalam kehidupan sehari-hari yang bersinggungan dengan masyarakat luas.

Harus diakui, minimnya atensi publik sepak bola dunia kepada perhelatan sepak bola kasta tertinggi milik FIFA tersebut disebabkan oleh banyak hal. Banyak kalangan berpendapat bahwa kondisi ekonomi dan geopolitik dunia yang sedang tak baik-baik saja, menjadi penyebab utama dari merosotnya minat warga dunia terhadap turnamen ini.

Ditambah lagi, guliran Piala Dunia 2026 ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di tiga negara tuan rumah sekaligus, yang mana tiga-tiganya dalam pandangan saya memiliki catatan minus sendiri-sendiri sebagai negara tuan rumah.

Namun demikian, di tengah vibes Piala Dunia 2026 yang masih terkesan anyep hingga hampir sepekan dimulai, sejatinya FIFA memiliki dua "senjata pamungkas" yang bisa mereka maksimalkan untuk mendongkrak animo masyarakat dunia terhadap penyelenggaraan turnamen.

Saya pribadi yakin, jika FIFA berhasil memaksimalkan dua potensi ini setidaknya mulai saat ini, vibes Piala Dunia 2026 akan menjadi jauh lebih meriah dan tak lagi adem-ayem dan hambar seperti saat ini.

1. Penambahan Jumlah Kontestan: Serang Basis para Pendukung

Senjata pertama yang bisa dimaksimalkan oleh FIFA untuk bisa meningkatkan animo masyarakat dunia terhadap gelaran FIFA World Cup 2026 ini adalah jumlah warga negara yang menjadi peserta kontestasi. Seperti yang telah kita ketahui bersama, pada gelaran Piala Dunia tahun ini, FIFA memutuskan untuk menambah jumlah kontestan.

Jika pada edisi terakhir pada tahun 2022 di Qatar lalu jumlah negara peserta dibatasi di angka 32 saja, maka di edisi 2026 ini bertambah menjadi 48 negara, yang mana jumlah itu berarti meningkat hingga 50 persen dari keseluruhan kontestan sebelumnya.

Asumsi kasarnya adalah, jika ada penambahan jumlah peserta di putaran final, maka sudah pasti jumlah para pendukungnya akan bertambah pula. Dengan semangat nasionalisme dan kebanggan yang mereka miliki, saya yakin, rakyat dari negara-negara yang saat ini lolos ke putaran final turnamen, akan menjadi ladang promosi yang empuk bagi FIFA untuk digarap.

Berbeda dengan negara-negara lain yang tak lolos, warga negara para kontestan ini sudah pasti akan menjadi basis pendukung bagi negaranya. Sudah pasti mereka akan mati-matian menjadi pendukung negara sendiri di turnamen ini.

Bahkan bukan tak mungkin, meskipun nantinya negara mereka terhentikan langkahnya, mereka akan terus mengikuti jalannya perhelatan karena sudah pasti mereka memiliki tim opsi kedua yang didukung.

Ilustrasinya begini, ketika Indonesia menjadi kontestan Piala Dunia, maka para suporter Indonesia pasti opsi pertama untuk mereka dukung adalah Indonesia. Namun selain mendukung Indonesia, mereka juga punya tim favorit lainnya seperti Inggris, Jerman, Portugal, Spanyol, Argentina ataupun negara-negara lainnya untuk didukung.

Dan hal ini akan terus sudah pasti akan terus berlanjut. Vibes Piala Dunia 2026 yang sudah terbangun sedari awal saat mereka mendukung negara masing-masing, akan terus berlanjut meskipun negaranya telah gugur karena mereka pasti akan beralih untuk mendukung negara favoritnya itu untuk menjadi juara.

Basis-basis suporter seperti inilah yang harus digarap dan dimaksimalkan untuk menjadi semacam "titik pemicu" untuk menyebarkarluaskan vibes Piala Dunia 2026 ini. Terlebih lagi, secara jumlah, dengan bertambahnya jumlah kontestan di Piala Dunia 2026 ini, setidaknya basis dukungan terhadap tim-tim yang berlaga bertambah menjadi lebih banyak titik negara bukan?

Saya yakin, jika FIFA bisa memanfaatkan momentum ini, dan terus "menyuplai" secara masif berita-berita tentang gelaran Piala Dunia 2026 dengan mengulik sisi-sisi menarik yang terjadi di gelaran (apalagi yang berkaitan dengan negara mereka), vibes meriah yang sudah terbangun itu pasti akan terus terjaga, dan bahkan bisa menyebar serta dirasakan ke negara-negara lain yang tak turut menjadi peserta. 

2. Kemajuan Teknologi yang Sangat Pesat

Selain menyerang basis pendukung di negara masing-masing dan menyebarkan vibes kemeriahan gelaran melalui mereka, FIFA sebenarnya juga punya senjata lain yang bisa dimaksimalkan agar gelaran lebih bergemuruh.

Kemajuan teknologi yang saat ini sudah demikian pesatnya, membuat seluruh informasi dari belahan dunia mana pun bisa tersampaikan bahkan hingga titik-titik terjauh sekalipun.

Sekarang coba kita bayangkan, dengan kekuatan finansial unlimited yang dimiliki oleh FIFA, mereka seharusnya bisa dengan mudah menyebarkan berita, artikel, highlight, video pertandingan atau apa pun itu yang berkaitan dengan Piala Dunia 2026 dengan jauh lebih mudah.

Dengan masifnya pemberitaan-pemberitaan tentang gelaran Piala Dunia, tentu saja akan semakin banyak khalayak ramai yang membahasnya di berbagai kesempatan maupun di berbagai tempat, sehingga pada akhirnya akan memantik munculnya atmosfer Piala Dunia di lingkungan mereka.

Sejatinya, cara ini sedikit-banyak sudah dilakukan oleh FIFA melalui media-media mainstream di berbagai negara, terutama yang menjadi partner mereka.

Namun sayangnya, di kalangan pengguna perorangan, pembahasan tentang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 ini masih tak terlalu terlihat. Forum-forum online maupun media sosial masih sangat sedikit yang membahas hal ini. Malah justru yang muncul di berbagai media sosial adalah pembahasan berisi pembenaran bahwa guliran turnamen kali ini memang sepi dan tak semeriah gelaran yang terdahulu.

Padahal secara logika, dengan semakin berkembangnya teknologi yang dipakai manusia saat ini, vibes Piala Dunia seharusnya bisa cepat menyebar dan terbangun sampai di tataran individu maupun daerah yang lebih terpelosok.

Bagi saya, kondisi di lapangan yang tak begitu peduli dengan gelaran sekelas Piala Dunia menjadi sebuah ironi tersendiri. Pasalnya, dengan kemajuan zaman dan teknologi saat ini, Piala Dunia harusnya jauh lebih meriah karena bisa langsung dinikmati sampai level perorangan.

Masak, ketika dulu orang-orang masih mengandalkan televisi dan koran yang jangkauannya tak seluas sekarang, atmosfer Piala Dunianya masih jauh lebih terasa ketimbang saat ini yang ibarat kata setiap orangnya sudah bisa "menggenggam" informasi?

Dalam pandangan saya, jika dalam waktu yang singkat ini FIFA tak bisa benar-benar menggarap dengan maksimal dua bidang ini, akan sangat mungkin kemeriahan Piala Dunia 2026 ini tak akan bisa menyamai edisi yang sudah-sudah dan menimbulkan sebuah ironi tersendiri.

Padahal, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 ini sudah memiliki modal yang jauh lebih cukup untuk bisa lebih meriah ketimbang yang dulu-dulu.

Pasalnya, selain sudah didukung dengan teknologi yang jauh lebih mutakhir, Piala Dunia edisi kali ini juga menjangkau lebih banyak basis suporter loyal, mengingat bertambahnya jumlah kontestan hingga 50 persen dari edisi sebelumnya.